April 18, 2024

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

PVMBG Temukan Sumber Magma di Kedalaman Enam Km dari Puncak Semeru

3 min read

SURABAYA –  Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkapkan, fenomena peningkatan gempa guguran dan gempa tremor di Gunung Semeru, diakibatkan adanya sumber magma pada kedalaman enam kilometer di tubuh gunung api tersebut.

“Apa yang sekarang terjadi gempa-gempa selama beberapa bulan bahkan beberapa minggu belakangan ini memang ada sumber magma pada kedalaman enam kilometer,” kata Kepala PVMBG Hendra Gunawan dalam konferensi pers yang dipantau di Jakarta, Jumat (16/2).

Hendra mengatakan, fenomena awan panas sejauh 1.500 meter yang terjadi pada 9 Februari 2024 lalu, ditambah parameter yang semuanya positif, menandakan Gunung Semeru sedang tidak baik-baik saja.  Dia meminta masyarakat untuk mengantisipasi bila luncuran awan panas mencapai jarak yang jauh.

“Masyarakat di sekitar Gunung Semeru terutama ke arah Sungai Kobokan agar terus waspada dengan mengikuti perkembangan,” kata Hendra.

Di tanggal 9 Februari lalu, Gunung Semeru tercatat mengalami ratusan kali aktivitas kegempaan dengan jumlah terbanyak berupa gempa letusan mencapai 77 kali. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Ghufron Alwi mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.

“Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” ujarnya.

Selain gempa letusan atau erupsi, Gunung Semeru juga tercatat mengalami 16 kali gempa guguran, 27 kali gempa hembusan, 13 kali harmonik, 3 kali gempa tektonik jauh, dan 1 kali gempa getaran banjir. Guguran lava pijar juga terlihat sebanyak tiga jalu dengan jarak luncur 300 sampai 500 meter ke arah Besuk Kobokan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari pusat erupsi. Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak diperbolehkan melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.

PVMBG juga mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam radius lima kilometer dari puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu. Pada 2023, Gunung Semeru menduduki posisi gunung api paling aktif erupsi di Indonesia dengan jumlah erupsi tercatat sebanyak 29.131 kali.

 

Teknologi Mutakhir

Lebih lanjut Hendra menuturkan, teknologi mutakhir yang sekarang dipakai PVMBG membuat pihaknya bisa mengidentifikasi kedalaman dan gempa-gempa yang terekam serta potensi bahaya yang perlu diantisipasi ke depan. Karena itu, Hendra meminta semua pemangku kepentingan untuk terus memantau perkembangan yang terjadi di Gunung Semeru.

Berdasarkan catatan PVMBG, Gunung Semeru merupakan gunung berapi paling aktif di Indonesia. Pada 2023 jumlah erupsi tercatat sebanyak 29.131 kali.

Gunung Semeru secara administrasi terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang di Provinsi Jawa Timur. Gunung api tertinggi di Pulau Jawa itu memiliki tinggi puncak 3.676 meter di atas permukaan laut.

PVMBG terus memantau secara visual dan instrumental Gunung Semeru dari dua pos pengamatan gunung api yang berada di Desa Sumber Wuluh Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang, serta di Desa Argosuko, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.

 

Empat Kali Sehari

Kamis (13/2) kemarin, Gunung Semeru tercatat bererupsi sebanyak empat kali dalam sehari. Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, Sigit Rian Alfian dalam keterangan tertulis di Lumajang, Kamis malam, merinci, erupsi pertama terjadi pada pukul 01.13 WIB, erupsi kedua pukul 04.59 WIB, ketiga terjadi pada pukul 06.28 WIB dan terakhir terjadi pada pukul 10.54 WIB.

“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada 15 Februari 2024, pukul 01.13 WIB dengan tinggi kolom abu vulkanik teramati kurang lebih 700 meter di atas puncak (sekitar 4.376 m di atas permukaan laut),” katanya.

Kolom abu vulkanik teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 143 detik. Kemudian, pada pukul 04.59 WIB kembali terjadi erupsi dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 800 meter di atas puncak atau sekitar 4.476 meter di atas permukaan laut.

Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut dan erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 132 detik.

Erupsi Gunung Semeru terjadi lagi pada pukul 06.28 WIB dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak (sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur laut dan erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 101 detik.

Erupsi keempat kalinya terjadi pada pukul 10.54 WIB dengan visual letusan tidak teramati dan erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 159 detik. []

Advertisement
Advertisement