October 16, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Saat Mendengar Nasehat, Gunung Saja Tunduk, Mengapa Hati Manusia Membatu ?

3 min read

JAKARTA – Gunung yang kokoh digambarkan dalam Al-Qur’an dapat tunduk dan terpecah karena takut kepada Allah apabila kepadanya diturunkan Al-Qur’an.

Gambaran ini mengajak kita bertanya: jika gunung saja menjadi simbol ketundukan, mengapa hati manusia terkadang menerima ayat Allah tanpa perubahan? Di sinilah introspeksi menjadi kebutuhan setiap hamba.

Allah berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 21:

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Seandainya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.”

Ayat ini mengingatkan bahwa persoalan bukan hanya banyaknya dosa, tetapi ketika dosa tidak lagi mengusik hati. Manusia dapat berbuat salah karena kelemahan, tetapi yang perlu diwaspadai adalah ketika maksiat dianggap biasa, tidak menimbulkan penyesalan, dan tidak mendorong perubahan.

Introspeksi bukan tanda kelemahan. Kesediaan bertanya, “Apa yang salah dalam hidupku?” justru menunjukkan bahwa hati masih memiliki kepekaan. Allah membuka pintu ampunan bagi hamba yang mau kembali kepada-Nya.

Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”

Ayat ini mengajarkan keseimbangan antara takut dan harapan. Kita tidak boleh merasa aman dari dosa, tetapi juga tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Ketika menyadari kesalahan, jalan yang benar adalah segera bertobat dan memperbaiki diri.

Menjaga Amanah Anggota Tubuh
Anggota tubuh adalah amanah. Mata harus dijaga dari yang haram, lisan dari dusta dan fitnah, tangan dari mengambil hak orang lain, telinga dari keburukan, dan kaki dari menuju kemaksiatan.

Allah berfirman dalam Surah Yasin ayat 65:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”

Karena itu, tubuh bukan sekadar fasilitas kehidupan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Jangan hanya bertanya, “Apakah saya mampu melakukannya?” tetapi bertanyalah, “Apakah Allah meridai saya melakukannya?”

Rasulullah bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Artinya: “Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang banyak bertobat.”

Hadis ini mengajarkan bahwa manusia memang dapat tergelincir. Namun, kesalahan bukan alasan untuk terus berada dalam kesalahan. Tobat harus disertai penyesalan, meninggalkan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Jika menyangkut hak manusia, hak tersebut harus dikembalikan atau diselesaikan dengan cara yang benar.

Melembutkan Hati dengan Tobat
Jangan menunggu hati sempurna untuk kembali kepada Allah. Jangan menunggu menjadi baik untuk membaca Al-Qur’an. Bacalah Al-Qur’an agar hati belajar menjadi baik. Jangan menunggu tidak berdosa untuk berdoa. Berdoalah karena kita adalah hamba yang senantiasa membutuhkan pertolongan Allah.

Renungan tentang gunung pada akhirnya adalah cermin bagi manusia. Jika gunung saja digambarkan tunduk ketika berhadapan dengan kebesaran wahyu Allah, manusia seharusnya lebih sungguh-sungguh menghadirkan rasa takut, cinta, hormat, dan ketundukan kepada-Nya.

Mari bertanya kepada diri sendiri: apakah setelah membaca Al-Qur’an hati kita berubah? Apakah setelah mendengar nasihat kita menjadi lebih berhati-hati? Apakah setelah menyadari dosa kita segera bertobat? Apakah mata, telinga, lisan, tangan, dan kaki kita semakin banyak digunakan untuk kebaikan?

Jika hari ini masih ada dosa, jangan membenarkannya. Jika ada kesalahan, jangan menunda untuk memperbaikinya. Sebelum anggota tubuh menjadi saksi di akhirat, jadikanlah ia saksi kebaikan sejak sekarang.

Semoga Allah melembutkan hati kita terhadap kebenaran, menjaga seluruh anggota tubuh dari kemaksiatan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima tobat kita, dan membimbing langkah menuju jalan yang diridai-Nya.

Tanda kehidupan hati bukanlah tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, memohon ampun, kemudian kembali kepada Allah. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply