January 21, 2022

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

WHO Mengingatkan, Varian Omicron Menyebar Lebih Cepat dan Berlipat Ganda Hanya dalam Tiga Hari

2 min read

JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan seluruh negara di dunia bahwa varian Omicron dari Covid-19 telah menyebar ke 89 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Menurut WHO, kasus varian Omicron bisa meningkat hingga dua kali lipat dalam tiga hari ke depan.

Melansir Reuters, Senin (20/12/2021), Omicron menyebar dengan cepat di negara-negara yang rata-rata penduduknya sudah divaksinasi penuh Covid-19 sehingga memiliki tingkat kekebalan tinggi. Namun, tidak cukup bukti apakah virus ini telah kebal terhadap vaksin atau penularan yang melekat atau kombinasi di antara keduanya. WHO menetapkan Omicron sebagai variant of concern pada 26 November, setelah pertama kali terdeteksi. Masih banyak yang belum diketahui tentang Omicron, termasuk tingkat keparahan yang ditimbulkannya.

“Data keparahan klinis Omicron sampai saat ini masih terbatas,” kata WHO. Oleh sebab itu, yang diperlukan saat ini adalah data mengenai profil keparahan dan bagaimana pengaruh vaksinasi yang sudah dilakukan masyarakat saat ini. Termasuk apakah vaksinasi cukup manjur untuk menghadapi varian baru tersebut. Pasalnya, tidak ada bukti atau peer-review mengenai kemanjuran vaksin untuk Omicron.

Sementara itu, tingkat rawat inap di Inggris melonjak sejak ditemukan Omicron di negara mereka. Kasus yang terus meningkat diprediksi akan menyebabkan sistem kesehatan kembali kewalahan. Wali Kota London Sadiq Khan mengatakan, tanpa pembatasan sosial, Inggris akan melihat layanan kesehatan nasional seperti di ambang kehancuran.

Khan menyatakan insiden besar pada hari Sabtu ketika terjadi lonjakan kasus Covid-19 varian Omicron sebanyak 25.000 dari semula 10.000 sehari.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson belum memutuskan apakan akan memberlakukan lockdown menjelang Natal dan Tahun Baru untuk menurunkan tingkat penyebaran virus Omicron. Johnson menghadapi krisis terbesar dalam jabatan perdana menteri setelah serangkaian skandal dan kesalahan langkah, dan awal pekan ini lebih dari 100 anggota parlemennya sendiri memberikan suara menentang langkah-langkah terbaru pemerintah untuk mengatasi penyebaran Covid-19.

“Tidak, saya rasa bukan itu masalahnya. Jika pemerintah merasa bahwa tindakan lebih lanjut harus diambil, tentu saja kami akan menyampaikan ke parlemen dan parlemen akan memutuskan,” ujarnya kepada BBC. []

 

Advertisement
Advertisement