October 7, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Perilaku “Oversharing” di Sosial Media Bisa Berdampak Buruk, Ingat, Internet Bukan Terapis

2 min read

JAKARTA – Kemajuan teknologi dan peran sosial media membuat gaya hidup orang berubah. Kini bukan hanya memanfaatkan untuk usaha, tetapi banyak yang memanfaatkan media sosial sebagai ajang pamer aktivitas dan kemewahannya.

Adanya sosial media, bahkan memicu banyak orang memiliki perilaku oversharing. Dari perilaku oversharing, banyak dari segelintiran postingannya, agar disukai dan dikomentari.

Relawan Mafindo, Dosen Praktisi, HR Professional, Rovien Aryunia, S.Pd., M.PPO, M.M melihat karena hal inilah, individu merasa senang dan lega setelah sharing di media sosial dan mendapat perhatian. Tetapi juga tidak sedikit, ada yang menjadi tidak percaya diri karena tidak mendapat perhatian.

“Perilaku oversharing bisa berdampak negatif. Seseorang akan kehilangan privasi dan memudahkan kejahatan di ruang publik. Kesehatan mental dapat menurun dan menimbulkan kecemasan, karena selalu berharap mendapat banyak likes atau komentar  dari setiap postingan. Reputasi pun terancam rusak,” kata Rovien dalam webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok masyarakat di wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, belum lama ini.

Dalam hal ini, Rovien menyampaikan bahwa kemudahan teknologi terkadang membuat seseorang kebablasan berekspresi. Terkadang tidak bisa mengontrol tentang apa yang penting dan diperlukan dalam menshare informasi.

Pada intinya, Rovien mengatakan, netizen bebas berpendapat, membagikan apa saja di ruang digital melalui media sosial atau aplikasi percakapan, tapi tidak pernah terbebas dari konsekuensi hukum maupun sosial. Karena itu, sebaiknya hindari oversharing atau sharing berlebihan.

“Posting detail kehidupan pribadi, media sosial menjadi tempat melampiaskan emosi, hingga posting foto/video yang privasi. Perilaku-perlaku oversharing tersebut banyak ditemui di media sosial sekarang ini,” jelas Rovien.

“Internet bukan terapis, piskolog, tempat curhat, Jangan mempermalukan orang lain, jangan ganggu privasi orang lain. Bagikan hal penting saja, jangan berlebihan. Berikan informasi bermanfaat atau menginspirasi bagi orang lain,” tambah Rovien.

Mengenai masalah ini, Kemenkominfo tidak pernah berhenti mengoptimalkan program cakap digital kepada masyarakat. Agar apa? agar masyarakat lebih cerdas dan bijak dalam bermedia sosial. Ya, salah satu yang dioptimalkan pemerintah yakni bekerjasama bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi untuk berkolaborasi dalam mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital.[]

Advertisement
Advertisement