December 8, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Waspada Leptospirosis, di Semarang Sudah “Membunuh” Enam Orang

2 min read

SEMARANG – Enam orang di Kota Semarang meninggal dunia karena leptospirosis. Leptospirosis merupakan penyakit ini dapat ditularkan melalui urine tikus, genangan air yang masuk ke area rumah dapat mengakibatkan aliran air kencing tikus dapat masuk ke dalam tubuh manusia.

Plt Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu (Ita) menyampaikan bahwa untuk mengantisipasi meluasnya penyakit tersebut, Pemkot Semarang menggelar kegiatan kerja bakti membersihkan kecamatan dan kelurahan.

“Makanya saya juga kemarin sudah di dalam Rapat TEPRA, kami akan melakukan kerja bakti. Tidak hanya untuk mengantisipasi banjir, karena ini kan curah hujan sudah semakin tinggi, tapi juga yang masalah ini tadi,” katanya saat di Balaikota Semarang (26/10/2022).

Menurutnya, menyebarnya penyakit Leptospirosis juga disebabkan oleh lingkungan yang kumuh. Banyaknya sampah yang menggunung berpotensi mengundang hewan-hewan, terlebih yang memiliki penciuman tajam.

Oleh karena itu, ia bersama jajaran Pemkot Semarang dan pemerintah di tingkat Kecamatan, bersama-sama membersihkan tempat-tempat yang dirasa dapat menjadi sarang tikus.

“Kemudian pembersihan-pembersihan drainase. Ini kan selain sampah, drainase yang terhambat airnya juga bisa menjadi potensi tikus-tikus juga ada disitu,” ujarnya.

Ita berpesan kepada seluruh masyarakat Kota Semarang untuk benar-benar menjaga kebersihan. Mengingat tikus juga identik dengan tempat-tempat yang kurang bersih. Terlebih saat ini curah hujan sedang tinggi menyebabkan banyaknya tempat tergenang dan becek.

“Jadi yang kita harapkan ya ini. Jaga kebersihan. Itu satu tok kok, kalau kebersihan itu semuanya bersih, nggak ada tikus,”  katanya.

Bakteri Leptospira ini paling umum memasuki tubuh melalui hidung, mulut, atau mata, atau melalui abrasi kulit saat orang terpapar air yang terkontaminasi urine dari hewan yang terinfeksi.

Dikutip dari laman WHO, Leptospirosis terjadi di seluruh dunia tetapi lebih banyak muncul di wilayah-wilayah tropis dan subtropis yang mengalami curah hujan yang tinggi.

Kejadian leptospirosis terkait erat dengan faktor-faktor risiko infeksi yang berisiko menjadi fatal.

Ada berbagai faktor-faktor risiko leptospirosis di Indonesia selain banjir, seperti kondisi selokan dan sanitasi yang buruk di daerah hunian.

Risiko-risiko ini menjadi lebih buruk saat manusia atau hewan terpapar dengan lingkungan yang terkontaminasi seperti air berlumpur, air sungai atau banjir, atau saat berenang, mandi, atau mencuci di sungai.

Pekerja lebih terpapar risiko-risiko ini, terutama mereka yang tidak mengenakan alat pelindung diri, berkegiatan di sawah, mengumpulkan kayu di hutan, dan membersihkan sampah.

Selain itu, air minum terkontaminasi dapat menjadi risiko infeksi leptospirosis pada manusia jika air tersebut tidak diolah.

 

Gejala Leptospirosis

Dilansir dari laman Kemenkes, berikut gejala penyakit leptospirosis yang dapat dirasakan oleh pasien yang terjangkit:

  1. Demam Mendadak
  2. Lemah
  3. Mata merah
  4. Kekuningan pada kulit
  5. Sakit kepala
  6. Nyeri otot betis

 

Pencegahan

Adapun tindakan pencegahan juga merupakan hal yang penting untuk diketahui, diantaranya adalah:

  1. Menggunakan sarung tangan dan sepatu boots saat membersihkan rumah/selokan
  2. Mencuci tangan dengan sabun setelah selesai beraktivitas.

Dengan mengetahui berbagai hal di atas, diharapkan masyarakat dapat bersiap dan berhati-hati terhadap penyakit penyerta banjir, seperti Leptospirosis.

Segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala Leptospirosis seperti yang telh disebutkan diatas, agar bisa segera mendapatkan penanganan sedini mungkin dari para petugas kesehatan. []

Advertisement
Advertisement