June 22, 2021

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Temukan Hatimu di Tiga Tempat Berikut Ini

3 min read

ApakabarOnline.com – Ibnu Mas’ud pernah berpesan :

قاَلَ ابْنُ مَسْعُوْد : اُطْلُبْ قَلْبَكَ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاطِن : عِنْدَ سِمَاعِ القُرْآنِ ، وَفِي مَجَاِلسِ الذِّكْرِ ، وَفِي أَوْقَاتِ الخَلْوَةِ ، فَاِنْ لَمْ تَجِدْهُ فِي هذِهِ المَوَاطِنِ فَسَلِ اللهَ أَنْ يَمُنَّ عَلَيْكَ بِقَلْبٍ فَاِنَّهُ لَا قَلْبَ لَكَ ” الفوائد ” (1/149).

“Carilah hatimu di tiga tempat: ketika mendengar al-Qur’an, di majelis-majelis dzikir, dan di waktu menyendiri bermunajat kepada Allah, jika engkau tidak menemukan hatimu disana, mintalah kepada Allah agar memberimu hati, karena sesungguhnya engkau tidak punya hati lagi (lihat kita “al-Fawaid li Ibn Qayyim 1/49)

Saudaraku yang dimuliakan Allah

Pada tulisan kali ini, pembahasan kita adalah tentang pesan berharga seorang sahabat utama Nabi SAW, beliau adalah Abdullah bin Mas’ud RA. Merupakan orang keenam yang memeluk Islam di awal-awal dakwah kenabian, pembantu setia nabi, dan termasuk salah satu dari 4 sahabat yang direkomendasi Nabi untuk mengajarkan al-Qur’an. (lihat kitab usd al-Ghobah fi ma’rifatissahabah Ibn Katsir)

Pentingnya peran hati dalam diri manusia, sehingga Rasulullah mengingatkan, jika hati itu baik, maka seluruh jasad akan baik pula, dan bila hati sakit, maka sakit pula seluruh jasad. Diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir ra.:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: «أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ». متفق عليه

Artinya: Diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir RA, dia berkata: aku mendengar suatu ketika Rasulullah saw. bersabda: ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging, apabila segumpal daging tersebut baik, maka baik pula seluruh jasad, dan bila rusak, maka rusak pula seluruh jasad, ketahuilah, bahwa dia (segumpal daging) itu adalah “al-qalbu” (HR Muttafaq ‘alaih)

Oleh karena itu, Ibn Mas’ud ra. membuat standarisasi hati yang sehat. Tiga ukuran yang beliau sampaikan ibarat cermin bagi kita yang datang jauh setelah masa kenabian. Sehingga beliau katakan, bila di tiga tempat tersebut, hati kita tidak bereaksi sama sekali, beliau wasiatkan agar kita meminta hati yang baru, karena sudah tidak ada hati dalam diri. Wal ‘iyadz billah. Tiga tempat tersebut adalah:

 

  1. عِنْدَ سِمَاعِ القُرْآن (ketika mendengar al-Qur’an dibacakan)

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ -٢

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal”. (al-Anfal:2)

Allah perjelas ayat ini dengan ayat lainnya :

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَاباً مُّتَشَابِهاً مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ -٢٣-

“Allah telah Menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Quran yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan-nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia Memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa Dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk”. (QS. azzumar 23)

Pertanyaannya adalah: apakah keimanan kita semakin bertambah ketika mendengar ayat al qur’an dibacakan? Sudahkah hati kita bereaksi, ketika dibacakan ayat-ayat kabar gembira dan peringatan? Jawabannya kita masing-masing yang mengetahui.

Orang-orang non arab (a’jam), sebagian besar belum mampu menghadirkan ketenangan dan menambah keimanan dengan mendengar bacaan al-qur’an, hal ini di sebabkan faktor ketidak tahuan mereka terhadap arti dan makna ayat. Oleh karena itu, harus ada gerakan untuk memahami ayat-ayat, agar pesan-pesan Allah melalui al-Qur’an sampai kepada pembacanya.

 

  1. فِى مَجَاِلسِ الذِّكْرِ di majelis-majelis dzikr/ilmu

Diriwayatkan dari Abu hurairah:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ …مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ …..

Artinya: Rasulullah SAW bersabda: tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah (masjid) membaca al-Qur’an, kemudian mengambil pelajaran darinya, kecuali Allah turunkan ketenangan hati, diliputkan rahmat ke atas mereka, dinaungi malaikat, dan selalu disebut dan di puji oleh Allah…. (HR Muslim)

Ketenangan hati di majelis dzikir tidaklah didapatkan dengan cara instan, perlu pembiasaan, mungkin sekali, dua kali berada di majelis dzikir belum memberikan pengaruh apa-apa terhadap hati, akan tetapi semakin lama, semakin sering, disertai dengan iltimas (perhatian yang mendalam), dan mujahadah (kesungguhan), maka akan muncul ketenangan dalam hati, in syaa Allah swt.

 

  1. فىِ أَوْقَاتِ الخَلْوَةِ‘: (di waktu menyendiri bermunajat kepada Allah )

Carilah hati kita, ketika kita sedang bermunajat kepada Allah (khalwat). Bukan ketika dilihat orang, atau sedang di tengah-tengah kerumunan. Diceritakan bahwa, satu ketika Imam syafi’i masuk ke masjid ada seorang yang menangis dan ditonton banyak orang ketika berdoa. Maka Imam syafi’i berkata sambil menepuk pundaknya: ya akhi! Maa athyaba hadzal bukaa’ walau kunta wahdak la kaana athyab!!! Artinya:(saudaraku!!! Alangkah baiknya tangisanmu ini, seandainya engkau menangis ketika engkau sedang sendiri, maka itu lebih baik!!! (lihat; sabakah al-alukah “al-Buka’ min khosyatillah”)

Inilah tiga tempat untuk mengukur hati kita, maka bila di tiga tempat ini sama sekali tidak ada reaksi dengan hati kita, Ibn Mas’ud menyarankan, mintalah hati yang baru kepada Allah, karena sesungguhnya tidak ada lagi hati dalam diri kita. Wallahul musta’aan. []

Penulis Ust. Anang Wahid Cahyono, Lc. M.H.I., Alumni Pondok Pesantren Arrisalah – Ponorogo, Alumni Al Azhar Cairo – Mesir.

Advertisement
Advertisement