November 29, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Rasulullah Melarang Kita Mencela Orang yang Telah Meninggal, Begini Penjelasannya

2 min read
-

ApakabarOnline.com – Dikisahkan pada suatu hari, ada seorang lelaki yanh meninggal dunia. Rasullullah SAW pun ikut dalam pengurusan jenazah orang tersebut. Pada saat hendak disalatkan, Umar bin Khaththab yang memiliki sifat kritis itu berseru kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasullullah, janganlah engkau salati dia, dia adalah seorang penjahat.”

Setelah mendengar perkataan Umar ini, Rasulullah SAW lalu menghadapkan diri pada khalayak. Beliau menanyakan apakah ada seseorang yang melihat jenazah ini pernah melakukan suatu amalan Islam selama hidupnya.

Seseorang diantara yang hadir berkata, “Benar Rasulullah, aku pernah meronda malam bersamanya di medanjihad.”

Rasulullah SAW lalu menyalatkan jenazahnya dan menaburkan debu (pasir) kepadanya, kemudian beliau bersabda, “Sahabat-sahabatmu mengira engkau adalah ahli neraka, dan aku bersaksi bahwa engkau adalah ahli surga.”

Kemudian Rasulullah SAW berpaling kepada Umar dan bersabda, “Janganlah engkau bertanya mengenai amalan manusia, tetapi bertanyalah tentang fitrahnya.”

Ternyata maksud Rasulullah SAW adalah mencegah agar Umar, sekaligus memberi pesan kepada umat Islam untuk tidak terlalu mengungkit kejelekan seseorang semasa ia masih hidup. Rasulullah SAW lebih menitikberatkan kepada fitrah keislamannya, termasuk amal kebaikannya semasa hidup, meskipun hanya sedikit.

Kisah ini mirip dengan salah satu kisah tentang kedatangan salah seroang ahli surga yang datang menemui Rasulullah SAW. Diketahui orang tersebut merupakan budak yang mengenakan pakaian compang-camping.

Setau waktu, di dalam suatu majelis pengajian, tiba-tiba Rasulullah SAW bersabda, “Besok pagi akan ada seorang ahli surga yang bersembahyang bersama kamu!!”

Abu Hurairah, yang meriwayatkan hadits ini, berkata dalam hati, “Aku berharap, akulah yang ditunjuk oleh Rasulullah SAW….!”

Keesokan harinya, Abu Hurairah salat tepat berada di belakang Rasulullah SAW. Sesudah salat, ia tetap tinggal di tempatnya ketika beberapa orang yang pamit untuk pulang.

Setalah itu, tiba-tiba ada seorang hamba atau budak hitam berpakaian compang-camping datang mendekat dan menjabat tangan Rasulullah SAW. Ia berkata, “Ya Nabiyallah, doakanlah aku semoga aku mati syahid!!”

Rasulullah SAW kemudian memenuhi permintaan hamba tersebut. Pada saat Rasulullah SAW berdoa, tercium bau kesturi dari tubuhnya yang kelihatan kumuh dan kusut itu. Setelah hamba itu pergi meninggalkan masjid, Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah orang tersebut, Ya Rasulullah?”

“Benar, ia hamba sahaya dari Bani Fulan…” kata Rasulullah SAW.

“Mengapa tidak engkau beli dan engkau merdekakan saja, Ya Rasulullah!!” Kata Abu Hurairah.

“Bagaimana aku akan berbuat seperti itu, jika karena keadaannya tersebut, Allah akan menjadikannya seorang raja di surga,” jawab Rasulullah SAW.

Hingga beberapa saat kemudian, Rasulullah SAW bersabda lagi, “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya di surga itu ada raja dan orang-orang terkemuka, dan dia ini salah satu raja dan orang terkemuka tersebut. Ya Abu Hurairah, sesungguhnya Allah SWT amat kasih kepada orang yang suci hati, yang samar, yang bersih, yang terurai rambutnya, yang kempis perutnya kecuali dari hasil yang halal. Mereka ini, bila masuk menghadap penguasa tidak akan diizinkan, bila meminang wanita bangsawan tidak akan diterima, bila tidak ada ia tidak dicari, bila hadir tidak dihiraukan, bila sakit tidak dijenguk, bahkan bila mati tidak dihadiri jenazahnya,”. Wallahu A’lam. []

Advertisement
Advertisement