20 Kota/Kabupaten Paling Makmur di Indonesia

Prime Banner

JAKARTA – Kalau dunia punya G-20, kami coba perkenalkan C-20. Jika G-20 (group of twenty) merupakan forum 19 menteri keuangan atau gubernur bank sentral dari negara-negara dengan perekonomian terbesar plus Uni Eropa, maka C-20 (club of twenty) kami maksudkan sebagai 20 kota atau kabupaten paling makmur di Indonesia.

Tingkat kemakmuran sebuah kota/kabupaten diukur melalui indikator pendapatan per kapita. Ini merupakan kalkulasi dari produk-domestik-regional-bruto (PDRB) dibagi dengan jumlah penduduk.

Dengan ukuran itu, kota-kota dengan skala ekonomi besar, dan PDRB yang juga besar, seperti Medan, Makassar, Palembang atau Bandung, tidak selalu tergolong sebagai kota makmur. Soalnya, jumlah penduduk yang menjadi faktor pembagi, juga cukup besar.

Apa pentingnya ukuran kota/kabupaten termakmur? Indikator ini penting sebagai patokan kinerja perekonomian di suatu daerah. Selain itu, tolak ukur ini juga bisa digunakan untuk membandingkan standar kehidupan atau tingkat kesejahteraan antardaerah.

Satu hal harus dicatat: pendapatan per kapita tak menunjukkan distribusi pendapatan. Artinya, kota paling makmur tak berarti hanya dihuni orang-orang kaya. Boleh jadi, kemakmuran itu terkonsentrasi hanya pada satu lapisan kecil dari populasi – sebagian besar yang lain justru hidup di bawah garis kemiskinan.

 

Kota Kediri masuk tiga besar

Pengolahan Lokadata.id atas data Sensus Sosial dan Ekonomi (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan sejumlah fakta menarik. C-20 didominasi kota/kabupaten di Pulau Jawa dan Kalimantan. Kedua pulau ini masing-masing menyumbangkan tujuh kota/kabupaten.

Sisanya, empat kota/kabupaten berasal dari Sumatera, dan dua dari Pulau Papua. Tak satu pun wilayah di Sulawesi, tidak Manado, tidak pula Makassar, yang masuk dalam kelompok 20 kota paling makmur di Indonesia.

Predikat kota termakmur Indonesia 2018 jatuh pada, mungkin mudah ditebak, Jakarta Pusat, dengan tingkat pendapatan per kapita Rp370 juta. Artinya, total produksi barang dan jasa di jantung ibukota RI itu mencapai Rp30 juta lebih per penduduk. Ini hampir sepuluh kali lipat tingkat kemakmuran di Kabupaten Penajam Paser Utara, calon ibukota yang baru.

Namun tak semua wilayah di ibukota RI masuk dalam C-20. Selain Jakpus, hanya ada dua kota lain: Jakarta Utara dan Jakarta Selatan. Sementara itu, Jakarta Timur dan Jakarta Barat berada di luar daftar – kalah makmur dari daerah lain yang mungkin tidak pernah kita dengar, seperti Tana Tidung (Kalimantan Utara), Anambas (Kepulauan Riau), Bengkalis dan Siak (keduanya di Provinsi Riau).

Urutan kedua kota termakmur Indonesia 2018 ditempati oleh Bintuni, Provinsi Papua Barat. Kota yang menjadi markas BP Petroleum, pengelola tambang gas alam terbesar Indonesia itu, mencatat pendapatan per kapita senilai Rp328 juta (2018). Ini hampir sembilan kali lipat pendapatan per kapita Kota Manokwari, ibukota Papua Barat.

Yang mengejutkan, Kota Kediri, satu wilayah kecil di Jawa Timur, muncul di urutan ketiga kota termakmur 2018 dengan pendapatan per kapita Rp291 juta, atau dua kali tingkat kemakmuran di ibukota Provinsi Jawa Timur, Kota Surabaya.

Kutai Barat terpental, Surabaya merangsek masuk

Yang juga menarik, anggota C-20 ini praktis tidak berubah dalam empat tahun terakhir (2014-2018), kecuali satu: Kabupaten Kutai Barat di Kalimantan Timur, terpental dari daftar dan digantikan oleh Kota Surabaya, Jawa Timur.

Kutai Barat (Kubar) melorot dari posisi 19 ke urutan 22 besar. Dalam periode empat tahun, sumbangan sektor andalan, yaitu pertambangan tampak melorot. Beberapa sektor lain memang meningkat sangat pesat.

Misalnya, sektor pengadaan listrik dan gas; jasa informasi dan komunikasi; jasa pendidikan dan kegiatan sosial; yang tumbuh 30 persen lebih. Sayang, nilainya terlalu kecil untuk bisa mendongkrak perekonomian Kubar.

Sementara itu, Kota Surabaya melonjak lima tingkat dari posisi 21 ke urutan 16. Selama kurun 2014-2018, tiga sektor utama penopang perekonomian Surabaya, yakni perdagangan, industri pengolahan dan akomodasi, tumbuh pesat. Pertumbuhan tertinggi, 37,5 persen, terjadi pada sektor akomodasi.

 

Jawa didorong sektor jasa, luar Jawa oleh tambang

Apa yang membuat kota-kota itu menjadi makmur? Jakarta dan Surabaya didorong oleh sektor jasa, terutama perdagangan, transportasi, akomodasi dan keuangan. Sedangkan dua kota makmur lain di Jawa, yakni Cilegon dan Kediri tumbuh dengan mesin utama industri pengolahan.

Selain kompleks industri baja Krakatau Steel, Cilegon penuh dengan pabrik-pabrik kelas berat seperti kompleks petrokimia Chandra Asri dan Asahimas Chemical. Seperti Cilegon, Kediri yang merupakan markas pabrik rokok terbesar Indonesia, Gudang Garam, juga hidup dari industri pengolahan.

Dalam daftar 20 besar terdapat Kepulauan Seribu. Mungkin kita menduga, kota kepulauan dengan wilayah laut yang luas di utara Jakarta itu hidup dari perikanan dan pariwisata. Dugaan ini ternyata meleset. Lebih dari 80 persen perekonomian Kepulauan Seribu berasal dari sektor tambang galian.

Untuk daerah di luar Jawa, bensin terbesar perekonomian datang dari industri ekstraktif. Tambang batu bara tetap menjadi sumber hidup bagi kota/kabupaten di Kalimantan, seperti Berau, Kutai Kartanegara, Tana Tinggi, juga Paser dan Kutai Timur.

Industri pengolahan yang mesin terbesar di Balikpapan, Bontang, Bintuni, Mimika, Natuna dan Anambas juga bersumber dari kegiatan penambangan, terutama migas. Peran industri pengolahan minyak sawit mulai tampak nyata di Kabupaten Siak. []

You may also like...