Pemerintah Berdayakan Purna PMI dengan Keterampilan Kembangkan Usaha di Era Digital
3 min read
JAKARTA – Kembali ke daerah asal setelah bekerja di luar negeri bukan berarti berhenti berkarya. Pengalaman, keterampilan, dan modal yang dimiliki Purna Pekerja Migran Indonesia dapat menjadi bekal untuk membangun usaha dan memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.
Semangat tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan pemberdayaan ekonomi bagi Purna Pekerja Migran Indonesia melalui fasilitasi pengembangan dan pembinaan usaha yang dilaksanakan pemerintah melalui Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Daerah Istimewa Yogyakarta pada 8-10 September 2026 di Kantor Kalurahan Gadingsari, Kapanewon Sanden, Kabupaten Bantul.
Kegiatan diikuti 10 orang peserta yang merupakan Purna Pekerja Migran Indonesia dari tiga kalurahan yang menjadi bagian dari Desa Migran EMAS di Kabupaten Bantul, yaitu Kalurahan Gadingsari, Trimurti, dan Caturharjo.
Selama tiga hari, peserta tidak hanya mendapatkan materi mengenai pengembangan usaha, tetapi juga dibekali keterampilan yang dapat langsung diterapkan dalam menjalankan dan memasarkan produk. Pelatihan difokuskan pada digital marketing serta teknik foto dan video produk, dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang.
Dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul, peserta mendapatkan penguatan mengenai pengembangan usaha dan ketenagakerjaan. Sementara itu, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Bantul memberikan pendampingan dalam proses pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai salah satu aspek penting dalam legalitas usaha.
Dukungan juga diberikan dari sektor perbankan. Bank Mandiri memberikan pendampingan mengenai pembuatan rekening serta pengenalan Livin’ Merchant sebagai salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha dalam mendukung transaksi dan pengelolaan usaha secara digital.
Peserta juga mendapatkan wawasan mengenai peluang usaha melalui materi Toko Mandiri Indogrosir yang disampaikan oleh Indogrosir. Materi tersebut memberikan gambaran mengenai peluang pengembangan usaha perdagangan yang dapat disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masyarakat di lingkungan masing-masing.
Selain materi teknis, peserta memperoleh motivasi dari Purna Pekerja Migran Indonesia yang telah berhasil mengembangkan usaha setelah kembali ke Indonesia. Bambang Sutrisno, pemilik usaha Jempol Food, berbagi pengalaman mengenai proses membangun usaha dan bagaimana pengalaman sebagai Purna Pekerja Migran Indonesia dari negara penempatan Korea Selatan dapat menjadi modal untuk berusaha di daerah asal.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat memberikan perspektif bahwa keberhasilan bekerja di luar negeri dapat dilanjutkan dengan membangun aktivitas ekonomi yang produktif setelah kembali ke tanah air.
Pada aspek pemasaran, Bob Studio memberikan materi mengenai teknik foto dan video produk. Peserta diajak memahami cara menghasilkan foto dan video yang menarik dengan memanfaatkan peralatan sederhana yang dimiliki sehingga produk yang ditawarkan dapat tampil lebih baik ketika dipromosikan melalui media digital. Pada sesi materi dengan Bob Studio, masing-masing peserta mendapatkan paket peralatan dari BP3MI Daerah Istimewa Yogyakarta yang digunakan untuk pengambilan foto dan video. Paket tersebut berupa alas foto produk, lampu foto LED dan holder handphone.
Materi kemudian diperkuat oleh instruktur dari Balai Latihan Kerja (BLK) Sleman melalui pelatihan digital marketing. Peserta diperkenalkan pada strategi memanfaatkan media digital untuk memperluas jangkauan pemasaran, membangun komunikasi dengan calon konsumen, serta menyusun konten yang relevan dengan produk yang ditawarkan.
Kepala BP3MI Daerah Istimewa Yogyakarta, Muhammad Ilyas Prakananda, secara terpisah mengatakan pemberdayaan ekonomi merupakan bagian penting dalam mendukung Purna Pekerja Migran Indonesia agar mampu mengembangkan potensi yang dimiliki setelah kembali ke daerah asal.
“Kami ingin Purna Pekerja Migran Indonesia tidak berhenti pada pengalaman bekerja di luar negeri, tetapi dapat melanjutkan pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang produktif. Karena itu, pembinaan usaha kami lengkapi mulai dari legalitas, akses perbankan, peluang usaha, motivasi, sampai kemampuan memasarkan produk secara digital,” ujar Ilyas.
Menurutnya, perkembangan teknologi memberikan peluang yang semakin luas bagi pelaku usaha, termasuk usaha yang dirintis dari tingkat desa. Kemampuan membuat konten dan memasarkan produk melalui media digital diharapkan dapat membantu Purna Pekerja Migran Indonesia menjangkau konsumen yang lebih luas.
Pelaksanaan kegiatan di Kalurahan Gadingsari juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pemberdayaan masyarakat di wilayah Desa Migran EMAS. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pelatihan, dan pelaku usaha diharapkan dapat memberikan pendampingan yang lebih menyeluruh bagi Purna Pekerja Migran Indonesia.
Melalui kegiatan tersebut, BP3MI Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong agar keterampilan dan pengalaman yang diperoleh Purna Pekerja Migran Indonesia selama bekerja di luar negeri dapat terus dikembangkan menjadi modal untuk membangun usaha, memperkuat ekonomi keluarga, serta memberikan manfaat bagi lingkungan di daerah asal. []
