Berpotensi Tsunami, Usai Diguncang Gempa 6,9 SR, Ribuan Warga Banggai dan Talaibu Mengungsi Ke Perbukitan dan Kantor Bupati

Prime Banner

SULUT – Sebanyak 3000-4000 warga Kota Salakan, mengungsi ke Kantor Bupati Bangga Kepulauan, dan perumahan eselon 3 di atas perbukitan. Warga membawa peralatan seadanya, untuk mengungsi pasca daerah ini diguncang gempa 6.9 Magnitudo pada pukul 18.40 Wita.

“Kota Salakan sunyi, kota ini berpenduduk sekitar 7000-an, semua sudah mengungsi ke atas,” kata Aris Susanto, Kepala Bappeda Kabupaten Bangga Kepulauan, Jumat (12/4/2019).

Aris Susanto menjelaskan, pemerintah Bangga Kepulauan, membuka kantor-kantor untuk menampung para pengungsi dan keluarganya. Mereka membawa peralatan tidur seadanya dan menempati ruang-ruang di kantor pemerintahan.

“Di perumahan eselon 3 juga penuh dengan pengungsi dari bawah, mereka membawa peralatan masing-masing,” kata Aris Susanto.

Wilayah timur Pulau Sulawesi, diguncang gempa kuat 6,9 Magnitudo hingga terasa di sejumlah provinsi tetangga seperti Gorontalo dan Sulawesi Utara. Pusat gempa berada di kedalaman 10 km, dengan lokasi 85 km Barat daya Bangga Kepulauan, 113 km barat daya Bangga, 113 km timur laut Morowali, dan 233 km timur laut Kendari.

Tak hanya di Bangga, di Pulau Talaibu, Maluku Utara, situasi panik juga terjadi. Menukil pemberitaan CNN, warga Pulau Taliabu, Maluku Utara, berbondong-bondong mengungsi ke wilayah perbukitan pada Jumat (12/4) malam karena dampak gempa 6,9 skala Richter yang mengguncang Sulawesi Tengah sampai ke kabupaten itu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pulau Taliabu, Sutomo Teapon, mengatakan bahwa setidaknya 500 warga di wilayah sekitar Bobong, ibukota Taliabu, mengungsi ke Desa Ratahaya.

Menurut Sutomo, mereka membawa serta peralatan tidur dan surat-surat berharga saat menuju lokasi pengungsian.

“Saat ini, kami sementara berada di SPBU,” ujar Sutomo kepada CNNIndonesia melalui sambungan telepon.

Setelah menerima laporan peringatan dini tsunami dicabut BMKG, pihak BPBD langsung mengimbau warga untuk kembali ke rumah masing-masing. Namun, warga hingga kini memilih bertahan di lokasi pengungsian.

“Sebagian besar memilih untuk tetap berada di zona yang dianggap aman,” ucap Sutomo.

Gempa di Sulteng itu memang terasa berulang kali di Pulau Taliabu hingga membuat warga berhamburan keluar rumah. Warga di desa-desa pesisir pun langsung memutuskan mengungsi ke wilayah perbukitan.

Sementara itu, BMKG memastikan tak ada perubahan muka air laut yang signifikan pascagempa magnitudo 6,9 yang mengguncang perairan Banggai Kepuluan, Sulawesi Tengah.

BMKG menyatakan peringatan tsunami yang sebelumnya disampaikan ke masyarakat juga telah berakhir.

Kepala BMKG, Rahmat Triyono, mengatakan dari sejumlah pengamatan muka air laut di sejumlah daerah dan juga analisis tide gauge, warga dimungkinkan untuk kembali ke rumahnya masing-masing.

“Peringatan tsunami dinyatakan berakhir. Warga bisa diimbau kembali ke rumah masing-masing,” ujar Triyono dalam wawancara via telepon dengan CNNIndonesia TV. []

You may also like...