November 29, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Servulus : Miris, Banyak BMI Yang Wawasan dan Pendidikannya Hanya SMP Ke Bawah

2 min read
-

JAKARTA – Sebuah data mengejutkan baru saja dirilis BNP2TKI.  Data tersebut adalah tabulasi data permasalahan BMI berdasarkan catatan pengaduan yang masuk ke BNP2TKI sejak Januari hingga Agustus 2017. Belum genap setahun, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) telah menerima 2.949 aduan.

Berbagai ragam persoalan yang diadukan baik melalui surat pos, email, Whatsapp, SMS, Telpon hingga yang datang sendiri ke pos pelayanan pengaduan BNP2TKI, masalah gaji tidak dibayar, merupakan aduan yang menduduki urutan tertinggi.

Kepala Bagian Humas BNP2TKI Servulus Bobo Riti dalam keterangan pers nya menyebut, disamping gaji tidak dibayar, PHK, overstay, dan gagal berangkat memiliki posisi rangking kedua hingga rangking ke lima dari total aduan.

Sebagaimana yang diberitakan oleh Indopos.co.id, Servulus mengatakan terdapat 6 kategori media pengaduan yang difasilitasi Crisis Center BNP2TKI. Pengaduan melalui surat sebanyak 1.030, sebanyak 931 kasus dengan mendatangi langsung kantor BNP2TKI, 562 melalui telepon, layanan pesan e-mail 200, dan lain-lainnya 221 kasus.

“Dengan demikian, sepanjang periode Januari-Agustus 2017 ini, sebanyak 2.949 kasus telah diterima dan diproses BNP2TKI,” tuturnya.

Berdasarkan data Crisis Center BNP2TKI, apabila dilihat dari sisi tempat kejadian kasus yang dilaporkan, persebaran terbanyak masih didominasi di kawasan Asia-Pasifik dan Timur Tengah.

Sebagai gambaran, 10 besar negara penempatan dan yang terbanyak memperoleh pengaduan meliputi Malaysia sebanyak 994 aduan, Arab Saudi 702, Taiwan 417, Uni Emirat Arab 147, Singapura 121, Brunei Darussalam 81, Hong Kong 80, Qatar 51, serta Oman dan Bahrain masing-masing 48 kasus.

“Sisanya tersebar di berbagai negara tujuan penempatan dengan sebaran yang sangat bervariasi di kisaran angka 1-30-an kasus,” ungkapnya.

Berdasarkan data yang ada, menurut Servulus jumlah BMI yang ditempatkan di luar negeri pada periode Januari sampai Agustus 2016 mencapai angka 156.601 orang. ” Penurunan ini ditengarai karena faktor pertumbuhan ekonomi regional dan global yang mengalami kelesuan atau stagnan. Sehingga permintaan tenaga kerja asing untuk mengisi sektor-sektor padat karya seperti pembangunan konstruksi agak menurun,” ujar Servulus Bobo Riti di kantornya, Kamis (28/9).

Servulus menjelaskan, bahwa penempatan BMI keluar negeri dibagi dalam dua sektor, yakni formal dan informal. Data dari BNP2TKI, dari total 148.285 BMI yang sudah ditempatkan, jumlah TKI yang bekerja di bidang formal mencapai  83.943 orang. Sedangkan BMI yang bekerja di bidang informal sebanyak 64.342 orang.

Para BMI tersebut, dikatakan Servulus memiliki latar belakang pendidikan 65 persen lulusan SD dan SMP. Mayoritas, tenaga kerja dari Indonesia perempuan sebanyak 93.641 dan laki-laki sebanyak 54.644 orang.

“Terbesar mereka berasal dari 5 daerah yaitu Jawa Barat sebanyak 31.027 orang, Jawa Tengah sebanyak 29.394 orang, Jawa Timur 27.381 orang, Nusa Tenggara Barat 23.859 orang, Sumatra Utara 11.952 orang. Berdasarkan Kabupaten/Kota yaitu tertinggi Kabupaten Lombok Timur 10.621 orang, Indramayu 10.390 orang, Lombok Tengah 6.917 orang, Cirebon 6.408 orang, dan Cilacap 5.448 orang,” bebernya.

Data dari BNP2TKI juga mencatat negara-negara yang menjadi tempat persebaran BMI di luar negeri. Dari 26 negara yang paling banyak terdapat TKI, tercatat 10 negara terbesar untuk penempatan TKI yaitu Malaysia sebanyak 60.624 orang, Taiwan 48.737 orang, Hong Kong 9.687 orang, Singapore 11.175 orang, Saudi Arabia 10.006 orang, Brunei Darussalam 5.416 orang, Korea Selatan 4.266 orang, United Arab Emirates 1.937 orang, Oman 718 orang, dan Qatar 794 orang. [Asa/nas]

Advertisement
Advertisement