Ahli : Jika Mudik Terus Berlangsung, Wabah Corona Sulit Dibendung, 1 Juta Manusia di Pulau Jawa Bisa Terinfeksi Virus Corona

Feature Image Jika Mudik Terus Berlangsung, Wabah Corona Sulit Dibendung, 1 Juta Manusia di Pulau Jawa Bisa Terinfeksi Virus Corona (Foto Asa- ApakabarOnline.com)
Feature Image Jika Mudik Terus Berlangsung, Wabah Corona Sulit Dibendung, 1 Juta Manusia di Pulau Jawa Bisa Terinfeksi Virus Corona (Foto Asa- ApakabarOnline.com)
Prime Banner

JAKARTA – PSBB sudah diberlakukan sejak 10 April kemarin di Ibukota Jakarta. Namun belum secara tegas melarang masyarakat di perkotaan pulang kampung atau mudik. Pemerintah saat ini baru sebatas mengimbau masyarakat agar tidak mudik. Seandainya harus mudik masyarakat diminta melakukan isolasi diri selama 14 hari.

Tentu hal ini menjadi kekhawatiran banyak kalangan, pasalnya migrasi manusia dari zona merah ke kampung-kampung di berbagai wilayah di Indonesia, berpotensi membawa dan menularkan virus hingga wabah corona semakin meluas dengan korban semakin banyak.

Salah satu kalangan yang menaruh perhatian dengan hal ini adalah Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Agus Taufik Mulyono.

Agus menilai apabila mobilisasi mudik tidak dilarang, maka pemerintah daerah yang akan menanggung beban. Beban tersebut berupa sosial maupun ekonomi.

“Kalau menghadapi gestur orang Indonesia dan hanya diimbau, tingkat pelanggarannya besar. Dampaknya ke pemda, kalau masyarakat ini benar-benar mudik, maka yang terdampak secara ekonomi serta masalah-masalah sosial itu pemda,” kata Agus dalam konferensi pers melalui video di Jakarta, Selasa (14/04/2020).

“Saya kemarin rapat dengan Kemenhub, tercatat saat ini sudah ada 900 ribu orang yang mudik. Sisanya tinggal 2,6 juta yang belum pulang. Separuh dari 2,6 juta itu, ada 1,3 juta orang dianggap ada potensi mudik,” lanjutnya.

Secara angka persebaran, ia menghitung, sebanyak 13 persen pemudik akan menyebar ke wilayah Jawa Barat. Jawa Tengah menjadi tujuan mudik paling banyak yakni 33 persen, Yogyakarta 7,8 persen, Jawa Timur 20 persen, dan wilayah Sumatera 7 persen.

“Ini lah yang perlu dilihat dampak mudik Jateng, Jatim dan Jabar. Jateng, Yogyakarta jadi derah ODP atau penularan baru atau daerah wabah baru kalau misalkan mudik ini tidak ditangani pemerintah. Ini gambaran ya setelah ikuti beberapa diskusi,” ujar Agus.

Dia menyatakan, banyak masyarakat yang nekat mudik di tengah wabah virus corona lantaran hal tersebut merupakan budaya tahunan. Selain itu, ia memaparkan beberapa faktor lainnya yang membuat budaya mudik menjadi sulit dilarang.

“Kemudian ada yang nekat mudik gara-gara tidak ada masukan biaya hidup, ini pasti nekat mudik. Lalu bersikeras mudik karena permintaan orang tua dan keluarga. Orang-orang ini yang ada di dalam 1,3 juta itu,” ungkap Agus.

Sementara itu, peneliti Indonesia memprediksi, mudik Ramadan bisa memicu ledakan pandemi atau lonjakan drastis jumlah orang yang terinfeksi virus corona alias Covid-19.

Dinukil dari Reuters, Selasa (14/4/2020), para peneliti mengklaim sudah memperingatkan pemerintah terkait rencana mempersilakan jutaan penduduk mudik saat Ramadan.

Sebuah studi terpisah menunjukkan sistem kesehatan di Indonesia diprediksi bakal kewalahan oleh permintaan di ICU bahkan dengan upaya kuat menekan wabah.

Presiden Joko Widodo telah menolak tekanan untuk melarang total mudik Ramadan alih-alih berusaha membujuk orang tetap tinggal dan seruan pembatasan jumlah transportasi.

Para ahli kesehatan mengatakan Indonesia menghadapi peningkatan tajam kasus corona usai pemerintah dinilai lambat dan menutupi skala infeksi di negara yang mencatat 459 kematian lebih banyak daripada negara Asia lain, kecuali Cina.

Dalam metode baru yang disaksikan Reuters, fakultas kesehatan masyarakat Universitas Indonesia memperkirakan, jika mudik berlanjut, kemungkinan ada 1 juta infeksi pada Juli di Jawa, pulau terpadat di negara itu dan rumah bagi ibukota Jakarta.

“Jika kita memilih tidak mudik, kita bisa menjaga agar tidak mencapai angka setinggi itu,” kata peneliti Pandu Riono seperti dikutip laman Reuters, Selasa (14/04/2020).

Pandu Riono menambahkan metode penelitian tersebut masih memperkirakan 750 ribu lainnya bahkan tanpa mudik.

Diminta berkomentar, Abraham Wirotomo, seorang ahli di kantor kepresidenan, mengatakan pihaknya mengundang masukan dari peneliti dan akan mendasarkan pembuatan kebijakan pada penelitian.

Indonesia telah mencatat 4.839 infeksi sejauh ini, tetapi pembuat metode memperkirakan jumlah sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. Riono memperkirakan mungkin sudah ada 250.000 kasus. []

You may also like...