November 28, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Saat Belasan Tahun Berjualan Keliling, Tidak Berkembang dan Kehabisan Modal, Kini Usaha Bakso Pak Ateng Kian Mentereng, Begini Rahasianya

3 min read
Prime Banner

KUDUS – Di samping gerobak yang berada di depan bangunan lantai dua, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, tampak seorang pria sedang sibuk. Dia terlihat sedang menyediakan beberapa mangkuk bakso. Setelah itu dia pun mengantarkan bakso tersebut kepada para pelanggannya. Pria tersebut yakni Supardi (63) Pemilik Warung Bakso Ateng.

Seusai melayani pembeli, pria yang akrab disapa Ateng itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, mulai berjualan bakso itu pada 1979. Dia mengaku berasal dari Bumi Sukowati Sragen, merantau ke Kudus pada tahun 1977 untuk jadi buruh rokok. Menurutnya, kerja di pabrik rokok hanya bertahan dua tahun, kemudian ia kerja ikut orang jualan bakso.

“Saya kerja ikut jualan bakso cukup lama, yakni empat tahun. Setelah memahami tentang pembuatan dan penjualan bakso, saya pun memutuskan untuk merintis usaha jualan bakso keliling. Saat itu harga bakso masih Rp 100 seporsi,” ujar Ateng dikutip dari Beta News.

Pria yang sudah dikaruniai lima anak itu menuturkan, ternyata merintis usaha tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kerja keras, ketabahan, kesabaran dan ketekunan. Hal itu dirasakan benar saat awal berdagang bakso keliling. Menurutnya, tahun pertama berjualan sepi pembeli. Penjualan tidak seperti harapannya.

“Karena sepi itu, pada tahun 1980 saya putuskan pindah jualan bakso ke Solo. Namun sayangnya, di kota kelahiran Pak Jokowi itu jualan bakso saya malah sepi banget. Saya hanya tiga pekan jualan bakso di Solo,” kata dia.

Kemudian, masih kata Ateng, ia pun pindah mengadu nasib ke Ibu Kota Jakarta untuk berjualan bakso. Berharap bisa sukses di Jakarta, sebab di ibu kota banyak orang berduit yang akan beli baksonya. Tapi, malang tak bisa ditolak dan untung pun tak mampu diraih. Selama empat bulan jualan bakso keliling di Jakarta, menurutnya pembeli sangat sepi. Bahkan ia sampai kehabisan modal.

“Karena kehabisan modal saya pun memutuskan untuk pulang ke Sragen. Nganggur beberapa hari di rumah, hati kecilku berkata tidak boleh menyerah. Di kampung saya cari modal untuk berjualan bakso lagi,” ungkapnya.

Pria yang tinggal satu atap dengan warung baksonya tersebut mengatakan, setelah dapat modal ia memutuskan untuk berjualan bakso lagi di Kudus. Tetap berjualan keliling, tapi agar gampang dikenali ia bikin bakso raksasa. Menurutnya, strateginya itu berhasil. Dia mulai dikenal dan baksonya banyak peminatnya.

“Saya berjualan keliling sampai tahun 1996. Kalau ditotal mulai pertama kali jualan sekitar 17 tahun saya jualan keliling. Setelah tabungan cukup, saya pun beli tanah di tempat yang saya bikin jualan bakso saat ini,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, dulu tempat yang dijadikan jualan itu tidak seperti sekarang. Tapi hanya berupa warung tenda. Harga bakso pas pertama jualan mangkal itu Rp 450 seporsi. Menurutnya, sejak mangkal itu bakso Pak Ateng makin dikenal dan makin laris. Apalagi sejak tahun 2000 menu baksonya beraneka macam.

“Ya bakso yang saya jual ada aneka macam jenis, yakni ada bakso biasa, bakso raksasa, bakso balungan, bakso super nyos, bakso super jumbo, serta bakso beranak,” rincinya.

Dia bersyukur, puluhan tahun merintis usaha bakso kini sudah terlihat hasilnya. Baksonya laris manis dan jadi jujugan para pecinta bakso. Hasilnya kini dia punya warung bakso bertingkat. Mampu beli beberapa tanah dan rumah yang disiapkan untuk anak – anaknya.

“Alhamdulillah usaha jualan bakso saya sudah terlihat hasilnya. Saya juga sudah punya cabang warung bakso yang berada di Desa Jepang Pakis. Semoga usaha saya makin lancar dan makin sukses,” harap Ateng. []

Sumber Beta News

Advertisement

Leave a Reply