November 29, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Sukses Marwan, Butuh Komitmen Untuk Mewujudkan

3 min read
-

”Dulu, ketika masih belum nemu jalan cari uang, pilihan saya ya merantau ke Malaysia seperti kebanyakan tetangga. Padahal, setelah saya renungkan, praktis saya tidak mendapat kemajuan apa-apa yang bisa dibawa pulang ke Sampang selain sedikit tabungan,” tutur Marwan, mengawali percakapan dengan Apakabar Plus.

”Lambat laun, saya berpikir, semakin lama saya di perantauan, sama saja dengan semakin lama saya menunda untuk memulai hidup di kampung halaman,” imbuhnya.

Marwan, seorang peternak ayam yang terbilang sukses untuk ukuran kampungnya: RT 03/RW 01 Desa Samaran, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang – Madura ini merupakan combatan pekerja migran di Malaysia. Bapak dua anak yang formalitas pendidikannya hanya tamatan SD ini, merantau ke Malaysia antara 2003-2008. Beberapa tempat di negeri jiran pernah ia singgahi untuk bekerja. Termasuk, berbagai jenis pekerjaan pernah ia lakoni demi ringgit yang bisa mengisi rekening tabungan.

”Waktu bekerja di peternakan milik pengusaha keturunan Arab di daerah Johor Bahru, saya jadi terinspirasi dengan usaha juragan saya. Selama bekerja di situ, saya sudah membulatkan tekad, saya bekerja sambil mempelajari seluk beluk beternak ayam,” kenangnya.

Dua tahun Marwan bekerja di peternakan tersebut. Lama kelamaan, sang juragan melihat keseriusan pegawainya dalam bekerja, maupun saat bertanya mengenai seluk beluk peternakan.

”Saat itulah saya mengutarakan niat, nanti kalau sudah pulang ke Madura, saya ingin membuka usaha peternakan ayam,” lanjutnya.

Niat Marwan mulai diwujudkan pada 2009. Dengan modal awal sebesar Rp 35 juta pada saat itu, Marwan memulai usaha peternakan ayam kampung di pekarangan belakang rumahnya. Modal awal sebesar itu ia gunakan untuk membangun sebuah kandang berikut instalasinya, yang meliputi instalasi air, instalasi listrik dan instalasi penghangat, serta beberapa peralatan pendukung.

Tahun pertama beternak ayam, Marwan merasakan usahanya seperti berjalan di tempat. Biaya produksi dengan hasil penjualan tipis sekali selisihnya. Bahkan, pada 2012, usaha Marwan nyaris bangkrut. Itu terjadi setelah ia merugi akibat mewabahnya penyakit thelo yang dahsyat menyerang peternakannya.

Marwan nyaris menyerah. Namun, saat melihat perut istrinya semakin membuncit mengandung anak pertama, semangatnya kembali berkobar. Berbekal kemampuan membaca dan menulis, Marwan mengunjungi perpustakaan daerah dan perpustakaan dinas peternakan Sampang untuk belajar. Beberapa temuan yang tidak ia pahami, ia konsultasikan dengan petugas penyuluh peternakan di dinas tersebut.

Akhirnya, sebulan menjelang kelahiran anaknya, Marwan mampu meraup keuntungan bersih hingga Rp 12 juta, hasil penjualan ayam kampung dari kandangnya. Kini, setelah delapan tahun berjalan, setiap bulan Marwan rata-rata beroleh keuntungan bersih di kisaran Rp 17 juta dari hasil penjualan ayamnya. Marwan membuat pola usia ternak di kandangnya dengan selisih seminggu. Hal ini dimaksudkan agar ia bisa melepas ternaknya seminggu sekali, sesuai dengan usia ayam.

Hal ekstrem terkait kandang pun ia rombak. Saat itu, Marwan memecah kandang lamanya menjadi tiga bagian dengan tujuan meminimalkan efek penularan penyakit. Masing-masing kandang memiliki kapasitas 250 – 300 ekor ayam kampung.

Selain itu, selama tiga tahun terakhir, Marwan menggandeng jaringan ”pemain ayam” di Sampang yang hampir seluruhnya merupakan mantan pekerja migran. Di antara mereka ada yang berposisi sebagai supplier bibit ayam dengan usaha penetasannya, ada yang berposisi sebagai pedagang ayam, dan ada pula yang berposisi sebagai pengusaha kuliner berbasis ayam kampung.

Dampak positif dari terbangunnya jaringan ini, Marwan mampu menambah kandangnya dari tiga kandang menjadi lima kandang dengan kapasitas sama. Dari lima kandang tersebut, okupansi ayam yang ada di seluruh kandang Marwan berjumlah antara 1.250-1.500 ekor ayam kampung.

”Yang harus saya jaga kesehatannya bukan hanya ayam di kandang, tapi juga jaringan yang terbangun selama tiga tahunan terakhir. Tanpa mereka yang tergabung dalam jaringan, berat rasanya usaha ini bisa berjalan. Dan satu lagi, untuk menjalankan usaha seperti ini, keberhasilan akan sulit dicapai apabila kita tidak memiliki komitmen yang jelas,” pungkas Marwan. [AA Syifa’i SA]

Advertisement
Advertisement