August 3, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Tak Bisa Kembali Bekerja ke Luar Negeri, 40-an Ribu PMI di Jawa Timur Rawan Menganggur

2 min read
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Timur (Jatim), Himawan Estu Bagijo

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Timur (Jatim), Himawan Estu Bagijo

Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

SURABAYA – Provinsi Jawa Timur, sebagai salah satu Provinsi kantong pekerja migran Indonesia memiliki persoalan tersendiri berkaitan dengan nasib mantan PMI selama masa pandemi.

Bagaimana tidak, sejak pandemi corona terjadi, arus kepulangan dengan arus keberangkatan pekerja migran Indonesia asal Jawa Timur sangat tidak seimbang.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Timur (Jatim), Himawan Estu Bagijo mengatakan, jika dihitung sejak awal pandemi sekitar tahun 2020, maka PMI yang telah kembali pulang ke Jatim ada sekitar 40 ribuan.

“Kalau 40 ribu-an ya ada (terhitung sejak 2020),” katanya, Kamis (17/06/2021).

Bagijo menambahkan, sejak pandemi terjadi, puluhan ribu PMI tersebut belum bisa kembali ke negara penempatannya bekerja seperti sebelumnya. Sedangkan di kampung halaman mereka tidak lagi memiliki pekerjaan.

“Semua PMI yang pulang ini enggak bisa kembali (ke luar negeri),” tambahnya.

Ia menyebut, kondisi ini diakuinya dapat menjadi potensi peningkatan pengangguran dan menurunkan angka partisipasi angkatan kerja di Jatim. Untuk itu, dirinya pun berharap agar pemerintah daerah setempat juga dapat mengerti dengan situasi tersebut.

“Kabupaten/kota juga harus mengerti, ini bisa meningkatkan angka pengangguran dan menurunkan tingkat partisipasi angkatan kerja. Tingkat pengangguran terbuka pasti naik,” ungkapnya.

Salah satu cara yang dilakukan Disnakretrans Jatim adalah mencatat PMI yang pulang. Kemudian mengecek alamat rumahnya untuk memastikan benar-benar di rumah. Jika bisa ditemui, maka akan ditawari untuk ikut pelatihan.

“Tapi cakupannya tidak bisa banyak, paling kalau pelatihan satu angkatan 40 (PMI), 10 kali ketemunya 400 orang. Jadi kalau itu cuma satu persen dari 40 ribu itu (PMI),” ungkapnya.

Dirinya berharap pola ini bisa diikuti kabupaten/kota supaya jumlah PMI yang terserap pelatihan bisa lebih banyak.

Pelatihan ini dibuat untuk menambah kemampuan mantan PMI supaya bisa bekerja di Indonesia saja. Bahkan diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja dengan membuka usaha mandiri. []

Advertisement
Advertisement