Prime banner

“Memang disini begitu. Terima saja kan tidak ada-apa, toh tidak sampai melakukan hubungan badan. Hanya memuaskan pelanggan saja. Lagian kamu dapat tips lho, tambahan penghasilan diluar gaji kamu”

Kalimat tersebut terngiang, datar, dingin, namun menakutkan. Begitulah jawaban yang aku terima saat aku memprotes tentang situasi di beberapa tempat kerja yang pernah aku masuki. Permintaan setengah memaksa layanan memberikan oral sex kepada pelanggan, selalu aku terima di setiap tempat aku bekerja.

Sebut saja namaku Yeni. Aku berasal dari pesisir utara provinsi Jawa Barat. Di usiaku yang sudah diatas 30 tahun, aku berkarir pada bidang perhotelan sejak aku masih lajang. Bahkan, sebelum terbang ke Makau, aku bekerja di sebuah hotel bintang 3 di pulau Batam dengan posisi midle manajemen pada bagian restorasi. Tentu saja pada posisi karir yang telah berhasil aku gapai, kompensasi gaji dan fasilitas lainpun cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku berikut kedua anakku.

Keinginanku untuk selalu berkembang dan mencoba hal baru inilah yang menjadi celah keterpurukanku saat ini. Bukan karena aku tidak bersyukur denganapa yang telah aku dapatkan, namun lebih karena keinginanku untuk selalu bisa lebih majulahyang membuat aku mencoba-coba peruntungan bekerja pada bidang serupa di Makau berdasarkan informasi dari teman karibku di media sosial.

Setelah aku merasa segala sesuatunya siap, setelah berbagai hal telah aku pertimbangkan, berangkatlah aku ke Makau untuk menggapai harapan baru. Atas arahan teman di media sosial tersebut, bertemulah aku dengan seseorang yang menjadi pemanduku sesampai aku di Makau. Dari teman tersebut, aku ditunjukkan sebuah penginapan yang kemudian aku tinggal disana. Saat penat perjalanan telah berangsur hilang, aku memulai perjuanganku untuk mendapatkan pekerjaan seperti yang di gambarkan teman karibku sebelum aku terbang ke Makau.

Namun, saat aku bertanya pada sebuah nama yang direkomendasikan oleh temanku, ternyata aku diberi job bekerja di sebuah cafe yang gajinya hanya HKD 6.000. Jauh sekali dari yang di ceritakan temanku yaitu 18 ribu dolar. Aku menolak tawaran tersebut. Kemudian aku yang merasa sudah terlanjur sampai di Makau, berusaha sendiri mencari pekerjaan. Beberapa hari aku gunakan untuk berkeliling beberapa tempat sembari menemui beberapa orang yang telah aku kenal sebelumnya.

Salah satu dari yang telah aku kenal adalah seorang aktifis sebuah organisasi yang sekaligus nyambi menjadi calo di sebuah agen penyalur tenaga kerja. Sebut saja namanya T. Aku menceritakan semua pengalamanku sampai dengan aku bertemu dirinya. Pun juga aku meminta tolong padanya untuk mencarikan aku pekerjaan seperti yang aku inginkan. Oleh T aku dikenalkan dengan K, yang ternyata juga sesama calo sebuah agen penyalur tenaga kerja.

Beberapa saat setelah pertemuan tersebut, T dan K mengabari aku tentang adanya sebuah lowongan pekerjaan di pusat sauna. Saat itu juga aku diajak untuk bertemu. Aku dijelaskan, untuk menerima pekerjaan tersebut, aku harus membayar deposit sebesar 11.000 dolar. Setelah aku menyetujui, aku langsung dibawa bertemu dengan pemilik usaha tersebut.

Di pusat sauna itu aku dijelaskan tentang aturan main bagaimana aku bekerja. Termasuk bagaimana aku menghadapi konsumen. Namun hal yang membuat aku tidak bisa menerima adalah aku harus memberikan layanan oral sex jika pelanggan meminta. Dari layanan tersebut, dikatakan bahwa aku berpeluang besar untuk menerima tips sebagai penghasilan tambahan diluar gaji.

Kaget sekali aku mendengar hal tersebut. Kok bisa, seorang tokoh dari sebuah organisasi PMI di Makau menggiring aku kepada hal yang demikian. Hal yang berbau prostitusi, sedangkan mereka tahu bahwa aku dengan pengalaman kerjaku sebelumnya di Indonesia bukanlah seorang PSK, maupun menyambi PSK. Pengalaman getir tersebut, membuat kepercayaanku pada T dan K menjadi pudar. Aku tidak bisa mempercayai lagi sepenuhnya integritas mereka berdua. Karena itulah aku meminta uangku dikembalikan. Namun mereka tidak bisa mengembalikan uang tersebut dengan alasan, uang sudah masuk ke agen.

Mereka menawarkan aku pekerjaan lain, di panti pijat kebugaran. Dengan job sebagai pengantar barang barang keperluan memijat seperti minyak, handuk dan lain sebagainya. Di tempat tersebut, aku juga ditawari sebagai pemijat. Aku menerima tawaran tersebut karena terpaksa tidak ada pilihan lain untuk bertahan hidup di Makau. Uang deposit sudah masuk dan tidak bisa diminta kembali. Pada job yang kali ini, aku diyakinkan bahwa tugasku hanyalah memijat kaki sekaligus menyiapkan segala keperluannya.

Namun betapa kagetnya aku, saat pertama menjalankan job tersebut, sebuah pelecehan seksual menimpa aku. Klien yang sedang aku pijat meminta aku untuk melakukan hubungan seksual atau setidaknya memberi layanan oral seks sebagaimana para pemijat lain di tempat tersebut. Dari insiden tersebut, barulah kuketahui bahwa aturan main bekerja di tempat pijat tersebut ternyata sama dengan di tempat sauna yang aku tolak sebelumnya.

Dengan langkah kaki gontai aku meninggalkan tempat tersebut. Kepada T dan K aku menyampaikan bahwa aku keluar dari tempat tersebut. Sekaligus aku juga menyatakan meminta uangku kembali. Namun ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Janji nanti dan nanti membuat kegelisahanku memuncak. Dalam kondisi terdesak lantaran melalui sambungan telfon dan Whatsapp tidak direspon oleh keduanya, aku mencarinya melalui jejaring media sosial.

Aku sama sekali tidak menyangka, upayaku melakukan pencarian melalui media sosial justru berbuah getir. Aku yang menulis dengan kalimat santun di group untuk bertanya siapa yang mengetahui orang yang aku cari dan sama sekali tidak menyinggung perihal job dan uang deposit, justru mendapat respon pedas dari tokoh organisasi yang membawa uangku tersebut. Dalam komentarnya, T justru memaki-maki aku dengan kata-kata yang tidak senonoh. Bahkan dari komentarnya, semuanya menjadi terang benderang dan tanpa aku membeberkan seluruh yang membaca mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Tentu publikasi tersebut berujung pada pro dan kontra. Beberapa orang mendukung sikap T yang menurut mereka memang seperti itu dan sudah menjadi sebuah kewajaran, namun banyak dari komentator justru menghujat T dengan menyebut apa yang dilakukan T sangat tidak manusiawi. Terlebih lagi T mereka ketahui sebagai tokoh dari sebuah organisasi PMI di Makau yang cukup memiliki nama besar. Sebagai tokoh organisasi, T dianggap tidak bisa memberi contoh yang baik kepada sesama PMI.

Publikasi yang tanpa aku duga justru menuai konflik tersebut semakin mempersulit keadaanku. Niatku yang sebenarnya hanya ingin mencari T kemudian bisa menyambung komunikasi, ternyata malah menjadikan T semakin menjauh dari aku. Publikasi tersebut menjadi alasan yang membenarkan bagi T untuk memusuhi aku kemudian memutus komunikasi dengan aku.

Nasibku kian tidak jelas. Persediaan bekal uang untuk biaya hidupkupun semakin menipis. Di Makau, semuanya harus serba uang dengan harga serba mahal jika dibanding dengan di kampung halaman. Berbagai perasaan berkecamuk dalam diriku. Antara menyesal, gelisah, dan harapan yang telah pupus. Setiap aku terbayang suasana pekerjaan yang telah aku tinggalkan, penyesalan tak sanggup lagi aku tahan. Namun jika aku teringat kedua buah hatiku di rumah, aku terlecut harus bisa bertahan mencari pekerjaan demi mereka, demi masa depan mereka. Sebab, sudah sejak sekian tahun lamanya, aku menjadi single parent meskipun secara hukum aku belum bercerai dengan suamiku.

