January 30, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Ratusan Ribu PMI Berada di Sektor dengan Ketrampilan Rendah

2 min read

JAKARTA – ementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) memperkuat peran perguruan tinggi sebagai garda depan penyiapan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang siap bersaing di pasar kerja global, seiring tingginya minat masyarakat untuk bekerja di luar negeri.

Berdasarkan data Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, sebanyak 795,3 ribu pekerja migran Indonesia (PMI) ditempatkan di luar negeri sepanjang periode 2022–2024.

Namun, sebagian besar masih bekerja pada sektor berisiko rendah keterampilan, seperti asisten rumah tangga, caregiver, pekerja kasar, perkebunan, dan operator produksi.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mengatakan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya siap lulus, tetapi juga siap bekerja secara global.

“Perguruan tinggi berperan menyiapkan lulusan yang tidak hanya siap lulus, tetapi juga siap bekerja secara global. Penguatan kolaborasi dengan lembaga pelatihan kerja dan kurikulum yang adaptif memungkinkan penyiapan kompetensi dilakukan lebih sistematis sejak awal masa pendidikan,” kata Fauzan dalam keterangannya di Jakarta, Antara, Kamis 29 Januari.

Menurut Fauzan, perguruan tinggi merupakan ruang transisi penting dari dunia pendidikan ke dunia kerja, sehingga penguatan keterampilan dan kompetensi harus dilakukan sejak mahasiswa menempuh pendidikan.

Dalam pertemuannya dengan Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla di Kantor Kemendiktisaintek, Jakarta, Selasa lalu, Fauzan mencontohkan praktik baik di sejumlah daerah, salah satunya Jawa Timur, yang mengalokasikan anggaran sekitar Rp10 miliar per tahun untuk subsidi pelatihan kerja.

Investasi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap penempatan tenaga kerja, menjadikan Jawa Timur sebagai daerah dengan angka penempatan pekerja migran tertinggi selama tiga tahun berturut-turut.

Sejalan dengan itu, Wakil Menteri P2MI Dzulfikar Ahmad Tawalla menyoroti masih adanya ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan kerja di luar negeri yang kerap muncul pada tahap penempatan.

“Ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan kerja di luar negeri masih sering terjadi. Fasilitas pelatihan di kampus dapat menjadi solusi untuk menyiapkan calon pekerja secara lebih terstruktur sekaligus menekan risiko penempatan yang tidak sesuai,” ujarnya.

Dzulfikar juga menekankan pentingnya sinkronisasi data kebutuhan tenaga kerja luar negeri agar proses penempatan pekerja migran Indonesia lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Pertemuan kedua wakil menteri tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman antara Kemendiktisaintek dan Kementerian P2MI yang ditandatangani pada Desember 2025, sebagai langkah strategis memperkuat sinergi pengembangan SDM unggul dan berdaya saing global di tengah momentum bonus demografi.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan pekerja migran Indonesia merupakan representasi kualitas SDM bangsa di tingkat global, sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto untuk mendorong tenaga kerja terampil Indonesia mengisi peluang kerja di dalam negeri maupun pasar internasional.

Kemendiktisaintek menegaskan komitmennya membangun ekosistem penyiapan SDM terintegrasi melalui penguatan career development center, lembaga pelatihan kerja, integrasi pelatihan ke dalam kurikulum, serta skema magang dan kerja luar negeri yang dapat diakui sebagai bagian dari proses pendidikan tinggi. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply