May 17, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

PT EKA SANTI DALANG DI BELAKANG KEMATIAN SITI ROKAYAH ?

4 min read

HONG KONG – Kematian Siti Rokayah Saad (40 tahun) yang pernah dimuat di apakabaronline.com pekan lalu, masih menyisakan misteri. Pasalnya, menjadi tanda tanya besar jika benar Siti meninggal karena insiden di kamar mandi agensi sebelum sempat diambil majikannya.

Untuk memastikan kabar tersebut, Sabtu (16/9), Apakabaronline.com datang dan melihat langsung kondisi boarding house di kantor Sunlight Pusat, di kawasan North Point, tempat Siti dikabarkan jatuh di kamar mandi. Kalau melihat kondisi boarding house yang rapi, bersih dan nyaman, rasanya kecil kemungkinan petaka Siti berawal dari tempat ini.

Siti Rukayah, Berangkat Ke Hong Kong Dengan Mimpi Indah, Pulang Sudah Menjadi Almarhumah

Kepada Apakabaronline.com, Recruitmen Supervisor Sunlight Employment Agency, Ella Lee, menuturkan kronologi kematian pekerja migran Indonesia (PMI) asal Subang – Jawa Barat itu.

 

  • 2010: Siti Rokayah Saad tercatat lahir pada 5 September 1976. Ia berasal dari Dusun Jatimulya, Desa Karangwangi, Kecamatan Binong, Subang. Sebelumnya, ia pernah bekerja di Hong Kong selama enam tahun. Saat itu, pada tahun terakhir bekerja di Hong Kong, Siti sempat koma dan dirawat sebulan di rumah sakit hingga akhirnya dioperasi bedah kepala untuk mengangkat tumor di otaknya.
  • 2016: Siti meninggalkan Hong Kong dan sempat berada di kampung halaman hingga pertengahan 2017.
  • 2017: Siti kembali mendaftar untuk bekerja di Hong Kong melalui PT Ekasanti Jaya Mulia – Bekasi, dan menjadi calon pekerja rumah tangga (PRT) terpilih oleh agensi Sunlight. Setelah tiga-empat bulan menunggu proses untuk pelatihan ulang, pembuatan paspor dan sebagainya, akhirnya visa kerjanya turun.

 

Beberapa hari sebelum berangkat, tes medis dilakukan. Siti dinyatakan fit oleh An-Nur Medical Center, yang beralamat di Jln. KH Abdullah Syafe’i No. 12, Tebet, Jakarta. Pada sertifikat hasil tes medis yang ditandatangani Chief of Physician, Syarifuddin Laingki, tercantum bahwa hasil tes medis berlaku s.d. 3 Agustus 2017.

  • 14 Agustus: Siti Rokayah diterbangkan dari Jakarta ke Hong Kong.
  • 15 Agustus: Seperti umumnya calon pekerja rumah tangga, Siti diwajibkan tes medis ulang untuk memastikan ”fit to work” sebelum dijemput dan memulai kerja di majikan. Hasilnya? Sangat mengejutkan. Dari hasil tes darah, ternyata ada suspect HIV!

 

  • Klinik medis menganjurkan agar Siti segera dirujuk ke klinik penanganan khusus HIV, yang disediakan Pemerintah Hong Kong. Biasanya butuh dua-tiga minggu untuk mengetahui hasil tes lab lebih detail. Selama menunggu, dari hari ke hari kondisi kesehatan Siti makin memburuk. Ia sudah tak bisa mengendalikan buang air kecil maupun besar, bahkan harus di-pampers-in. Badannya sering demam tinggi, kulitnya bersisik dan sangat kering. Bicaranya juga sering melantur.
  • 28 Agustus: Melihat kondisi fisik Siti kian memburuk, Sunlight menelepon 999 (Emergency Ambulance). Ketika unit emergency datang dan menerima nomor HKID calon pasien, ternyata mereka sudah mengantongi data dan sederet catatan penyakit Siti. Siti dilarikan ke RS Pamela Youde Nethersole, Chaiwan, dan sempat dirawat di ruang ICU selama beberapa hari hingga ajal menjemput.
  • 4 September: Siti Rokayah dinyatakan meninggal. Sesuai rilis rumah sakit tempat ia dirawat, tertulis jelas kematian Siti disebabkan oleh HIV/AIDS.
  • 7 September: Surat kematian diterbitkan.
  • 13 September: Jenazah diterbangkan ke Jakarta lalu dikirim ke rumah duka, setelah sehari sebelumnya dimandikan dan dishalatkan di Hong Kong.

