Alhamdulilah, Tinggal Proses Akhir, Obat COVID-19 Temuan Unair Segera Digunakan Secara Masal

Prime Banner

SURABAYA – Kabar gembira datang ditengah kekalutan warga Kota Surabaya khususnya dan seluruh warga negara Indonesia pada umumnya, ditengah hiruk pikuk pageblug COVID-19, Universitas Airlangga Surabaya sejak April kemarin gencar melakukan riset untuk menemukan ramuan obat anti COVID-19.

Hasilnya, ramuan tersebut kini sedang dimantapkan formulasinya, progresnya sudah ditahap ujicoba babak akhir, dan sebentar lagi bisa diproduksi masal untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.

Dalam keterangan persnya, salah satu anggota tim peneliti dari Universitas Airlangga Surabaya, Prof. Ni Nyoman Tri Puspaningsih menjelaskan, tahap proses uji praklinis ini adalah pengujian untuk melihat toksisitas atau merusaknya suatu zat jika dipaparkan terhadap organisme dan untuk mengetahui seberapa obat tersebut mematikan virus dan bukannya mematikan sel normal.

“Dari uji preklinis akan diketahui dosis-dosis yang pas. Kita juga akan cobakan dosis itu apakah bisa digunakan atau tidak,” kata Nyoman.

Setelah diketahui dosisnya dari hasil uji praklinis itu, Nyoman biasa ia disapa, mengatakan akan dilanjutkan dengan uji pada hewan uji dan manusia. Setelahnya, hasil tersebut akan diproyeksikan untuk produksi massal. Namun, untuk menuju ke produksi massal, kata Nyoman masih akan memakan waktu satu tahun ke depan.

Sedangkan, janji tim peneliti untuk menuliskan jurnal soal temuan lima senyawa obat virus Corona, ternyata menunggu uji preklinis selesai.

“Jurnalnya jadi ditulis semua sampai uji preklinis selesai. Ini permintaan pusat,” imbuhnya.

Sementara Rektor Unair, Rektor Unair, Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA juga mengatakan, akan terus mengupayakan penelitian ini bisa lebih cepat selesai dan hasilnya bisa bermanfaat bagi orang banyak.

Sebelumnya diberitakan sekelompok peneliti dari Universitas Airlangga Surabaya menemukan lima senyawa yang bisa dijadikan untuk obat virus corona. Lima senyawa yang didapatkan tersebut merupakan senyawa koleksi Unair sendiri.

“Kami punya senyawa 132 lalu kami coba dan riset ditemukan lima yang paling baik tersebut,” kata Nyoman.

Nyoman menegaskan, jika kelima senyawa ini berasal dari senyawa kimia. Akan tetapi, desainnya berdasarkan herbal.

“Jadi hibrida dari bahan herbal dan sintetik. Nah, ini dikombinasi dengan menambah beberapa residu di rantai-rantai samping dari senyawa itu,” ungkap Nyoman. []

You may also like...