Sedang Diupayakan, Setiap Puskesmas Nantinya Bakal Ditaruh Psikolog Klinis
2 min read
JAKARTA – Kementerian Kesehatan, melalui kolaborasi dengan kolegium dan universitas, mengejar pemerataan psikolog klinis di puskesmas untuk memperkuat tata laksana dan tindak lanjut layanan kesehatan jiwa bagi anak-anak dan remaja.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Maria Endang Sumiwi mengatakan, psikolog klinis saat ini lebih dominan di tiga daerah, yakni Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.
Karena itu, pihaknya membuat aturan agar daerah-daerah yang mampu untuk segera melengkapi puskesmas dengan tenaga tersebut, mengingat kebutuhannya yang tinggi.
“Tapi selain itu dengan adanya Surat Keputusan Bersama (SKB) kita bisa kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Menengah dan Dasar ya. Sekolah-sekolah dengan guru BK, karenanya kita membutuhkan perlindungan data. Jadi SKB ini dibutuhkan supaya nanti kerahasiaan tetap terjamin,” katanya, seperti dilansir Antara, Senin (9/3).
Endang menyebutkan bahwa ketersediaan tenaga puskesmas untuk saat ini masih terbatas, sehingga konseling juga kurang efektif. Oleh karena itu, melalui SKB sembilan menteri dan kepala lembaga, guru-guru akan dibekali dengan kemampuan bimbingan dan konseling.
Selain psikolog klinis, katanya, pihaknya juga mengusahakan untuk menyelesaikan isu dari hulunya melalui upaya promotif dan preventif, seperti edukasi mengenai pengasuhan positif.
“Nah kita memang bukan hanya mengusahakan psikolog klinis di puskesmas tapi dari hulunya dulu. Hulunya tadi Pak Menkes menyampaikan tentang pengasuhan positif. Pengasuhan positif pertamanya memang untuk orang tuanya dulu mengevaluasi dirinya sendiri dulu,” katanya.
Pihaknya sudah berdiskusi lebih lanjut dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga untuk melaksanakan pendekatan promotif-preventif secara bersama-sama.
Selain itu, katanya, SKB juga menjabarkan tentang penanganan secara kolaboratif, seperti bersama Kementerian Sosial, misalnya ketika menemukan anak yang ingin bunuh diri, tetapi ingin sekolah dan berprestasi.
“Nah kemudian di-link-kan dengan Kemensos, dengan Sekolah Rakyat. Jadi ini sebetulnya masalah jiwa, tetapi ternyata butuh dukungan sosial,” ujarnya. []
