“Berbohong” Tanda Anak Cerdas

Prime Banner

ApakabarOnline.com – Mungkin Anda pernah mendengar seorang anak berkata. “Aku pelihara gajah di rumah.” Padahal sebenarnya tidak.

“10 menit lagi aku mandi.” Bahkan 30 menit kemudian ia masih asyik bermain.

Mulai usia dua atau tiga tahun, umumnya anak mulai berbohong. Sebagai orang tua, tentu ini bukanlah hal yang menyenangkan, mungkin malah cenderung mengkhawatirkan.

Namun, apa yang perlu diketahui oleh para orang tua adalah, berbohong sebenarnya merupakan tahap tumbuh kembang yang penting. Demikian menurut riset Profesor Kang Lee, dari University of Toronto.

Dan ketika Anda paham mengapa anak berbohong, dan bagaimana cara menghadapinya, maka kebohongan anak adalah sesuatu yang tak perlu terlalu dipermasalahkan.

Dikutip She Knows, riset Lee menyebutkan, bahwa pada kelompok anak-anak usia dua tahun, 30 persen di antaranya sudah mencoba berbohong. Pada usia tiga tahun, 50 persen mencobanya secara reguler.

Berbohong sudah merupakan sesuatu yang umum, dilakukan oleh 80 persen anak usia empat tahun. Apalagi pada anak-anak usia lima sampai tujuh tahun.

Tak dimungkiri, kebanyakan dari kita juga berbohong, termasuk saat kecil dulu. Jadi, berbohong bukanlah sesuatu yang luar biasa jika dilakukan oleh anak-anak.

Lebih menarik lagi, menurut riset ini, anak-anak yang bisa berbohong sebenarnya bisa dibilang lebih cerdas daripada mereka yang tak bisa dusta. Sebab, kata Lee, bohong memerlukan dua hal.

Petama, anak harus memahami apa yang ada dalam pikiran orang lain untuk memahami apa yang mereka tahu dan tidak. Ini disebut dengan kemampuan theory of mind. Anak-anak yang lebih andal dalam theory of mind juga lebih jago dalam berbohong.

Kedua, anak butuh fungsi eksekutif, atau yang dikenal dengan kemampuan untuk merencanakan sesuatu dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Sebanyak 30 persen anak di bawah usia tiga tahun yang bisa berbohong memiliki kemampuan fungsi eksekutif lebih tinggi.

Lebih spesifik lagi, mereka punya kemampuan untuk menghambat dorongan mengatakan yang sebenarnya, dan memilih untuk berbohong. Kecanggihan kognitif seperti ini, bisa berarti bahwa anak-anak ini akan jadi lebih sukses di sekolah, dan dalam berinteraksi dengan anak-anak lain.

“Anak-anak yang tumbuh kembangnya bagus biasanya cenderung berbohong dengan baik,” ujar Lee dikutip CBC.

Betapapun, mengajarkan nilai kejujuran tentu tak kalah penting. Lee dan timnya pernah bereksperimen membacakan sejumlah dongeng populer yang memaparkan dengan jelas efek buruk dari berbohong. Salah satunya Pinocchio yang hidungnya bertambah panjang untuk setiap dusta yang ia ucap.

Tapi menurut Lee, menekankan akibat buruk dari berbohong sebenarnya tidak akan membuat anak bersikap lebih jujur. Sebaliknya, akan lebih baik jika orang tua memberi contoh lewat kisah yang memuliakan efek positif dari berkata jujur.

Ia memberi contoh cerita George Washington and the Cherry Tree. “Mungkin pesan positif dari berkata jujur dalam cerita tersebut meningkatkan perilaku jujur pada anak,” kata Lee.

Bagaimanapun kata Lee, jika ingin bertahan hidup di tengah masyarakat, mau tidak mau kita harus belajar untuk berbohong demi kebaikan. Sebab, manusia adalah makhluk sosial yang sehari-harinya berinteraksi dengan orang lain.

Dalam beberapa situasi, kita harus berbohong untuk bisa menjaga interaksi tersebut. Misal saat seorang cucu mendapat topi rajutan dari neneknya yang sebenarnya ia tak suka. Untuk menghargai upaya sang nenek maka ia pun menerimanya dengan antusias.

“Karena itu kita tak bisa menerapkan honesty is the only policy,” tegas Lee.

Namun, orang tua tak perlu khawatir berlebihan kebohongan ini akan berlanjut sampai dewasa. Anda bisa senantiasa meminta anak-anak untuk berkata jujur.

Sebagai orang tua juga sebaiknya tidak mengabaikan anak yang berbohong. Saat ia ketahuan berbohong tetaplah jelaskan bahwa bohong itu tidak baik.

Jangan tanya apakah mereka benar melakukannya. Alih-alih, tanyakan pada anak mengapa mereka melakukannya.[Asa]

You may also like...