November 24, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Sakit-Sakitan, Didzalimi Majikan, PMI Asal Indramayu Meninggal Dunia Saat Perjalanan Pulang

3 min read
Prime Banner

INDRAMAYU – Nasib mujur tak selalu didapatkan pekerja migran Indonesia di negara penempatan. Bagi yang bernasib mujur, pundi-pundi uang bisa mereka kumpulkan dengan suasana nyaman selama bertahun-tahun bekerja di negara penempatan, hingga saat memutuskan seterusnya pulang ke kampung halaman, yang bersangkutan bisa menikmati jerih payah yang dikumpulkan dalam kondisi sehat walafiat bersama orang-orang tercinta dengan kehidupan baru tak seperti sebelum merantau ke luar negeri.

Namun jika mujur tidak berpihak, jangankan pundi-pundi uang untuk memperbaiki kondisi perekonomian, keselamatan jiwa raga seringkali tidak didapatkan.

Seperti yang dialami oleh Ruri Alfath Mujaida (25), seorang pekerja migran Indonesia asal Indramayu kali ini.

Derita Ruri cukup memilukan. Berawal tidak mendapat restu suami saat dirinya akan berangkat bekerja ke luar negeri, didzalimi majikan sesampai di negara penempatan, sakit-sakitan hingga hidup dalam pelarian, dan ujungnya meninggal dunia saat dalam perjalanan pulang ke kampung halaman.

Menurut kakak Ruri, Juju Juhaeriyah (41), Ruri berangkat ke Malaysia pada tiga tahun lalu. Tujuannya adalah untuk memperbaiki perekonomian keluarga, dan membantu orang tua. Apalagi, teman-temannya banyak yang sukses dan membangun rumah.

“Akhirnya Ruri pergi ke Malaysia melalui sponsor,” ujarnya saat ditemui di kediamannya di Blok Bloran I Desa Parean Girang Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu, Selasa (20/10/2020), dikutip dari Times Indonesia.

Kepergian Ruri ke Malaysia ini tidak direstui suaminya. Namun, Ruri tetap nekad berangkat ke Malaysia.

Juju melanjutkan, saat berangkat ke Malaysia tersebut, Ruri sama sekali tanpa visa dan paspornya pun tidak diketahui apakah asli atau tidak. Dia berangkat melalui jalur air. Transitnya ke Batam dahulu, baru kemudian langsung ke Malaysia.

Dari cerita Ruri, lanjut Juju, selama setahun awal dia tidak mendapatkan gaji. Ruri dan tenaga kerja lainnya yang bekerja di majikan Malaysia tersebut, kerap disiksa.

“Begitu majikannya hamil dan dirawat di rumah sakit, Ruri dan lainnya kabur,” jelasnya.

Setelah kabur, Ruri bekerja serabutan demi mengisi perutnya. Dia pun tinggal di sebuah rumah kontrakan. Di sana, dia bertemu dengan kawan asal Myanmar yang juga bekerja di Malaysia.

Kondisi Ruri sempat menurun akibat menderita penyakit TBC, sekitar 5 bulan lalu. Teman Myanmar tersebut membantu Ruri menjalani pengobatan di rumah sakiit dan membiayainya.

Kondisi Ruri yang terus menurun dan tubuhnya menjadi kurus kering. Pihak keluarga pun berkoordinasi dengan pihak Tim Reaksi Cepat Tanggap Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Indramayu, untuk segera memulangkan Ruri ke tanah air, dan bisa dirawat oleh keluarganya.

Namun ternyata takdir berkata lain. Dalam perjalanan menuju Batam, Ruri menghembuskan nafas terakhir, akibat tidak kuat menahan sakit yang dideritanya. Jenazahnya pun dibawa kembali ke Malaysia dan masuk rumah sakit.

Pihak keluarga mengalami kesulitan untuk memulangkan jenazah Ruri. Pasalnya, pihak agensi meminta sejumlah uang kepada keluarga Ruri, agar jenazahnya bisa dipulangkan kembali ke Indramayu.

Juju menjelaskan, pihak keluarga dimintai uang sejumlah Rp 32 juta supaya jenazah bisa dipulangkan kembali ke tanah air dan dimakamkan di kampung halamannya. Kalau tak mampu, pihak keluarga diminta membayar Rp 9,9 juta supaya jenazah bisa dimakamkan di Malaysia.

Pihak keluarga tentu saja tidak sanggup untuk membayar uang sebanyak itu. Apalagi, kondisi keluarga yang tidak mampu dan sedang berduka karena meninggalnya Ruri. “Pengennya pulang dimakamkan di sini. Tapi jenazahnya masih tertahan di rumah sakit di Malaysia,” ungkapnya.

Juju mengaku sangat kehilangan adik bungsunya tersebut. Pasalnya, Ruri meninggalkan dua orang anak yang masih kecil. Apalagi, Ruri dan suaminya sudah berpisah.

Sebelum meninggal, Juju sempat video call bersama Ruri, bahwa Ruri ingin pulang dan sudah tidak kuat dengan kondisinya saat itu.

“‘Ruri mau pulang, sudah tidak kuat. Dari situ saya nangis,” tutur Juju menirukan ucapan Ruri.

Saat ini, pihak keluarga PMI Indramayu itu, dibantu oleh Tim Reaksi Cepat Tanggap Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Indramayu, sedang berusaha agar jenazah Ruri bisa dipulangkan dan secepatnya dimakamkan di tanah kelahirannya. []

Advertisement