December 6, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Survei : Minat Warga Indonesia Terhadap Mobil Listrik Cukup Tinggi, Siap Hijrah Teknologi ?

4 min read
-

JAKARTA – Dua hingga tiga tahun lagi, mobil listrik produksi pabrik di Indonesia diproyeksi akan bermunculan. Industri nikel yang sumber dayanya ada di negeri ini, diyakini akan terintegrasi dengan industri otomotif dalam negeri.

Nikel dan olahan nikel memang menjadi komoditas krusial dalam ekosistem industri mobil listrik. Nikel dibutuhkan sebagai bahan pembuat katoda baterai, besi antikarat, dan baterai lithium yang merupakan komponen penting dalam manufaktur mobil listrik.

Dengan memperoleh nilai tambah dari nikel, bauksit, dan tembaga, Indonesia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk ambil bagian dalam pesta dunia menyambut era mobil listrik.

Alih-alih mengekspor nikel mentah, Indonesia sudah seharusnya memanfaatkan momentum ini. Sebab, kita punya kelebihan yang tak dimiliki banyak negara lain.

Setidaknya, demikianlah yang diyakini oleh Presiden RI Joko Widodo di Istana Negara, awal Oktober 2021 lalu.

Mobil listrik memang kerap disebut-sebut sebagai kendaraan ramah lingkungan. Berbeda dengan mobil konvensional yang menggunakan energi fosil, mobil listrik digerakkan dengan energi listrik yang tersimpan dalam baterai atau penyimpan energi lainnya.

Dengan begitu, emisi yang dihasilkan lebih rendah, bahkan nol, sehingga disebut-disebut bisa mengurangi pemanasan global.

Karena dinilai mampu berkontribusi terhadap perbaikan lingkungan dan penyelamatan bumi, pengembangan mobil listrik menjadi salah satu perhatian Pemerintah Indonesia.

Meskipun belakangan klaim terlalu “hijau” tersebut acap kali dikritik oleh sebagian pihak karena masih menggunakan listrik dari pembangkit berbahan fosil, greget mobil listrik nyatanya lebih kuat dibanding kritikan tersebut.

Hal ini bisa tergambar dari survei kecil-kecilan yang dilakukan Visi Teliti Saksama terkait pandangan masyarakat terhadap mobil listrik. Survei yang dilakukan 19-27 Oktober 2021 ini diikuti 105 responden yang mayoritas berdomisili di Jabodetabek (85,7%), berusia 24-34 tahun (62,9%), berpendidikan D3/S1 (85,7%), dan bekerja sebagai pegawai swasta (57,1%). Responden terdiri dari 51,4% perempuan dan 48,6% laki-laki.

Untuk keperluan sehari-hari, sebagian besar mereka mengeluarkan Rp1-5 juta (45,7%) dan Rp6-10 juta (35,2%) per bulan. Dari 105 responden tersebut, hanya 16 orang atau 15,2% responden yang punya pengalaman mencoba mengendarai mobil listrik.

Nah, di antara 16 orang tersebut, hanya ada 4 orang yang memang sudah memiliki dan menggunakan mobil listrik sehari-hari, dan hanya 1 orang yang menilai mobil listrik lebih boros energi daripada mobil bensin berdasarkan pengalamannya.

Sementara itu, 15 orang lainnya menilai mobil listrik justru lebih hemat energi dibandingkan mobil bensin.

Visi Teliti Saksama selanjutnya melakukan uji pengetahuan responden akan mobil listrik. Pertanyaan-pertanyaan yang diujikan yaitu tentang definisi mobil listrik, cara merawat mobil listrik, cara mengisi baterai mobil listrik, cara merawat baterai mobil listrik, dan biaya isi daya mobil listrik.

Hasilnya, setiap pertanyaan memperoleh lebih dari setengah responden yang menjawab benar. Bahkan, seluruh responden menjawab benar soal definisi mobil listrik (100%). Setelah menanyakan pengalaman dan pengetahuan di atas, survei berlanjut ke pertanyaan tentang sikap responden.

Meski sebagian besar responden belum pernah mencoba mengendarai mobil listrik, berdasarkan yang mereka baca dan pelajari, mayoritas mereka setuju bahwa masyarakat sebaiknya beralih dari mobil bensin ke mobil listrik (81,9%). Sejalan dengan hal tersebut, mereka setuju dengan klaim mobil listrik ramah lingkungan (91,4%) dan hemat energi/murah dalam pengisian daya (83,8%).

Lalu, apakah mereka memiliki kekhawatiran akan dampak negatif jika menggunakan mobil listrik? Ternyata, kesulitan mencari stasiun pengisian daya menjadi kekhawatiran terbesar mereka (61,9%). Hanya sedikit sekali yang mengaku tidak punya kekhawatiran (2,9%).

Sementara itu, saat ditanya mengenai kekhawatiran terbesar akan dampak lingkungan dari mobil listrik, kekhawatiran terbesar mereka adalah limbah baterai berbahaya dan beracun (27,6%), diikuti dengan sumber listriknya dari PLTU batu bara yang menyumbang emisi (21%).

Namun, di samping segala kekhawatiran tersebut, dominan responden tetap tertarik membeli atau menggunakan mobil listrik untuk sehari-hari (75,2%). Alasan terbanyaknya adalah karena ramah lingkungan.

Sementara itu, dari 24,8% responden yang tidak tertarik membeli atau menggunakan mobil listrik sehari-hari, paling banyak beralasan masih sedikitnya jumlah stasiun pengisian yang tersebar di Tanah Air.

Bisa disimpulkan, meski banyak responden yang belum pernah mencoba mobil listrik, apa yang mereka pahami tentang mobil listrik, meyakinkan mereka bahwa mobil listrik akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik terhadap lingkungan. Mereka bahkan tertarik untuk menggunakannya di masa depan.

Walau begitu, mereka tetap punya kekhawatiran terbesar terutama soal jumlah stasiun pengisian listrik yang masih minim dan ekses dari limbah bataerai yang mungkin mencemari lingkungan. Ditambah lagi, ada percuma mengklaim “hijau” jika sumber listriknya masih dari PLTU batu bara yang menciptakan polusi.

Kekhawatiran-kehawatiran inilah yang seharusnya dijawab pemerintah sebagai regulator. Harus diakui, mobil listrik adalah suatu keniscayaan yang tak bisa ditampik. Akan tetapi, justru di awal-awal terbentuknya ekosistem kendaraan listrik inilah, pemerintah dan pihak yang terkait lainnya bisa merumuskan formula yang tepat, agar tujuan dari pengggunaan kendaraan listrik bisa digapai.

Masih banyak pertanyaan yang harus dijawab. Sejalan dengan itu, masih ada ruang dan waktu untuk membenahi kelemahan-kelemahan yang datang dari berbagai aspek, semaksimal mungkin.

Jangan sampai, ekspektasi tinggi dari publik yang sudah mulai menepis kekhawatiran akan mobil listrik, justru mati, memicu emosi dan menimbulkan apatisme baru. []

Referensi:

Antara. (2021). Moeldoko: Pemerintah serius kembangkan ekosistem mobil listrik. https://www.antaranews.com/berita/2227746/moeldoko-pemerintah-serius-kembangkan-ekosistem-mobil-listrik diakses 2 November 2021.

Antara. (2021). Presiden: 2-3 tahun lagi mobil listrik bermunculan dari negara kita https://www.antaranews.com/berita/2455821/presiden-2-3-tahun-lagi-mobil-listrik-bermunculan-dari-negara-kita diakses 2 November 2021.

Advertisement
Advertisement