September 26, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Tak Hanya Hong Kong, Pemangku Cuaca Indonesia, BMKG Juga Keluarkan Peringatan Topan Surigae

2 min read
Test COVID-19 untuk Penata Laksana Rumah Tangga Asing

HONG KONG – Otoritas pemangku cuaca Hong Kong atau Hong Kong Observatory sejak beberapa hari belakangan setiap hari selalu mengupdate laporan cuaca terkait dengan perjalanan Topan tropis bernama Surigae.

Saat ini, topan tersebut terpantau bergerak di timur wilayah daratan Filipina menuju ke arah Barat Laut.

Meskipun hasil peramalan melalui pemodelan komputer menyebutkan topan tersebut akan berbelok ke utara sebelum kepala pusaran topan mendarat di wilayah daratan Filipina, namun dampak dari topan tersebut dilaporkan bukan hanya melanda kawasan Filipina saja.

Hong Kong menyatakan akan terjadi perubahan cuaca dengan meningkatnya curah hujan dalam sepekan kedepan.

Sedangkan di Indonesia, Berdasarkan analisis BMKG, siklon Surigae yang sedang terjadi di perairan Samudera Pasifik sebelah utara Papua Barat terus bergerak mengarah ke barat laut. “Siklon tropis Surigae cenderung bergerak menjauhi wilayah Indonesia, namun tetap memberikan dampak tidak langsung bagi sejumlah provinsi di tanah air,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati, Sabtu (17/04/2021).

BMKG memprediksi hingga Sabtu (17/04/2021) pukul 19.00 WIB, posisi siklon Surigae masih akan berada di perairan Samudera Pasifik dan diperkirakan bergerak menuju sebelah utara Maluku Utara, atau pada 11.7 LU dan 129.7 BT, atau sekitar 1.040 kilometer sebelah utara timur laut Tahuna. Siklon tropis itu diperkirakan akan bergerak dengan kecepatan 10 knot atau 19 kilometer per jam dengan kekuatan 95 knots atau 185 kilometer per jam dengan tekanan 935 hPa.

Dampak siklon Surigae dapat berupa potensi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang di sembilan wilayah meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua Barat.

Kemudian, gelombang air laut setinggi 1.25-2.5 meter berpeluang terjadi di Laut Sulawesi, Perairan Kep. Sangihe, Perairan Kep. Sitaro, Perairan Bitung – Likupang, Laut Maluku, Perairan Selatan Sulawesi Utara, Laut Halmahera, dan Perairan Biak hingga Jayapura. Selanjutnya, gelombang air laut dengan ketinggian rata-rata 2.5-4.0 meter berpeluang terjadi di Perairan Kepulauan Talaud dan Perairan utara Halmahera.

“Gelombang air laut setinggi 4.0-6.0 meter berpeluang terjadi di Samudera Pasifik utara Halmahera hingga Papua Barat,” ucap Raditya dalam keterangan persnya.

Merespons informasi itu, BNPB juga telah mengintruksikan kepada pemangku kebijakan di daerah agar dapat melaksanakan upaya penguatan kesiapsiagaan menghadapi beberapa dampak dari siklon tropis tersebut. []

Advertisement
Advertisement