Cara Menghadapi Orang “Pamer Alat Setrum” (Sexual Exibionist)

Prime Banner

ApakabarOnline.com –  Rahmawati (bukan nama sebenarnya), seorang PMI yang bekerja di kawasan Kwoloon mengaku pernah bertemu dengan seorang pelaku seksual ekshibisi saat dia menaiki MTR. Pelaku yang dalam kondisi gerbong penuh sesak dengan penumpang, mengeluarkan alat kelaminnya lalu menempel-nempelkan ke pantat Rahmawati.

Tentu awalnya Rahmawati tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Serangan yang dilakukan pelaku kemudian meningkat dengan meraih tangan Rahmawati untuk menyentuh alat kemaluan pelaku. Tak lama kemudian, pelaku mengalami ejakulasi dan ceceran spermanya tanpa disadari membasahi pakaian Rahmawati.

Yeni (bukan nama sebenarnya) mengaku dibuat terkejut saat tengah asik-asiknya menikmati waktu santai duduk-duduk di salah satu sudut taman Tuen Mun, tiba-tiba datang seorang pria yang duduk di sebelah kirinya menghadap ke dirinya dalam jarak kurang dari satu meter.

Yeni mengetahui kedatangan orang tersebut, namun karena kesibukan dia dengan ponselnya, membuat dia tidak mengetahui apa yang dilakukan pria tersebut. Saat ponsel dimasukan ke dalam tas, dan tetiba terdengar suara berdehem dari pria tersebut, Yeni terperanjat lemas melihat pria tersebut sedang memainkan alat kelaminnya, pria tersebut sedang beronani di samping Yeni dalam jarak yang sangat dekat, kurang dari satu meter.

Belum lepas dari keterkejutannya, masih berada dalam kebingungan akan mengambil sikp apa, Pria tersebut tiba-tiba berdiri didekat Yeni, sembari memainkan alat kemaluannya dengan intensitas yang meninggi, dan tak lama kemudian, pria tersebut mengalami ejakulai, semburannya mengarah ke tubuh Yeni, lalu pergi.

Di Indonesia, ada Virginia, seorang perempuan muda menyaksikan tindakan pelecehan seksual di atas KRL Commuter Line, beberapa waktu lalu. Detik.com mengangkat curhat Virginia, yang awalnya diunggah melalui akun media sosialnya, kemudian menjadi viral.

Menurut Virginia, peristiwa ini terjadi di KRL tujuan Cikarang dari Jakarta Kota sekitar pukul 18.30 WIB. Di atas KRL yang penuh dia melihat seorang laki-laki mengeluarkan alat vitalnya, dan mulai melakukan pelecehan seksual terhadap salah seorang penumpang perempuan yang tidak menyadari dirinya menjadi sasaran.

Pelaku menyadari ada yang melihat tindakannya. Tetapi dia justru bersikap menantang dan mengancam. Virginia yang ketakutan berusaha menginformasikan kepada penumpang lain untuk menghadapi pelaku. Akan tetapi orang yang tersebut malah menghindar, juga karena takut.

Di stasiun Bekasi, Virginia bergegas turun. Si pelaku berusaha mengejarnya sambil membiarkan celananya terbuka. Beruntung Virginia segera bertemu dengan petugas keamanan. Akan tetapi pelaku berhasil melarikan diri, dan meninggalkan barang-barangnya di atas kereta.

Polisi dan petugas keamanan stasiun segera melakukan penyusuran di atas KRL untuk mencari pelaku, namun tidak berhasil. VP Komunikasi Perusahaan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) Eva Chairunisa mengimbau agar penumpang selalu waspada dan segera melaporkan tindakan kriminal atau hal-hal yang mencurigakan kepada petugas.

Menurut Eva, pihaknya memiliki pengamanan tertutup dan tidak jarang menangkap pelaku kriminal, namun karena KRL adalah ruang publik, maka diperlukan kewaspadaan yang tinggi dari masing-masing pengguna. Tempat keramaian seperti transportasi publik dan ruang publik sering menjadi incaran pelaku kriminal.

 

Apa yang Harus Dilakukan Kepada Pelaku Pamer Alat Setrum ?

Lalu, bagaimana sebaiknya bersikap ketika kita melihat seseorang melakukan ekshibisionisme, memamerkan alat setrumnya atau kelaminnya? Atau melakukan pelecehan seksual terhadap orang lain?

Peristiwa ekshibisionisme sering terjadi di tempat-tempat umum, termasuk commuter line, bus, kereta, bahkan di jalanan atau taman-taman bermain dan berolahraga. Kadang-kadang ada saja orang yang merekam tindakan mereka dan menyebarkannya di media sosial.

Menurut para ahli, seperti dikutip dari techandlifestylejournal.com, ekshibisionisme mengacu pada perilaku abnormal di mana seseorang merasa perlu memamerkan alat vital mereka kepada orang lain.

Beberapa pelaku ekshibisionisme menganggap perilakunya itu adalah sebuah gaya hidup, sementara yang lainnya menganggapnya sebagai cara untuk merasakan sensasi yang langka. Kebanyakan dari pelaku ekshibisionisme akan berhati-hati dalam memilih tempat dan target mereka.

Tidak hanya sekedar memamerkan alat kelamin kepada orang lain, seorang pelaku ekshibisionis bisa juga memamerkan aktivitas seksual mereka, seperti masturbasi.

Menurut Dr. Ma. Bernadette Arcena, seorang psikiatris di St. Luke’s Medical Center, biasanya ekshibisionis mendapatkan kepuasan setelah mendapatkan perhatian atau ekspresi kaget dari mereka yang melihat.

Senada dengan Arcena, Stephen Hart, Ph.D seorang psikolog forensik mengatakan pada Verywell.com bahwa kaum ekshibisionis ingin membuat seseorang terkesan dengan tindakan mereka memamerkan alat kelamin. Biasanya mereka menjadi terangsang secara seksual setelah melihat ekspresi kaget dan syok dari targetnya.

Stephen Hart mengatakan bahwa jika berhadapan dengan seorang ekshibisionis, cobalah untuk meninggalkan situasi secepat dan setenang mungkin, tanpa memperlihatkan ekspresi yang diharapkan.

“Teruslah bergerak menjauh. Tunjukkan ekspresi tidak peduli atau jijik,” kata Hart. “Jangan bertahan di tempat, mendekati atau membuat serangan. Jika dia mendekat, berteriaklah minta tolong, dan lari ke tempat yang aman. Dan segera mungkin laporkan pada petugas keamanan.”

Sementara itu, ahli bahasa tubuh Patty Wood menyarankan bahwa karena kaum ekshibisionis itu merupakan pencari perhatian dan menginginkan reaksi yang kuat, maka tunjukkan sikap tubuh yang dingin dan tidak menunjukkan emosi terhadap perilakunya.

“Tegakkan tubuh dan alihkan pandangan Anda darinya, cobalah untuk tidak memberikan tanggapan yang emosional terhadap perilakunya. Lalu segera pergi dan memanggil petugas keamanan sambil memberikan deskripsi pelaku sehingga mereka dapat segera ditangkap.”

Pamela Kulbarsh, ketua Psychiatric Emergency Response Team, menyarankan jika pelaku menangkap Anda dan Anda tidak cukup kuat untuk melawan, cobalah pura-pura pingsan, atau ludahi diri anda sendiri. Hal tersebut akan segera menghilangkan fantasi ekshibisionis.

Perilaku ekshibisionis harus dianggap sebagai ancaman, menurut psikolog Stephanie S. Smith, Ph.D. Polisi harus dilaporkan dan diberi deskripsi tentang pelaku. Fokuslah pada detail wajah dan tanda-tanda lainnya seperti pakaian atau, seperti dalam cerita Virginia, tato. Hal ini akan mempermudah polisi melakukan pencarian.

Pelaku ekshibisionis tidak hanya melakukan perbuatannya sekali saja, dia akan melakukannya di lain waktu. Dengan deskripsi yang jelas tersebut, polisi akan dengan mudah menemukan dan mengamankan.

Banyak ahli menyarankan memotret pelaku dengan kamera ponsel, namun hal tersebut sebaiknya dilakukan dari jarak yang aman. “Selalu hubungi polisi dan petugas keamanan. Meminta penegakan hukum tindak lanjut atas insiden tersebut, buru mereka jika harus. Hindari jalur yang belum dianggap aman oleh polisi,” kata Pamela Kulbarsh. []

You may also like...