October 21, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Serupa Tapi Tak Sama, Begini Pengertian dan Perbedaan NPD dengan Narsistik

3 min read

JAKARTA – Orang mungkin sering salah paham dengan makna NPD dan narsistik. Perbedaan mereka ternyata jelas bisa kita lihat, lho. Yuk, kenali ciri-cirinya!

Tahukah kamu bahwa sifat narsistik berbeda dengan NPD (narcissistic personality disorder)? Mereka mungkin berkaitan, tapi tak sama.

Kita bisa saja pernah bertemu seseorang yang selalu ingin pendapatnya didengar, senang mendapat pujian, ataupun sulit mengakui kesalahan, dan orang seperti ini akan diklaim langsung sebagai narsistik. Terlebih, istilah tersebut juga kerap digunakan di media sosial untuk menggambarkan pasangan, teman, bahkan rekan kerja.

Namun, ada batas perbedaan antara menyebut seseorang narsistik dan mengatakan bahwa ia mengalami narcissistic personality disorder (NPD). American Psychiatric Association (20/10/2026) menjelaskan bahwa sifat narsistik dapat ditemukan pada banyak orang, sedangkan NPD melibatkan pola yang lebih menetap, bermasalah, dan berdampak pada kehidupan seseorang.

Berikut penjelasan yang bisa kamu simak, dilansir dari Cleveland Clinic (2024).

Apa yang dimaksud sifat narsistik?
Sifat narsistik berkaitan dengan perhatian berlebih pada diri sendiri, kebutuhan akan pengakuan, atau keinginan untuk dianggap istimewa. Tapi dalam kadar tertentu, seseorang bisa ingin dipuji, bangga terhadap pencapaiannya, dan sesekali kesulitan menerima kritik tanpa otomatis mengalami gangguan kepribadian.

Contohnya, seseorang mungkin terus membicarakan keberhasilannya ketika berkumpul bersama teman atau merasa kesal ketika pendapatnya tidak disetujui. Perilaku tersebut bisa menjadi bahan refleksi, tetapi satu atau dua kejadian tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa orang tersebut memiliki NPD.

Lalu, apa itu narcissistic personality disorder?
NPD merupakan gangguan kepribadian yang ditandai pola menetap berupa rasa penting pada diri sendiri yang terjadi secara berlebihan, tak hanya itu mereka butuh dengan kekaguman, dan kesulitan memahami atau mempertimbangkan perasaan serta kebutuhan orang lain.

Menurut Cleveland Clinic, NPD memiliki kriteria klinis tertentu. Dampaknya bisa terlihat pada hubungan interpersonal, pekerjaan, maupun kemampuan seseorang menghadapi kritik dan kegagalan. Diagnosisnya membutuhkan penilaian profesional, bukan sekadar mencocokkan perilaku dengan daftar yang ditemukan di internet.

Apa perbedaan narsistik dan NPD?
Ciri-ciri perbedaan sifat narsistik dan NPD ternyata dapat terlihat dengan mudah. Berikut hal perbandingan yang bisa kamu simak:

1. Narsistik sering memiliki ciri atau kecenderungan perilaku, sedangkan NPD merupakan gangguan kepribadian yang harus didiagnosis secara klinis.
2. Pola dan perilaku mereka berbeda, bagi narsistik, perilakunya bisa muncul sesekali atau dalam situasi tertentu. Berbeda dengan NPD, polanya menetap dan muncul dalam berbagai konteks.
3. Dampak sifat bagi seorang narsistik bergantung pada perilaku dan situasi. Beda hal dengan NPD yang dapat menimbulkan gangguan pada hubungan dan fungsi kehidupan.
4. Narsistik tidak otomatis menunjukkan gangguan mental, sedangkan NPD memerlukan evaluasi profesional berdasarkan kriteria klinis.

Perbedaan utamanya bukan sekadar seberapa sering seseorang ingin dipuji atau seberapa sulit menerima kritik. Yang juga penting adalah pola perilaku secara keseluruhan, konsistensinya dalam berbagai situasi, serta dampaknya terhadap kehidupan. Sifat tertentu saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis NPD.

Kesimpulan
Lantas, apakah merasa selalu benar atau sulit dikritik berarti NPD? Perilaku seperti ini bisa terasa melelahkan bagi orang di sekitarnya. Namun, penyebabnya bisa beragam dan tidak otomatis menunjukkan NPD.

Penilaian klinis mempertimbangkan lebih banyak hal daripada satu perilaku yang terlihat dari luar. Karena itu, alih-alih terburu-buru memberi label, akan lebih berguna jika kamu memperhatikan perilaku konkret, seberapa sering pola itu terjadi, dan bagaimana dampaknya terhadap hubungan.

Istilah psikologi yang populer memang dapat membantu kita memberi nama pada pengalaman yang sulit dijelaskan. Namun, jika setiap orang yang egois, suka pamer, atau tidak sependapat langsung disebut narsistik atau memiliki NPD, makna istilah klinis bisa menjadi kabur.

Memahami perbedaannya bukan berarti harus membenarkan perilaku yang menyakiti orang lain. Kita tetap bisa menetapkan batasan, membicarakan dampak perilaku, dan mencari bantuan jika suatu hubungan terasa tidak sehat tanpa harus memastikan diagnosis orang lain terlebih dahulu. []

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply