August 8, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Saat Berangkat Jadi PMI Jalurnya Prosedural, Pas Sudah Pulang Bawa Modal Usaha Segede Gaban

2 min read

JAKARTA – Kisah inspiratif kali ini datang dari pekerja migran asal Lombok Barat. Tak tergiur alur ilegal ke Malayia, pria bernama Aweng ini membuktikan berangkat secara legal dan membawa modal usai merantau. Aweng merupakan seorang pemuda asal Kuripan yang sudah empat tahun bekerja di Sime Darby Plantation.

“Kerjaan saya rambah buah sawit,” kata Aweng memperkenalkan diri.

Sejak bekerja di negeri orang, Aweng yang kini berusia 21 tahun mengaku sekali pun belum pernah kembali ke kampung halaman.

Hal itu yang kini jadi alasan dia rindu pulang. Niatnya tahun depan, Aweng menyudahi kesibukannya bekerja di perkebunan sawit Malaysia.

“Mungkin setelah puasa tahun depan, pulang,” katanya.

Hitungan bekerja di negeri orang pada usia yang masih tergolong muda, ternyata membuatnya berfikir jauh ke depan soal penghidupan lebih layak. Memang tidak sia-sia hasil keringat bekerja sebagai buruh perkebunan, utamanya di perusahaan sekelas Sime Darby Plantation yang mengelola lahan sawit sedikitnya 600.000 hektare.

Aweng sudah menuai hasil yang cukup lumayan. Upah yang dia dapatkan selama bekerja di Malaysia, kini telah berkembang menjadi modal hidup di masa mendatang.

“Alhamdulillah, upah yang saya dapat, selalu saya kirim ke kampung. Saya beli sapi, tanah, bangun usaha juga sama kakak,” katanya.

Dia pun mengakui investasi tersebut didapatkan dari upah merambah buah sawit selama empat tahun di Sime Darby Plantation. Bayangkan dalam sebulan, dia bisa mengantongi belasan juta. Dapat dikatakan lebih dari kata cukup untuk penghasilan Aweng yang masih muda.

“Sekarang dapat (upah) 4.000 RM (Ringgit Malaysia),” katanya.

Bagi dia, upah merambah sawit masih terbilang kecil dibandingkan rekan seperantauan di Malaysia yang berprofesi sebagai mandor atau pun sopir angkutan buah sawit. Seperti cerita Sibawaeh, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kopang, Kabupaten Lombok Tengah. Sibawaeh yang sudah beristri dengan tiga anak ini bekerja di perkebunan sawit milik Koperasi Ladang Berhad, Malaysia.

Upah yang dia dapatkan dalam keahliannya sebagai sopir angkutan buah sawit dibayar dalam hitungan harian. Satu kali angkut, Sibawaeh dapat bayaran 40 RM. Dalam sehari, Sibawaeh bisa lima kali mengangkut hasil panen. Tak berbeda dengan Aweng, Sibawaeh mengelola baik upah yang dia dapatkan selama bekerja di Malaysia.  Niatnya bekerja memang untuk modal hidup di Lombok.

“Jadi saya yang cari modal, istri di kampung yang kembangkan,” katanya.

Tiga tahun bekerja di Koperasi Ladang Berhad, Sibawaeh merasa cukup. Meskipun sudah merasa nyaman dibandingkan bekerja di perkebunan sawit sebelumnya, dia pun membulatkan niat tahun depan pulang kampung.

“Cukup sudah. Saya mau pulang, kira-kira lima bulan lagi. Garap tanah yang saya beli. Bantu istri juga jualan sembako,” katanya.

Cerita Aweng dan Sibawaeh ini memberikan sedikit gambaran tentang kehidupan PMI di Negeri Jiran Malaysia yang bekerja secara prosedural. Upah seperti mereka pun bergantung dari produktivitas perusahaan. []

Sumber iNews

Advertisement
Advertisement