September 27, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Resesi Seks Terjadi di Jepang, Jumlah Kaum Jomblo Membludak

1 min read
Feature image Resesi Seks Terjadi di Jepang, Jumlah Kaum Jomblo Membludak (Ilustrasi Foto Japan Times)

Feature image Resesi Seks Terjadi di Jepang, Jumlah Kaum Jomblo Membludak (Ilustrasi Foto Japan Times)

JAKARTA – Resesi seks tengah melanda dunia. Jepang, menjadi salah satu negara dengan yang paling hebat dihantam fenomena tersebut.

Istilah resesi seks sendiri mengacu pada kondisi rendahnya angka perkawinan dan keengganan untuk berhubungan seks. Hal ini kemudian memicu penurunan angka kelahiran di sebuah negara.

Dalam sebuah laporan resmi terbaru, angka pria dan wanita di Jepang yang tetap menjomblo atau tidak ingin menikah telah memecahkan rekor terbaru pada tahun 2021.

Dalam rilis terbaru Institut Nasional Kependudukan dan Jaminan Sosial, ditemukan bahwa 17,3% pria dan 14,6% wanita berusia antara 18 dan 34 tahun di Jepang mengatakan mereka tidak berniat untuk menikah. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak kuesioner pertama kali dilakukan pada tahun 1982.

Penurunan jumlah pernikahan memiliki konsekuensi terhadap tingkat kelahiran Jepang. Diketahui, negara itu telah mengalami pertumbuhan penduduk yang negatif sehingga mengancam perekonomiannya di masa depan.

“Pemerintah Jepang telah bekerja untuk meningkatkan angka kelahiran dengan mencoba membantu mereka yang ingin menikah atau memiliki anak untuk memenuhi aspirasi mereka,” kata seorang profesor sosiologi di Universitas Chukyo, Shigeki Matsuda, kepada surat kabar Mainichi Shimbun, dikutip Kamis, (15/09/2022).

“Tetapi jika jumlah orang yang tidak ingin menikah terus meningkat, pemerintah akan dipaksa untuk meninjau kembali kebijakannya, dan itu dapat menyebabkan penurunan kesuburan lebih lanjut.”

Dalam laporan media Inggris The Guardian, ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini termasuk keinginan yang berkembang di kalangan wanita muda pekerja untuk menikmati kebebasan dengan menjadi lajang dan berkarir.

Pria mengatakan mereka juga menikmati menjadi lajang, tetapi juga menyuarakan keprihatinan atas keamanan pekerjaan dan kemampuan mereka untuk menafkahi keluarga.[]

 

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply