February 24, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Ramadan sebagai Momentum Rekonstruksi Niat

2 min read

MALANG – Bulan suci Ramadan dimaknai sebagai momentum strategis untuk menata ulang arah dan ketulusan hidup. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, Ramadan menjadi waktu terbaik melakukan “rekonstruksi niat” agar setiap langkah dan pekerjaan memiliki makna yang lebih dalam.

Pesan reflektif tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., dalam kajian Ramadan di Masjid A.R. Fachruddin UMM, Kamis (19/2/2026).

Kajian ini menjadi bagian dari rangkaian program Ramadan UMM yang bertujuan memperkuat spiritualitas sekaligus etos kerja civitas akademika. Melalui kegiatan tersebut, UMM ingin menjadikan bulan suci sebagai momentum membangun integritas, keikhlasan, dan kemajuan bersama.

Dalam ceramah yang bertepatan dengan hari kedua Ramadan 1447 itu, Nazar—sapaan akrabnya—mengawali dengan ajakan bersyukur karena masih diberi kesempatan bertemu bulan penuh nilai keikhlasan.

Ia menegaskan bahwa niat bukan sesuatu yang statis, melainkan dinamis dan harus terus diperbaiki. Menurutnya, ibadah puasa, zakat, dan infak merupakan sarana penting untuk menumbuhkan kekuatan ikhlas dalam diri manusia. Niat yang baik, lanjutnya, tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga lingkungan sekitar.

“Niat itu bukan sesuatu yang statis, tetapi sesuatu yang dinamis. Harapan terdalam kita sebagai manusia adalah bagaimana niat itu terus menuju niat yang paling baik. Niat itu harus terus menuju arah yang paling baik, sehingga jika dipraktikkan dalam ibadah, dampaknya dapat dirasakan oleh lingkungan sekitar kita,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, ia juga memperkenalkan konsep empty motive, yakni kondisi ketika seseorang tetap memiliki tujuan, tetapi hatinya kosong dari pamrih untuk dipuji atau memperoleh imbalan dari manusia. Kemurnian niat, menurutnya, akan memperkuat kualitas amal sekaligus profesionalitas seseorang.

Lebih jauh, Nazar mencontohkan kemajuan Jepang, Korea, dan China yang mampu melompat jauh melalui perubahan pola pikir dan budaya. Ia menilai, lompatan tersebut berawal dari kesadaran kolektif untuk terus memperbaiki diri dan bergerak menuju tahap yang lebih baik.

Dalam konteks institusi, ia menekankan bahwa keikhlasan merupakan fondasi utama kemajuan bersama. Ia mengajak seluruh civitas akademika UMM, baik dosen maupun tenaga kependidikan, untuk melepaskan ego sektoral dan individual demi kemajuan institusi.

“Kemajuan tertinggi adalah ketika kita melepaskan ego. Tidak perlu ada yang tahu siapa yang paling berkontribusi, yang penting institusi kita melahirkan yang terbaik melalui semangat gotong royong atau berjemaah,” tegasnya.

Menutup kajian, Nazar mengutip Surah Al-Bayinah ayat 5 sebagai pengingat pentingnya memurnikan ketaatan kepada Allah Swt. Ia berharap nilai keikhlasan dapat menjadi pengawas diri dalam setiap tindakan, sehingga setiap pekerjaan profesional bernilai ibadah sekaligus memberi dampak positif bagi lingkungan. []

Penulis Mohammad Nurfatoni dari Laman Tagar

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply