March 13, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Suara Pekerja Migran Perempuan dalam Sastra Buruh Migran Indonesia

2 min read

JAKARTA – Berbicara tentang pekerja migran perempuan domestik dan dikaitkan dengan sastra, di Indoensia sendiri terdapat Sastra Buruh Migran Indonesia (SBMI). Awal mula kemunculan wadah tersebut berawal dari Denok, seorang pekerja migran Indonesia dari Hong Kong. Dirinya mempublikasikan kumpulan cerpen yang informasinya dimuat dalam buku memoar karya Bayu Insan dan Ida Raihan.

Berkaitan dengan hal tersebut, dialog Pengarus Utamaan Gender Pro 1 RRI Purwokerto bersama Tri Muniarti, S.S.,M.Hum.,Ph.D – Koordinator Pusat Riset Gender dan Anak LPPM Unsoed yang membahas tema “Pekerja Migran Perempuan dan Sastra Buruh Migran Indonesia”.

Tri menuturkan bahwa jika melihat secara umum dari tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh para pekerja migran perempuan domestik, terdapat beberapa hal yang mendeskripsikan kondisi mereka. “Tapi yang sering kita dengar di media adalah yang pertama pekerjaan migran adalah sebagai penyumbang devisa dari remitensinya seperti itu. Atau kemudian ada kasus, mereka ada dijatuhi hukuman pra-keberangkatan sebelum mereka pergi ke negara tujuan. Kemudian yang kedua adalah saat mereka sudah sampai di negara tujuan, di situ ada tantangan apa saja,” jelasnya.

Hal tersebut tentunya sangat berkaitan dengan psikologis para imigran tersebut. Dalam hal ini Tri menyampaikan berdasarkan hasil pembacaannya terhadap tulisan-tulisan sastra yang dihasilkan bahwa keadaan yang memengaruhi psikologis para imigran di antaranya perasaan sedih ingin pulang dan tidak ada tempat untuk bercerita.

Tri juga menyampaikan bahwa perbedaan gender juga akan berpengaruh terhadap pengalaman yang akan ditemui oleh para imigran perempuan. Misalnya dalam perlakuan, antara laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. Tri mencontohkan dalam satu buku seorang perempuan. ”Jadi dari salah satu cerpennya, dia mengatakan dia sedang mengurus semacam ganti paspor seperti itu di KBRI yang ada di sana, dan dia merasa bahwa ada perlakuan yang berbeda kepada dia yang seorang pekerja domestik seperti itu. Jadi di sini saya melihat, di situ penulisnya itu mempertanyakan, kok negara masih memerlukan saya seperti ini,” ungkapnya.

Sastra Buruh Migran Indonesia menjadi ruang bagi pekerja migran perempuan untuk menyuarakan pengalaman dan tantangan yang mereka alami. Tulisan-tulisan tersebut juga menggambarkan dampak psikologis, seperti rasa rindu dan keterbatasan tempat bercerita. Selain itu, perbedaan gender turut memengaruhi pengalaman serta perlakuan yang merkea terima. []

Sumber RRI

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply