Telah Berlangsung Selama 12 Minggu, Demonstrasi di Hong Kong Melukai 180 Polisi

Prime Banner

HONG KONG – Tak terasa, aksi demonstrasi telah mewarnai Hong Kong selama kurang lebih 12 minggu, dengan sebagian besar unjuk rasa digelar selama akhir pekan. Aksi protes yang dipicu gerakan menolak UU Ekstradisi itu dalam beberapa pekan terakhir selalu tak luput dari bentrokan dengan petugas keamanan, yang sampai harus menembakkan peluru karet dan gas air mata.

Tak hanya menimbulkan korban luka dari massa pengunjuk rasa, aksi demonstrasi juga menyebabkan petugas polisi anti-huru hara terluka. Pemerintah Hong Kong mengungkapkan, telah ada sekitar 180 petugas polisi yang diserang dan terluka selama berlangsungnya protes.

Tak hanya petugas polisi yang bersinggungan langsung dengan massa demonstrasi, disebutkan pula keluarga dan kerabat polisi turut menjadi sasaran intimidasi.

Seorang juru bicara pemerintah Hong Kong mengatakan, menyesalkan aksi massa pada Minggu (18/08/2019), yang digelar lalu oleh sebuah organiasi massa, yang menargetkan polisi dalam slogannya.

Dilaporkan Channel News Asia, organisasi Front Hak Asasi Warga Sipil (CHRF), yang berada di belakang aksi unjuk rasa ratusan ribu orang turun ke jalan pada Juni dan Juli lalu, kembali menggelar aksi demonstrasi “rasional dan tanpa kekerasan”, Minggu (18/08/2019).

Para pengunjuk rasa berkumpul di Victoria Park untuk menunjukkan kepada pemerintah bahwa mereka masih mendapat dukungan luas dari publik, meski kekerasan meningkat. Sejumlah pengunjuk rasa tampak membawa plakat yang memuat pesan yang menyudutkan aparat kepolisian. Massa juga membagikan selebaran berisi pesan yang menggambarkan aparat polisi secara negatif.

Juru bicara pemerintah Hong Kong, pada Minggu (18/08/2019), mengatakan bahwa polisi mengerahkan “kekuatan minimum” dalam menghadapi aksi tersebut.

“Setelah berbagai prosesi dan pertemuan publik diadakan dalam dua bulan terakhir, para pengunjuk rasa yang radikal dan keras berulang kali menuduh polisi melampaui batas.”

“Mereka juga dengan sengaja memblokir jalan-jalan, merusak fasilitas umum, menyulut api di sejumlah lokasi, serta menyerang petugas polisi dengan senjata ofensif, dan melempar batu bata juga bom bensin,” kata juru bicara itu.

“Sejumlah besar kantor polisi telah diserang atau dikepung lebih dari 75 kali. Polisi telah menangani tindakan ilegal ini dengan penuh toleransi,” tambahnya.

Baca juga: Situasi Hong Kong Memanas, Ponsel Warga yang Hendak ke China Daratan Diperiksa

Juru bicara itu menambahkan, anggota keluarga polisi juga telah berada di bawah berbagai tingkat intimidasi dan pem-bully-an.

“Tempat tinggal mereka telah dirusak, sehingga wanita dan anak-anak yang tinggal di sana merasa ketakutan dan terganggu.”

“Pemerintah sangat menghormati hak publik untuk berkumpul secara damai dan kebebasan berbicara, akan tetapi mengingatkan agar mereka melakukan protes secara damai,” lanjut juru bicara.

Aksi demonstrasi pada Minggu lalu disebut sebagai upaya untuk menurunkan ketegangan setelah serangkaian protes pada pekan lalu yang berujung bentrokan dengan petugas, termasuk penutupan layanan bandara yang diduduki pengunjuk rasa.

Para pengunjuk rasa pada Minggu (18/08/2019) mendesak untuk memperlihatkan kepada semua pihak bahwa mereka tetap damai.

“Mereka (polisi) telah memberi tahu semua orang bahwa kami adalah perusuh. Pawai hari Minggu ini adalah untuk membuktikan bahwa kami bukan seperti yang mereka katakan. Kami tetap damai,” kata Chris (23), salah satu peserta aksi di hari Minggu, menurut Reuters.

Saat seorang pengunjuk rasa meneriaki dan mengejek polisi yang bertugas, seorang lainnya mengingatkan bahwa aksi hari itu merupakan aksi damai.

“Hari ini adalah aksi yang damai! Jangan terjatuh dalam perangkap. Dunia sedang memperhatikan kita,” ujarnya memerintahkan kelompok tetap berjalan maju.

Aksi demonstrasi di Hong Kong beberapa pekan terakhir kerap diwarnai bentrokan dengan petugas keamanan, yang Pemerintah China sempat aksi demo Hong Kong tak jauh berbeda dengan tindak terorisme.[]

You may also like...