Terkadang Pelukan Lebih Diperlukan Ketimbang Nasehat
2 min read
JAKARTA – Ibu sering kali tak membutuhkan banyak kata untuk memahami anaknya. Dari raut wajah yang murung, nada suara yang melemah, hingga pelukan yang tertunda, seorang ibu bisa merasakan ada sesuatu yang tak baik-baik saja. Di momen seperti itulah, muncul pertanyaan yang jarang terucap: dari mana ibu tahu bahwa anak lebih butuh pelukan daripada nasihat?
Suatu sore, seorang anak pulang dengan langkah berat. Tas diletakkan tanpa suara, pintu kamar ditutup lebih cepat dari biasanya. Tidak ada cerita, tidak ada keluhan. Bagi banyak orang tua, godaan untuk langsung bertanya atau memberi nasihat sangat besar. Namun seorang ibu yang peka justru memilih diam, mendekat, lalu memeluk. Karena ia tahu, saat emosi anak masih penuh, nasihat hanya akan terdengar seperti tekanan tambahan.
Kepekaan ini bukanlah bakat bawaan semata, melainkan hasil dari keterhubungan emosional yang dibangun sejak lama. Ibu yang hadir, mendengar, dan menemani anak dalam berbagai fase hidupnya akan mengenali perubahan kecil yang sering luput dari perhatian. Anak yang biasanya cerewet tiba-tiba pendiam, anak yang mandiri mendadak mudah tersinggung—semua itu adalah bahasa emosi yang sedang berbicara.
Dalam dunia parenting, pelukan bukan sekadar gestur kasih sayang. Sentuhan fisik terbukti mampu menurunkan hormon stres kortisol dan meningkatkan oksitosin, hormon yang memberi rasa aman. Ketika anak sedang kecewa, marah, atau sedih, otaknya berada dalam kondisi emosional, bukan rasional. Pada fase ini, nasihat sebaik apa pun sulit diterima. Yang dibutuhkan adalah rasa aman, dan pelukan sering kali menjadi jawabannya.
Ibu yang peka memahami bahwa tidak semua masalah harus segera diselesaikan. Ada waktu untuk menasihati, ada waktu untuk menemani dalam diam. Anak yang dipeluk saat rapuh akan merasa dimengerti, bukan dihakimi. Dari rasa dimengerti itulah, kepercayaan tumbuh. Anak belajar bahwa rumah adalah tempat aman untuk kembali, bahkan saat ia gagal atau terluka.
Sering kali, keinginan orang tua memberi nasihat berangkat dari niat baik. Namun tanpa disadari, nasihat yang datang terlalu cepat bisa membuat anak merasa tidak cukup kuat, tidak cukup baik, atau tidak cukup didengar. Ibu yang bijak menahan diri, memilih hadir sepenuhnya, dan menunggu emosi anak mereda sebelum berbicara.
Lalu, kapan waktu yang tepat untuk nasihat? Biasanya, setelah pelukan. Setelah anak menangis, bernapas lebih teratur, dan mulai membuka cerita. Saat itu, otak rasional anak perlahan aktif kembali. Nasihat pun tidak lagi terdengar sebagai kritik, melainkan sebagai bentuk perhatian. Anak lebih siap mendengar, bahkan meminta pendapat dengan sendirinya.
Mengajarkan anak mengelola emosi bukan berarti selalu memberi solusi. Justru dengan dipeluk dan dimaklumi, anak belajar bahwa perasaannya valid. Ia belajar mengenali emosinya tanpa takut disalahkan. Ini adalah bekal penting untuk kesehatan mentalnya di masa depan.
Pada akhirnya, dari mana ibu tahu? Dari cinta yang membuatnya peka. Dari kebersamaan yang menumbuhkan intuisi. Dari pengalaman jatuh bangun mendampingi anak. Ibu tahu, karena ia mau mendengarkan dengan hati, bukan hanya dengan telinga.
Dan di dunia yang sering meminta anak untuk kuat, pelukan ibu menjadi pengingat sederhana: kamu boleh lelah, kamu boleh sedih, dan kamu tidak sendirian. []
Sumber Fara ID
