Saat Ilmu Kehilangan Tuhan, Manusia Kehilangan Arah
2 min read
JAKARTA – Ada yang salah dengan cara kita memahami ilmu hari ini. Kita hidup di zaman di mana informasi berlimpah, akses tak terbatas, dan teknologi semakin canggih—tetapi anehnya, manusia justru semakin kehilangan arah.
Kita tahu banyak hal, tetapi tidak tahu untuk apa hidup. Kita bisa menjelaskan dunia, tetapi gagal memahami diri sendiri. Di titik ini, problemnya bukan lagi soal kurangnya pengetahuan, melainkan rusaknya cara mengetahui.
Padahal, dalam Islam, revolusi ilmu sudah dimulai sejak wahyu pertama kepada Nabi Muhammad: “Iqra!”—bacalah. Namun, ini bukan sekadar membaca teks. Ini adalah deklarasi besar bahwa manusia harus membaca realitas, membaca dirinya, dan membaca wahyu secara utuh.
Dalam buku Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia, perintah ini bukan hanya bersifat spiritual, tetapi juga epistemologis—ia merupakan fondasi cara berpikir yang membebaskan manusia dari kegelapan menuju kesadaran tauhid. Iqra adalah gerakan emansipasi: membebaskan manusia dari kebodohan, dari taklid buta, dan dari kesombongan akal yang merasa cukup tanpa Tuhan.
Masalahnya, sejarah kemudian berjalan ke arah yang berbeda. Barat modern memecah cara mengetahui menjadi serpihan-serpihan. Rasionalisme ala René Descartes menjadikan akal sebagai raja tunggal: “Aku berpikir maka aku ada.” Seolah-olah, dengan berpikir saja, manusia dapat menemukan kebenaran tanpa bimbingan wahyu.
Empirisme yang dibangun oleh John Locke dan David Hume lalu mempersempit lagi: yang tidak dapat diindera dianggap tidak nyata. Puncaknya, positivisme Auguste Comte mengunci ilmu hanya pada yang terukur, seakan-akan mengusir Tuhan dari ruang pengetahuan.
Di sinilah tragedi itu dimulai: ilmu kehilangan ruhnya. Sains berkembang pesat, tetapi nilai runtuh. Teknologi melesat, tetapi moral tersesat. Manusia menjadi cerdas secara teknis, tetapi kosong secara eksistensial. Kita mampu menciptakan kecerdasan buatan, tetapi gagal memahami makna keberadaan kita sendiri. Kita bisa terhubung dengan seluruh dunia, tetapi terasing dari diri dan Tuhan.
Iqra datang untuk membalik semua itu. Ia bukan sekadar perintah membaca, melainkan perintah untuk mengintegrasikan cara mengetahui. Dalam Islam, akal tidak ditolak—tetapi tidak didewakan. Indera tidak diabaikan—tetapi tidak dijadikan satu-satunya ukuran. Wahyu tidak diasingkan—justru menjadi pusat orientasi.
Inilah yang ditegaskan dalam Iqra sebagai Epistemologi Esensial Manusia: bahwa kebenaran tidak lahir dari akal saja, tidak juga dari pengalaman semata, tetapi dari integrasi wahyu, akal, dan realitas dalam satu kesadaran tauhid.
Hari ini, kita perlu kembali kepada Iqra—bukan sebagai slogan, tetapi sebagai revolusi cara berpikir. Sebab, krisis terbesar yang kita hadapi bukanlah krisis ekonomi atau teknologi, melainkan krisis epistemologi: kita keliru dalam memahami ilmu. Kita sibuk mengumpulkan informasi, tetapi lupa mencari makna. Kita bangga menjadi pintar, tetapi tidak sadar sedang kehilangan arah.
Dan mungkin, inilah pertanyaan paling jujur untuk kita hari ini: kita sudah banyak membaca, tetapi… apakah kita sudah benar-benar “Iqra”? []
Penulis : Muhammad Hidayatulloh (Cak Muhid); Penulis buku seri Epistemologi Qur’ani
