March 26, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Perang Iran Mengancam Raibnya Miliaran Dolar Remitansi Pekerja Migran

4 min read

JAKARTA – Saat negara-negara Arab kaya di Teluk Persia menjadi sasaran drone dan rudal Iran, gangguan ekonomi berkepanjangan akibat perang Iran berpotensi mengancam ratusan miliar dolar remitansi yang setiap tahun dikirim pulang oleh jutaan pekerja migran Asia Selatan di kawasan tersebut.

Sebagian besar dari mereka berasal dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Selama puluhan tahun mereka turut mendorong ledakan ekonomi negara-negara Teluk, dengan bekerja di sektor konstruksi, perhotelan, pariwisata, dan layanan kesehatan.

Uang yang mereka kirimkan ke tanah air tidak hanya menjadi sumber penghasilan penting bagi keluarga mereka, tetapi juga menjadi salah satu sumber utama pemasukan devisa bagi India, Pakistan, dan Bangladesh. Remitansi ini berfungsi sebagai bantalan finansial bagi perekonomian negara-negara tersebut serta membantu menutup defisit perdagangan.

Dengan infrastruktur energi yang menjadi sasaran serangan serta jalur transit minyak dan gas yang terhambat di Selat Hormuz, kombinasi harga energi yang tinggi dalam waktu lama dan penurunan remitansi dapat menjadi ancaman ganda bagi ekonomi negara-negara berkembang tersebut.

Remitansi menjadi urat nadi ekonomi negara Asia Selatan seperti India

India merupakan penerima remitansi terbesar di dunia, dengan aliran dana mencapai rekor 135 miliar dolar AS (sekitar Rp2,1 kuadriliun) pada 2025, menurut data pemerintah.

Pada tahun sebelumnya, India menerima hampir 40 miliar dolar remitansi dari negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) saja, atau sekitar 38% dari total arus masuk remitansi. Dana miliaran dolar itu membantu membiayai sebagian besar defisit perdagangan barang India, menurut data tersebut.

India juga menjadi sumber pekerja asing terbesar di kawasan Teluk, dengan lebih dari 9 juta warga India tinggal dan bekerja di sana.

Bangladesh dan Pakistan menyusul, masing-masing mengirim sekitar 5 juta pekerja ke negara-negara GCC. Para pekerja ini menyumbang sebagian besar dari 30 miliar dolar remitansi Bangladesh dan 38 miliar dolar remitansi Pakistan tahun lalu.

Ancaman bagi pekerja migran di negara-negara Teluk

Perang tersebut juga meningkatkan risiko bagi warga sipil di seluruh kawasan GCC, termasuk pekerja migran.

Di seluruh wilayah itu, setidaknya 11 warga sipil tewas dan lebih dari 260 orang terluka, sebagian akibat puing-puing yang jatuh, menurut siaran pers Human Rights Watch (HRW) pada 17 Maret.

“Warga sipil, terutama pekerja migran di negara-negara Teluk, terancam, terbunuh, dan terluka akibat drone dan rudal Iran,” kata Joey Shea, peneliti senior HRW untuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Setidaknya tiga pekerja Pakistan tewas di Uni Emirat Arab, termasuk seorang pria yang terkena puing-puing dari serangan drone.

Meski menghadapi bahaya, sebagian besar ekspatriat Asia Selatan di Teluk tampaknya tetap bertahan, tanpa laporan adanya eksodus massal.

“Kelangsungan ekonomi lebih penting daripada risiko yang dirasakan bagi sebagian besar pekerja,” kata Harsh Pant, kepala program studi strategis di Observer Research Foundation (ORF), lembaga pemikir di New Delhi, kepada DW.

Menurutnya, sebagian besar pekerja India di Teluk menilai situasi saat ini sebagai “sementara dan masih dapat dikelola kecuali terjadi eskalasi dramatis.”

Namun, bahkan jika para pekerja tetap tinggal, risiko jangka panjangnya adalah pekerjaan mereka mungkin tidak bertahan, terutama jika perang berlangsung selama berbulan-bulan. Guncangan paling cepat sejauh ini dirasakan di sektor yang banyak mempekerjakan migran seperti penerbangan dan pariwisata.

Meski demikian, selain beberapa gangguan dalam sistem pembayaran akibat lonjakan transfer karena kepanikan, perang sejauh ini belum berdampak pada arus remitansi.

Belum ada guncangan remitansi

“Durasi konflik sejauh ini terlalu singkat untuk secara serius memengaruhi lapangan kerja pekerja migran atau transfer remitansi mereka,” kata Rajiv Biswas, CEO perusahaan riset risiko makroekonomi dan geopolitik Asia-Pacific Economics yang berbasis di Singapura, kepada DW. Ia menilai kemungkinan perang berkepanjangan masih rendah.

“Namun, jika konflik ini menjadi lebih panjang dan berlangsung berbulan-bulan, maka semakin besar kemungkinan pekerjaan pekerja migran akan terdampak, karena sektor-sektor utama seperti pariwisata dan penerbangan komersial akan mengalami kerugian ekonomi yang semakin besar,” ujarnya.

Analis ORF, Pant, mengatakan bahwa bagi India, beberapa perkiraan menunjukkan penurunan remitansi dari Teluk sebesar 10% hingga 20% dapat berarti kehilangan 5 hingga 10 miliar dolar per tahun.

Jika perang hanya berlangsung beberapa minggu, ekonomi negara-negara Teluk diperkirakan mengalami penurunan PDB sekitar 1% hingga 2%, yang berarti remitansi turun sekitar 5%, menurut perkiraan Capital Economics, lembaga analisis berbasis di London.

Namun, jika konflik berlangsung tiga bulan atau lebih dan merusak infrastruktur energi kawasan secara signifikan, laporan tersebut memperingatkan bahwa PDB negara-negara Teluk bisa turun 10% hingga 15% dan remitansi sekitar 30%.

Konflik Iran berkepanjangan menimbulkan tantangan

Biswas memiliki pandangan serupa.

“Dalam skenario perang berkepanjangan, yang masih memiliki probabilitas rendah, remitansi pekerja migran dapat mulai menurun jika konflik berlangsung selama berbulan-bulan,” katanya. “Seberapa cepat arus remitansi pulih akan bergantung pada seberapa cepat sektor utama ekonomi GCC seperti pariwisata internasional dan penerbangan komersial dapat bangkit kembali.”

Meski konflik berkepanjangan dapat menimbulkan tantangan besar, Biswas menekankan bahwa penurunan remitansi dalam jangka pendek kemungkinan tidak akan berdampak signifikan secara makroekonomi terhadap permintaan domestik maupun posisi neraca eksternal India, Pakistan, atau Bangladesh.

Untuk saat ini, ancaman ekonomi utama dari perang Iran bagi negara-negara tersebut justru berasal dari gangguan pengiriman minyak, LNG, dan pupuk melalui Selat Hormuz. Namun, jika penurunan remitansi berlangsung lama, tekanan ekonomi di Asia Selatan bisa semakin dalam.[]

Penulis Raka Susanto

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply