Bertambah 35, Per 10 Oktober Jumlah Korban Meninggal Dunia Tsunami Palu Menjadi 2.045

Prime Banner

PALU – Saat puing dan reruntuhan serta bangunan yang tertimbun di bongkar, terus menerus jenazah korban gempa dan Tsunami ditemukan. Di hari terakhir evakuasi, kembali ditemukan sejumlah jenazah, dan korban tewas seluruhnya menjadi 2.045 orang, sementara ratusan lain dinyatakan hilang selain ribuan orang yang dicemaskan tewas tak teridentifikasi karena likuifaksi.

“Adapun para korban selamat yang dulu penduduk Balaroa, Petobo dan Jono Oge, yang hancur oleh likuifaksi, mereka semua meminta direlokasi ke tempat lain,” kata Sutopo Purwo Nugroho juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Itu data sampai pukul 13.00, tanggal 10 Oktober ini,” kata Sutopo dalam jumpa pers di BNPB, seperti diberitakan BBC News Indonesia.

Jumlah pengungsi sejauh ini 82.775 orang, dan 8.731 di antaranya di luar Sulawesi Tengah.

“Kami mengimbau agar para pengungsi agar kembali ke Palu agar bisa bekerja lagi,” katanya. Kendati masalahnya, sebagian besar rumah mereka hancur.

Ia menjelaskan, rehabilitasi dan rekonstruksi akan mulai dilakukan November mendatang.

Sutopo menegaskan lagi, bahwa Rabu (10/10) ini merupakan hari terakhir upaya evakuasi, pencarian dan penyelamatan, karena jenazah akan sudah terlalu parah kondisinya dan tak akan bisa dikenali.

Kawasan yang amblas dan terkubur tanah akibat proses likuifikasi, akan dijadikan kawasan ruang terbuka hijau.

“Semua setuju mereka minta direlokasi, khususnya di Balaroa, Petobo dan Jono Oge. Tapi pemda minta ada pernyataan tertulis agar tak ada masalah di kemudian hari,” lanjut Sutopo.

Sementara itu, pendistribusian bantuan logistik ke sejumlah daerah terisolir yang tertimbun longsor akibat gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, sudah bisa dilakukan lewat jalur darat sejak hari Selasa (09/10).

Sebelumnya, pengiriman bantuan hanya bisa dilakukan dengan helikopter lantaran medan yang tertutup puing-puing bangunan.

Sutopo Purwo Nugroho mengatakan wilayah yang sudah bisa dilewati itu di antaranya di lima desa di Kecamatan Balesang Tanjung, Kabupaten Donggala.

“Desa Ranao Manimbaya, Palau, Pomolulu, Malei, dan Ketong. Kemarin desa-desa itu sudah kami drop bantuan,” ujar Sutopo Purwo Nugroho saat jumpa pers sebelumnya.

Sementara di wilayah Sigi, menurutnya, jalan-jalan yang semula tertutup material longsoran juga sudah bisa dilalui, sehingga pengiriman bantuan makanan tak lagi menggunakan helikopter.

“Di Sigi ada tiga kecamatan, Kulawi, Kulawi Selatan, dan Pipikoro,” sambungnya.

Namun begitu masih ada satu kecamatan dan beberapa dusun di Kabupaten Donggala yang pendistribusiannya masih mengandalkan jalur udara.

“Kecamatan Sirenja, lalu Dusun Tiga, dan Dusun Labuana jalur daratnya masih tertutup sehingga hanya bisa menggunakan helikopter dan laut,” terang Sutopo.

 

Jumlah meninggal mencapai 2.045 orang

Sampai Rabu (10/10) siang, jumlah korban meninggal mencapai 2.045 orang, kata BNPB. Dari angka itu, korban paling banyak berada di Palu yang berjumlah 1.636 orang.

Sementara di Donggala 171 orang dan Sigi 222 orang, Parigi 15 orang dan di Pasangkayu seorang Sedangkan korban hilang hingga kini mencapai 671 orang.

“Semua jenazah meninggal sudah dimakamkan. Jadi 969 pemakaman massal kemudian 1.076 pemakaman keluarga,” ujar Sutopo.

Catatan lain menyebut korban luka berjumlah 10.679. Dari angka ini, 2.549 di antaranya mengalami luka berat dan 8.130 luka ringan.

Menyangkut proses evakuasi, telah digelar rapat koordinasi antara BNPB, Basarnas, Bupati Sigi, Walikota Palu, camat, lurah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad).

Pertemuan itu memutuskan operasi evakuasi atau pencarian akan tetap dihentikan pada 11 Oktober mendatang.

Sementara lokasi bekas likuifaksi akan dijadikan Ruang Terbuka Hijau atau Memory Park.

Sutopo juga menyebut, lokasi tersebut tidak akan digunakan lagi untuk permukiman penduduk lantaran berbahaya.[]

You may also like...