August 16, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Sedang Dipelajari, Mengurangi Durasi Karantina di Hong Kong Menjadi 14 Hari

2 min read
Microbiologist and government adviser Professor Yuen Kwok-yung. Photo K.Y. Cheng SCMP

Microbiologist and government adviser Professor Yuen Kwok-yung. Photo K.Y. Cheng SCMP

HONG KONG – Situasi pandemi diseluruh dunia memang belum benar-benar reda. Letupan letupan dan temuan varian baru terus mewarnai informadsi berbagai media. Berbagai dampak dan analisa terus dilakukan dalam rangka hidup berdampingan dengan pandemi corona.

Selama ini, Hong Kong termasuk menjasi salah satu negara yang memberlakukan aturan sangat ketat di tingkat dunia. Durasi karantina selama 21 hari disebut sebagai durasi ketat dan panjang dibanding dengan negara-negara lainnya di belahan bumi ini.

Hal tersebut diputuskan tentu bukan tanpa alasan. Dasar-dasar penelitian berbasis keilmuan, menjadi konstruksi pengambilan sebuah keputusan diberlakukan, dirubah, atau bahkan diberhentikan pemberlakuannya.

Salah satu keputusan penting tersebut termasuk dalam hal durasi karantina yang saat ini diberlakukan selama 21 hari lamanya.

Mengikuti update situasi, melalui siaran radio RTHK hari ini (10/01/2021), Ahli mikrobiologi Universitas Hong Kong Yuen Kwok-yung menyampaikan, bahwa pakar epidemiologi Hong Kong saat ini tengah mengkaji kemungkinan pengurangan durasi karantina yang selama ini selama 21 hari, diperpendek menjadi selama 14 hari saja.

Jika gagasan tersebut disetujui, diawal masa pemberlakuannya, pelaku perjalanan yang menjalani karantina diminta agar melanjutkan karantina mandiri di rumah masing-masing setelah 14 hari menjalani karantina di pusat karantina.

Selama seminggu setelah karantina, keberadaan pelaku perjalanan tetap dalam pantauan petugas. Gelang yang terhubung dengan aplikasi akan dipasang agar petugas bisa memantau pergerakan pelaku perjalanan selama menjalani karantina mandiri lanjutannya selama sepekan.

Namun hal tersebut rasanya masih belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat, lantaran penularan infeksi virus corona, terlebih varian omicron telah ditemukan di klaster lokal dan beberapa diantaranya tidak diketahui sumber penularannya.

Salah satu yang mengemukakan kekhawatirannya adalah Profesor dari China’s University of Hong Kong, David Hui.

David mengatakan, situasi bertambah pelik saat beberapa waktu lalu sekelompok politisi papan atas dan sekelompok pejabat tinggi kedapatan terlibat dalam sebuah gelaran pesta yang mengabaikan protokol kesehatan.

Gelaran pesta tersebut tentu menambah beban kerja petugas yang menangani pandemi di Hong Kong lantaran mereka menjadi disibukan dengan aktifitas tracking, tracing serta testing.

David menambahkan, situasi akan kembali kondusif jika semua pihak bisa disiplin menegakan protokol kesehatan. []

Advertisement
Advertisement