 

Dari kronologi di atas, yang paling menjadi tanda tanya adalah peran PJTKI dan medical center di Indonesia. Ketika Sunlight berusaha menanyakan kenapa hal itu bisa terjadi, pihak PJTKI hanya menjawab bahwa tes medis sudah dilakukan dan Siti dinyatakan fit. Hasil tes HIV juga negatif.

Sementara, pihak medical center tak bisa dimintai keterangan dengan alasan sudah tercantum jelas bahwa hasil report berlaku s.d. 3 Agustus saja. Menurut Sunlight, PJTKI juga salah karena tidak melakukan tes medis ketika pendaftaran. Lazimnya, PJTKI akan melakukan dua kali tes medis terhadap calon tenaga kerjanya: saat pendaftaran dan beberapa hari sebelum diberangkatkan.

 

Kesimpulannya, Siti sudah positif terjangkit HIV saat masih di Hong Kong pada 2016. Terbukti, sebelum mendaftar ke PT untuk pemberangkatan yang kedua, Siti sempat bercerita ke salah satu anggota keluarganya bahwa ia mengidap HIV. Sampai akhirnya, anggota keluarga pun sempat dicek HIV dan dinyatakan aman. Keluarga sempat melarang Siti kembali ke Hong Kong karena kondisi kesehatannya. Namun ia bersikeras.

”Kami sangat dirugikan. Kami korban dari ketidakakuratan hasil tes medis. Entah siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban atas hal ini. Medical Center dan PJTKI saling lempar masalah,” gerutu Ella Lee.

Sudah begitu, pihak asuransi juga tidak bisa memberikan ganti rugi. Selain Siti belum diambil majikan dan belum sempat dibelikan asuransi kesehatan di Hong Kong, kematiannya yang disebabkan oleh HIV dan sudah terdiagnosa sejak masih di Hong Kong dulu, sangatlah memberatkan.

Seharusnya, lanjut Ella, karena PJKTKI telah mengirim calon PRT yang unfit ke negera penempatan, mereka wajib menanggung biaya pemulangan. Dalam kasus Siti, biaya pemulangan jenazah yang mencapai HK$ 40.000 semestinya menjadi tanggung jawab PT Ekasanti Jaya Mulia.

”Tapi mereka berusaha mengelak, bahkan sempat tidak percaya, sehingga kami persilakan untuk bertanya langsung ke KJRI Hong Kong,” tambah Ella.

Setelah negosiasi alot dengan PT Ekasanti, akhirnya mereka bersedia menanggung separuh biaya.

”Dari sisi calon majikan Siti, mereka sangat kaget, kecewa, dan meminta pengembalian atas semua biaya yang sudah dikeluarkan. Diganti PRT baru pun tidak mau. Kita sudah full refund ke majikan,” imbuh Ella.

Sampai berita ini diturunkan, baik Apakabaronline.com maupun Sunlight belum berhasil meminta keterangan dari An-Nur Medical Center. Pihak PT Eka Jaya Santi Mulia, malalui salah seorang stafnya, Elia, tidak memberikan keterangan saat Apakabaronline.com meminta klarifikasi perihal akurasi data medikal atas nama Siti Rokayah.

Elia, justru melempar wartawan Apakabaronline.com yang menghubunginya untuk berhubungan langsung dengan Haji Indra. Namun Elia tidak memberikan kontak Haji Indra. [Asa/YS]

Advertisement
Advertisement