April 2, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Penyakit Hati yang Sering Diabaikan

2 min read

JAKARTA – Dalam kehidupan yang serba cepat ini, manusia sering sibuk memperbaiki penampilan luar, namun lalai memperhatikan kondisi hati atau batinnya.

Padahal hati adalah pusat segala amal. Jika hati baik, maka baiklah seluruh perbuatan. Namun jika hati rusak, maka rusaklah seluruh kehidupan. Penyakit hati sering dianggap remeh, padahal dampaknya sangat besar terhadap hubungan manusia dengan Allah dan sesama.

Hati yang bersih adalah kunci keselamatan. Allah ﷻ berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89).

Ayat ini menegaskan bahwa keselamatan bukan terletak pada dunia, melainkan pada kebersihan hati dari penyakit-penyakit yang tersembunyi.

Penyakit Hati

Di antara penyakit hati yang paling halus adalah riya. Ia merusak amal tanpa terasa. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ

قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟

قَالَ: الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya: “Apa itu syirik kecil?” Beliau menjawab: “Riya.” (HR. Ahmad).

Riya menjadikan ibadah kehilangan ruhnya, karena niat berpaling dari Allah kepada manusia. Kemudian hasad, yaitu tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat.

Allah ﷻ memperingatkan:

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

“Ataukah mereka dengki kepada manusia karena karunia yang Allah berikan kepadanya?” (QS. An-Nisa: 54).

Hasad adalah api yang membakar pahala, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud).

Ujub dan takabur sering berjalan beriringan. Ujub membuat seseorang merasa hebat, sementara takabbur membuatnya merendahkan orang lain.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).

Kesombongan bahkan menjadi sebab terusirnya Iblis dari rahmat Allah.

Gibah dan suuzan juga termasuk penyakit yang merusak hubungan sosial. Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ… وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka… dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Gibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri, sebuah gambaran yang sangat mengerikan untuk menyadarkan manusia.

Kikir adalah tanda lemahnya iman terhadap rezeki Allah. Padahal Allah berjanji:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ

“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba: 39).

Orang yang kikir sebenarnya bukan menyelamatkan hartanya, melainkan mengikat dirinya dalam kecemasan dunia.

Perbanyaklah Mengingat Allah

Yang paling berbahaya adalah lalai dari zikir. Hati yang kosong dari mengingat Allah akan mudah dipenuhi penyakit.

Allah ﷻ berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Zikir adalah obat, cahaya, sekaligus penjaga hati dari kerusakan.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan pentingnya hati dalam sabdanya:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka perjalanan hidup sejatinya adalah perjalanan membersihkan hati. Setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki niat, mengikis iri, meruntuhkan kesombongan, dan memperbanyak zikir. Hati yang hidup akan selalu merasa diawasi Allah, takut berbuat dosa, dan rindu berbuat kebaikan.

Semoga kita termasuk orang-orang yang terus berusaha membersihkan hati, karena hanya hati yang bersih yang mampu melihat kebenaran dengan jernih dan menghadap Allah dengan penuh ketenangan. []

Penulis :  Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply