June 13, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Rutin Ngirim ke Hong Kong dan Taiwan, Produksi Teh Daun Kelor Muryati Dikulak PMI yang “Nyambi Bakulan”

2 min read

PATI – Teras sebuah rumah di Desa Kedung Bulus RT 1 RW 1, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati terlihat cukup ramai siang itu. Beberapa perempuan terlihat memasukkan daun kering ke dalam sebuah kemasan plastik. Sebagian lagi ada yang memasukkan kemasan teh celup dalam sebuah wadah boks karton berbentuk bulat. Kegitan tersebut merupakan proses pengepakan Teh Daun Kelor Mahakarya Mulya yang penjualannya tembus pasar luar negeri.

Pemilik produksi Teh Daun Kelor Mahakarya Mulya, Muryati (44) mengatakan, mulai merintis teh daun kelor sejak 2010. Karena banyak khasiat, teh daun kelor produksinya itu diminati banyak orang. Bahkan, selain pemasarannya sudah tersebar ke seluruh Indonesia, produknya itu kini sudah merambah pasar Taiwan dan Hong Kong.

Yati panggilan akrabnya lantas menceritakan awal mula teh daun kelornya itu digemari di dua negara tersebut. Awalnya, produk itu dibawa oleh tenaga kerja wanita (TKW) yang mencoba menjual di sana. Setelah dipasarkan, ternyata malah laris dan kemudian sering minta dikirimin.

“Awalnya, dulu itu tetangga saya yang jadi TKW di kedua negara tersebut pulang kampung. Saat di kampung itu mereka tertarik untuk ikut memasarkan teh daun kelor di negara tempatnya bekerja. Nah, saat berangkat kerja ke luar negeri, mereka beli beberapa bungkus teh daun kelor untuk dijual lagi,” ujarnya dikutip dari Beta News.

Perempuan yang sudah dikaruniai empat orang anak itu menambahkan, menurut informasi yang didengarnya, tetangganya itu menjual teh daun kelor kepada bosnya dan bos para temannya. Apalagi tak jarang para PMI itu dapat pekerjaan merawat orang tua yang sakit-sakitan.

“Mereka jualannya lumayan laris. Teh daun kelor, kan juga banyak manfaatnya. Mungkin saja bos para TKW itu cocok dan merasa kebugaran tubuhnya lebih baik setelah mengkonsumsi teh daun kelor,” kata Yati.

Dia mengatakan, sejak 2014 para tetangganya yang bekerja di Taiwan dan Hongkong itu secara rutin setiap sebulan sekali memesan teh daun kelor. Menurutnya, setiap pesan jumlahnya juga lumayan yaitu 200 kemasan. 100 kemasan untuk teh tubruk dan 100 lagi teh celup. Jumlah itu untuk satu PMI belum PMI lainnya yang juga kerja di negara lain.

“Kalau harga jual di sana (luar negeri) saya tidak tahu, itu urusan mereka. Yang penting saya jualnya harga reseller dan biaya pengiriman juga yang nanggung mereka,” kata Yati.

Dia menuturkan, selama ini pemasaran teh daun kelor itu memanfaatkan jasa reseller. Saat ini, tuturnya, resellernya sudah tersebar di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Di antaranya, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Kalimantan, Palembang, Riau, Sulawesi, dan kota besar lainnya.

Lebih lanjut, kata dia, pesanan teh daun kelor memang diprioritaskan untuk para reseller. Dalam produksi, ia mengaku tidak ingin menyetok, yakni diproduksi sesuai pesanan para resellernya. Hal itu agar teh daun kelor selalu dalam keadaan segar atau fresh.

“Bahkan biasanya kalau ada orang bukan reseller, pesan ke saya langsung itu biasanya saya arahkan untuk menghubungi reseller terdekat. Kalau pembeli itu tidak mau, tetap saya layani tapi harganya lebih mahal dari harga jual para reseller kami,” tukas Yati.

Sumber Beta News

Advertisement
Advertisement