June 22, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Peringati Hari Media Sosial, Seperti Apa Perilaku Netizen Indonesia ?

3 min read

JAKARTA – Setiap tanggal 10 Juni diperingati sebagai Hari Media Sosial di Indonesia. Ini adalah tahun keenam sejak peringatan ini pertama kali dimulai tahun 2015 lalu. Ngomong-ngomong, untuk apa ya media sosial diperingati?

Adalah Handi Irawan, CEO Frontier Group, yang pertama kali menggagas Hari Media Sosial. Ide ini muncul karena Handi melihat fenomena penggunaan media sosial di Indonesia. Esensi dari peringatan ini sebenarnya cukup sederhana, yaitu bertujuan untuk mengedukasi warganet di Indonesia agar memanfaatkan media sosial secara positif.

Hari Media Sosial bisa dimanfaatkan sebagai momen untuk saling mengingatkan agar kita semua selalu berperilaku bijak dalam menggunakan media sosial.

 

Warganet Indonesia dinilai tidak sopan

Microsoft merilis laporan terbaru mereka soal pengukuran tingkat kesopanan warganet berjudul 2020 Digital Civility Index (DCI). Pihaknya membuat survei yang mengukur tingkat kesopanan digital para pengguna internet saat berkomunikasi di dunia maya selama kurun waktu April-Mei 2020.

Survei ini melibatkan 16 ribu responden usia remaja dan dewasa tentang interaksi mereka di media sosial serta melihat pengalaman mereka dalam menghadapi risiko daring. Risiko daring yang dimaksud termasuk paparan kabar hoaks, ujaran kebencian, penipuan, hingga diskriminasi di internet.

Dari hasil laporan, Indonesia menempati ranking ke-29 dari 32 negara yang diteliti Microsoft. Indonesia menempati posisi terbawah di Asia Tenggara yang berarti termasuk warganet yang tidak sopan di media sosial.

Bila dilihat secara global, Belanda menduduki peringkat teratas sebagai negara dengan warganet paling sopan. Singapura berada di posisi teratas di Asia secara umum dan Asia Tenggara, serta berada di posisi keempat secara global.

Di Indonesia, yang menjadi risiko terbesar warganet adalah hoaks dan penipuan yang naik 13 persen, ujaran kebencian naik lima persen, dan diskriminasi turun dua persen.

 

Menjadi warganet yang bijak dalam menggunakan media sosial

Pada Januari 2020, perusahaan asal Inggris, We Are Social, mengungkapkan bahwa 175,4 juta penduduk Indonesia telah menggunakan internet dan 160 juta telah menggunakan media sosial dari total 272,1 juta keseluruhan penduduk. Ini berarti sekitar 59% jumlah penduduk Indonesia yang aktif di media sosial.

Dari keseluruhan pengguna media sosial, Youtube menjadi platform yang paling diminati di Indonesia dengan 88 persen, kemudian ada WhatsApp 84 persen, Facebook 82 persen, Instagram 79 persen, Twitter 56 persen, dan Line 50 persen.

Dari total pengguna medsos itu, Youtube menjadi platform yang paling banyak diakses di Indonesia dengan 88%, diikuti Whatsapp 84%, Facebook 82%, Instagram 79, Twitter 56%, dan Line 50%.

Menggunakan media sosial memang menyenangkan. Banyak hal yang bisa didapatkan di media sosial, mulai dari hiburan, edukasi, informasi, atau sekadar berhubungan dengan orang-orang di seluruh dunia.

Bila dilakukan dengan bijak, media sosial akan menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi banyak pihak. Ya, meski sebenarnya tak ada aturan resmi tentang bagaimana kita harus bersikap di media sosial. Ini kembali lagi kepada konteks menjadi warganet yang baik, saling menghargai, dan menjadikan media sosial sebagai wadah positif bagi semua orang.

Cara menjadi warganet yang bijak tidak sulit kok. Mengutip Pikiran-Rakyat.com, Anda hanya perlu melatih komunikasi, menahan diri untuk tidak berkomentar negatif, dan jangan sampai menyinggung perasaan orang lain.

Kemudian, tak lupa untuk menghindari penyebaran konten berbau SARA, selalu memastikan kebenaran suatu informasi sebelum disebarkan, menghargai hasil karya orang lain, serta selalu berhati-hati perihal memberikan informasi pribadi di media sosial. []

Penulis Dian Afrillia

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply