March 5, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Ramadhan, Setiap Detiknya Bernilai Surga

3 min read

JAKARTA – Ramadan adalah musim rahmat yang Allah bentangkan bagi hamba-hamba-Nya untuk memperbaiki iman, menata amal, dan menebus kelalaian masa lalu. Setiap detik di dalamnya bernilai tinggi.

Pada bulan inilah pintu ampunan dibuka, doa diijabah, pahala dilipatgandakan, dan jiwa diajak sadar bahwa waktu adalah amanah termahal yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Pada bulan suci ini, sebelum kesempatan itu benar-benar berlalu selamanya, manusia diingatkan untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang Allah berikan.

Ramadan datang bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender Hijriah. Ia adalah kedatangan tamu agung yang membawa karunia luar biasa. Setiap detik yang Allah izinkan kita hidup di dalamnya adalah nikmat yang tidak ternilai, karena tidak semua manusia memperoleh kesempatan yang sama.

Betapa banyak orang yang dahulu berangan ingin kembali satu hari saja ke Ramadan, tetapi ajal telah mendahului mereka. Karena itu, kalimat peringatan “Jangan buang waktu di Ramadan” sejatinya adalah seruan kasih sayang agar manusia sadar bahwa umur adalah modal, dan Ramadan adalah ladang panen yang cepat berlalu.

Allah Swt. menegaskan nilai waktu dan kesungguhan iman dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Ayat ini menjadi pengingat bahwa waktu yang berlalu tanpa iman dan amal adalah kerugian nyata, terlebih lagi jika terjadi pada bulan Ramadan.

Ramadan adalah madrasah waktu. Allah mendidik hamba-Nya agar disiplin menghargai setiap detik. Puasa mengajarkan menahan diri, salat malam menghidupkan kesadaran, zakat membersihkan harta, dan Al-Qur’an menghidupkan hati.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Tujuan puasa adalah takwa, dan takwa lahir dari kesadaran penuh dalam memanfaatkan waktu.

Pernyataan bahwa satu detik di Ramadan adalah hal yang paling diinginkan oleh orang-orang yang telah meninggal bukanlah sekadar ungkapan emosional, melainkan cerminan hakikat akhirat. Rasulullah Saw. bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.

Hadis ini mengingatkan bahwa kesempatan beramal selalu terikat oleh waktu, sementara kematian akan memutuskannya.

Orang-orang yang telah wafat tidak meminta harta, jabatan, atau umur panjang. Mereka hanya berharap tambahan waktu untuk sujud, istigfar, dan amal saleh. Ramadan menjadi momentum emas karena pahala dilipatgandakan.

Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: Barang siapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Ampunan ini terikat dengan kesungguhan iman dan kemampuan mengelola waktu dengan benar.

Karena itu, jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Artinya: Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.

Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga direnungi dan diamalkan sebagai kompas kehidupan.

Ramadan juga merupakan ruang taubat. Allah membuka pintu rahmat seluas-luasnya bagi hamba-Nya.

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

Artinya: Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.

Ramadan adalah jawaban bagi jiwa-jiwa yang rindu kembali kepada-Nya.

Sebaliknya, menyia-nyiakan Ramadan dengan kelalaian adalah kerugian besar. Rasulullah Saw. bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Artinya: Celakalah seseorang yang mendapati Ramadan, kemudian bulan itu berlalu sebelum ia diampuni.

Hadis ini merupakan peringatan keras agar setiap detik Ramadan diisi dengan amal kebaikan.

Karena itu, isilah Ramadan dengan niat yang lurus, salat yang khusyuk, sedekah yang ikhlas, lisan yang terjaga, dan hati yang hidup. Ingatlah bahwa satu detik yang kita miliki hari ini adalah impian mereka yang telah berada di alam kubur.

Semoga Ramadan menjadikan kita manusia yang sadar akan nilai waktu, bersih hatinya, dan kuat istiqamah hingga akhir hayat. Semoga pula seluruh amal kita diterima oleh Allah Swt.  []

Penulis :  Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply