October 8, 2026

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Terungkap Oleh Pakar, Ikan Sidat Punya Omega-3 Tertinggi Didunia Mengalahkan Salmon

2 min read

JAKARTA – Ikan sidat yang banyak ditemukan di perairan Indonesia memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi, termasuk Omega-3. Peneliti Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Gadis Sri Haryani menyebut kandungan gizi sidat bahkan lebih tinggi dibandingkan sejumlah ikan yang selama ini dikenal kaya Omega-3.

“Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi. Ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” kata Gadis dalam pernyataannya di Jakarta dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu, 4 Oktober 2026.

Kandungan Omega-3 pada ikan sidat terdiri atas DHA (docosahexaenoic acid) dan EPA (eicosapentaenoic acid). DHA berperan penting dalam perkembangan dan fungsi otak, sedangkan EPA berkaitan dengan pengurangan peradangan serta pemeliharaan kesehatan jantung.

Selain Omega-3, sidat mengandung berbagai nutrisi penting lainnya. Di antaranya vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, fosfor, dan kalori.

Kandungan nutrisi tersebut, kata Gadis, membuat ikan sidat berpotensi dikembangkan sebagai salah satu sumber pangan bergizi. Potensi tersebut semakin relevan karena sidat banyak ditemukan di wilayah perairan Indonesia.

Namun, Gadis menyebut potensi itu perlu diimbangi dengan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan. Gadis mengingatkan pemanfaatan sidat harus dilakukan berdasarkan kajian ilmiah agar tidak menyebabkan eksploitasi berlebihan.

Selain kandungan gizinya, sidat memiliki karakteristik biologis yang unik. Ikan ini memiliki siklus hidup katadromus, yakni menghabiskan sebagian besar hidupnya di perairan tawar.

“Katadromus artinya dia ketika telur dan menetas di laut menjadi leptocephalus atau larva belut yang unik. Memiliki bentuk pipih, transparan, dan seperti daun serta tidak punya kemampuan berenang,” ujar Gadis.

Dalam siklus hidupnya, larva sidat bermigrasi dari laut dalam menuju estuari atau wilayah muara sungai. Pada proses tersebut, larva mengalami perubahan bentuk menjadi sidat kaca atau glass eel.

“Kemudian selama perjalanan dari perairan laut dalam ke estuari atau badan air semi tertutup yang berada di muara sungai. Di mana air tawar dari sungai bercampur dengan air laut, dia berubah menjadi sidat kaca atau glass eel,” ucapnya.

Dengan kandungan nutrisi dan nilai ekonominya, sidat dinilai memiliki potensi besar bagi sektor pangan dan perikanan Indonesia. Pemanfaatannya tetap perlu memperhatikan keberlanjutan populasi agar potensi tersebut dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Advertisement
Advertisement

Leave a Reply