Berbagai cara aku lakukan untuk menghemat pengeluaran sehari-hari agar persediaan uang yang aku miliki mencukupi untuk bertahan hidup. Sebab bagaimanapun juga  dalam keterlanjuran ini aku masih berharap akan mendapat pekerjaan yang halal. Untuk mundur pulang ke kampung halaman, aku tidak bisa membayangkan bagaimana caraku memperbaiki kondisi perekonomianku nantinya.

Tekadku semakin bulat, akuharus bisa bertahan dan mendapat pekerjaan di Makau. Semakin lama aku menunda, sama saja dengan semakin lama aku membuat anakku menderita lantaran tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya. Beberapa cara aku tempuh untuk memuluskan dua prioritas utamaku yakni meminta kembali uang jaminan yang telah aku berikan pada T dan K, kemudian mencari pekerjaan yang lain.

Di tengah kebingunganku, aku terpikir untuk meminta bantuan sebuah lembaga pemerhati pekerja migran. Pada salah seorang personil lembaga tersebut aku menceritakan seluruhnya sejak aku pertama kali menerima informasi penuh harapan mengenaijob di Makau, aku meninggalkan pekerjaanku di Indonesia kemudian terbang ke Makau hingga saat aku terpuruk sesampainya di Makau.

Berbagai saran aku terima. Aku didampingi melaporkan kasusku ke kepolisian Makau. Namun sulit untuk mengusut sebab selain tidak ada tanda bukti serah terima uang, sudah menjadi konsekwensi bahwa di Makau selalu ada uang jasa bagi calo yang mencarikan pekerjaan pada seseorang. Sedangkan mengenai keluhan pekerjaan yang ternyata tidak sesuai, Polisi Makau tidak bisa menanggapi. Sebab usaha sauna, panti pijat maupun pusat hiburan lain dengan disertai fasilitas layanan pemenuhan hasrat seksual sudah menjadi kelaziman di negeri kasino ini. Dan statusnya legal dimata hukum negeri Makau.

Kemudian oleh lembaga tersebut, aku dihubungkan dengan apakabaronline.com untuk menyampaikan keluh kesah petaka yang menimpaku. Setelahnya, aku merasa sedikit tenang. Aku mulai bisa berpikir jernih. Dan pada saat itu, aku berusaha menempuh jalan persuasif untuk meminta kembali uang yang jaminan yang dibawa oleh T dan K. Meskipun tidak mudah, namun akhirnya aku berhasil membangun komunikasi dengan T dan K kembali.

Kepada T dan K aku sampaikan kembali perihal maksudku meminta kembali uang tersebut. Namun beberapa hari di awal, hasilnya masih nihil. Alasan uang telah masuk ke agen kemudian orang agen yang membawa uang tersebut sedang ke luar Makau selalu menjadi alasan yang mereka sampaikan padaku. Ketika alasan T dan K aku sampaikan kepada personil lembaga pemerhati pekerja migran, oleh beliau informasi tersebut ditelusuri kebenarannya. Dengan menghubungi pemilik agen yang dimaksud, beliau mendapat jawaban, bahwa ternyata uang tidak masuk ke agen sebab aku belum bekerja.

Informasi tersebut aku tampung, dan aku berencana akan menjadikan informasi tersebut sebagai amunisi jika T dan K tetap berkelit. Aku secara diam-diam memberikan tenggang waktu 4 hari terhitung sejak T dan K menunda untuk yang terakhir kalinya. Namun, dua hari kemudian, kebesaran Allah SWT mulai nampak. T dan K meminta aku untuk bertemu, kemudian menyerahkan uang itu.

Sampai kini, aku masih terkatung-katung di Makau, harapan semu yang telah membuat aku membanting setir harus aku jadikan kenyataan pahit untuk membuatnya menjadi manis pada saatnya nanti. Kepada para pembaca apakabaronline.com, saya menyarankan, jangan sampai pengalaman pahit yang menimpaku ini akan menimpa orang lain. Hal yang harus kita pegang, jika mendapat sebuah tawaran pekerjaan, pastikan dulu sejelas-jelasnya dengan disertai bukti hitam diatas putih yang menjadi kontrak ikatan kerja antara kita dengan pemberi kerja. [seperti dituturkan Yeni kepada Asa dari Apakabar+]

Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner Iklan banner