Ramadan Mengajarkan Keseimbangan Dunia dan Akhirat
4 min read
JAKARTA – Suasana Subuh yang khidmat menyelimuti Masjid Attaqwa, Muhammadiyah Boarding School (MBS), Bireuen, Aceh, Selasa (10/3/2026).
Di hadapan jemaah yang terdiri atas pimpinan Muhammadiyah daerah, rektor universitas Muhammadiyah setempat, serta para aktivis Aisyiyah, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti menyampaikan ceramah yang sarat pesan spiritual dan refleksi keislaman.
Dalam ceramahnya, Mu’ti mengajak jemaah memaknai Ramadan sebagai momentum menata keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Ia mengawali kajiannya dengan mengutip doa yang sangat dikenal umat Islam, yang sering disebut sebagai doa sapu jagad, yaitu Surah Al-Baqarah 201:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”
Menurut Mu’ti, ayat tersebut mengandung pesan mendasar tentang keseimbangan hidup yang diajarkan Islam.
“Ayat ini diawali dengan frasa waminkum man yaqulu, yang berarti ‘dan di antara manusia ada yang berdoa’. Dalam ayat sebelumnya, ada orang yang hanya meminta kebaikan dunia saja. Namun Al-Qur’an mengajarkan kita untuk meminta kebaikan di dua tempat sekaligus: dunia dan akhirat,” ujarnya.
Keseimbangan Dunia dan Akhirat dalam Al-Qur’an
Dalam penjelasannya, Mu’ti mengungkapkan satu fakta menarik dari Al-Qur’an yang menurutnya mengandung pesan simbolik tentang keseimbangan hidup.
“Saya pernah menghitung jumlah kata ad-dunia dan al-akhirah dalam Al-Qur’an. Jumlahnya sama persis, masing-masing disebut 115 kali. Ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat,” katanya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa meskipun keduanya penting, Al-Qur’an tetap menempatkan akhirat sebagai orientasi utama.
Ia kemudian mengutip Surah Al-Qasas 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia.”
“Artinya, akhirat tetap harus menjadi orientasi utama. Tetapi kita juga tidak boleh melupakan dunia. Istilah orang Jawa, ojo klalen dunya,” ujarnya.
Lima Makna Dunia
Dalam ceramahnya, Mu’ti menjelaskan bahwa kata dunia dalam Al-Qur’an memiliki sejumlah makna yang lebih luas daripada sekadar kehidupan material.
Ia menguraikan setidaknya lima makna dunia.
Pertama, dunia sebagai kehidupan (al-hayah), yakni masa ketika ruh berada dalam jasad manusia.
“Rata-rata umur umat Nabi Muhammad sekitar 60 sampai 70 tahun. Itulah waktu yang kita miliki untuk beramal, bekerja, dan beribadah,” katanya.
Kedua, dunia sebagai realitas materi. Kepemilikan harta dan kemewahan sering kali membuat manusia merasa bangga, padahal Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah mata‘ul ghurur, kesenangan yang menipu.
“Punya mobil mewah atau rumah besar boleh saja, tetapi kita harus ingat bahwa semua itu sementara dan bisa menjadi ujian,” ujarnya.
Ketiga, dunia sebagai realitas yang fana. Mu’ti menjelaskan bahwa dalam Islam dikenal konsep kiamat sugra (kiamat kecil) ketika manusia meninggal dunia, dan kiamat kubra ketika alam semesta berakhir.
Ia menilai berbagai fenomena global seperti perubahan iklim, pemanasan global, dan bencana alam merupakan pengingat bahwa dunia tidak abadi.
Keempat, dunia sebagai planet bumi, tempat manusia hidup dan beraktivitas. Ia mengutip Surah Al-Mulk 15 yang memerintahkan manusia berjalan di penjuru bumi dan memanfaatkan karunia Allah.
“Dunia ini terbatas, tetapi kita diperintahkan untuk memakmurkannya dengan cara yang benar,” katanya.
Kelima, dunia sebagai orientasi kehidupan. Menurut Mu’ti, manusia sering kali terjebak pada orientasi jangka pendek.
“Banyak orang mengejar keuntungan sesaat, misalnya dengan korupsi atau memperoleh jabatan dengan cara tidak halal. Itu orientasi jangka pendek yang justru merugikan,” ujarnya.
Hakikat Kehidupan Akhirat
Setelah menjelaskan makna dunia, Mu’ti menguraikan empat karakter utama kehidupan akhirat.
Pertama, akhirat adalah kehidupan yang jauh dan melampaui dunia.
Kedua, akhirat merupakan kehidupan jangka panjang dan lebih baik, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-A’la ayat 17:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
Ketiga, akhirat adalah kehidupan yang kekal selamanya. Al-Qur’an menggambarkannya dengan ungkapan khalidina fiha abada.
“Di situlah kebahagiaan yang tidak pernah berakhir,” katanya.
Keempat, akhirat merupakan dimensi spiritual yang tidak dapat dijangkau oleh indra maupun ukuran material manusia.
Dunia sebagai Ladang Akhirat
Mu’ti menegaskan bahwa kehidupan dunia sejatinya adalah ladang untuk menanam amal bagi kehidupan akhirat.
Karena itu, setiap potensi yang dimiliki manusia harus dimanfaatkan sebagai bekal menuju kehidupan abadi.
“Kalau punya harta, bersedekahlah. Kalau punya jabatan, gunakan untuk kemaslahatan umat. Kalau punya ilmu, amalkan dan ajarkan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kekuasaan dan jabatan bersifat sementara, sementara kepentingan rakyat akan terus ada.
“Jadi pejabat itu tidak selamanya, tetapi rakyat tetap selamanya. Maka dekatlah dengan rakyat dan perjuangkan kepentingan mereka,” kata Mu’ti.
Ia juga menyinggung slogan Lazismu yang menurutnya sangat relevan dengan ajaran Islam.
“Bersedekah jangan menunggu kaya. Kita boleh berusaha menjadi kaya, tetapi jangan lupa berbagi,” katanya.
Investasi Pendidikan untuk Masa Depan
Dalam bagian akhir ceramahnya, Mu’ti menekankan pentingnya investasi jangka panjang pada pendidikan dan sumber daya manusia.
Ia mengutip Surah An-Nisa 9 yang mengingatkan agar umat Islam tidak meninggalkan generasi yang lemah.
“Jangan tinggalkan generasi yang lemah. Investasi terbaik adalah pendidikan,” ujarnya.
Menurutnya, membangun generasi unggul adalah bagian dari ikhtiar menyiapkan masa depan umat sekaligus amal jariah yang pahalanya terus mengalir.
Ia kemudian mengutip pesan ulama klasik:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Siapa yang menghendaki dunia, maka dengan ilmu. Siapa yang menghendaki akhirat, maka dengan ilmu. Siapa yang menghendaki keduanya, maka dengan ilmu,” ujarnya.
Mu’ti menutup ceramahnya dengan mengingatkan tujuan akhir kehidupan seorang mukmin, yakni memperoleh rida Allah.
Ia mengutip Surah Al-Bayyinah ayat 8:
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.”
Menurutnya, Ramadan adalah momentum untuk menata kembali orientasi hidup agar tetap seimbang antara dunia dan akhirat, sekaligus mempersiapkan generasi yang lebih baik melalui ilmu dan amal saleh. []
