Fanatisme dan Cacat Nalar

Prime Banner

Sejak politik elektoral membelah sikap publik, pikiran waras yang jernih menjadi objek langka yang mahal. Banyak warga negara terjebak oleh logika partisan yang membuat perdebatan publik disesaki argumentasi cacat nalar. Dalam jangka panjang, kondisi ini berbahaya karena mengancam landasan fundamental kehidupan bangsa modern: kewarasan.

Pada tahun politik seperti saat ini, argumentasi cacat nalar mudah ditemukan di berbagai ruang percakapan. Tidak hanya terjadi lingkaran bawah (grass root), argumentasi itu juga masuk dalam wacana elite. Bahkan belakangan, percakapan demikian juga mudah ditemukan di lingkungan cendekiawan. Pincang logika menjadi endemi yang menyerang masyarakat partisan.

Kondisi itu tampak pada cara publik melahirkan gagasan dan membincangkannya pada bidang tertentu. Penilaian benar dan salah tidak lagi dilakukan dengan pertimbangan yang ketat logika, melainkan berdasarkan suka-tidak suka dan untung-rugi semata. Akibatnya, pernyataan yang dasar logikanya sama akan dianggap benar dan dipertahankan pada situasi tertentu (jika menguntungkan) tetapi ditolak mati-matian pada situasi lain (jika merugikan).

Sikap demikian tentu saja membahayakan, baik bagi individu maupun komunitas bangsa secara umum. Bagi individu, sikap itu berpotensi merusak irama berpikir yang membuatnya terjauhkan dari keputusan-keputusan rasional. Rasionalitas yang telah lama menjadi ciri manusia modern terancam tumpul.

Adapun bagi bangsa, sikap itu menjauhkan kita dari demokrasi substansial. Demokrasi dirancang dengan asumsi tiap warga negara memiliki kecakapan berpikir yang cukup untuk mengambil keputusan. Jika kecakapan itu disia-siakan, demokrasi tidak akan mencapai bentuk idealnya sebagai ruang pertukaran gagasan. Sebaliknya, demokrasi justru menjadi ruang gelap yang dikuasai para demagog politik.

Situasi itulah yang membuat keterampilan berpikir kritis perlu kembali ditawarkan. Ada optimisme, jika kecakapan itu diterima secara masif maka publik akan lebih selektif dan cermat menyikapi berbagai bentuk wacana. Dalam jangka panjang, keterampilan itu akan membawa percakapan publik ke kuadran positif, yaitu kuadran ketika rasionalitas berperan lebih besar dalam menentukan sikap publik.

 

Belajar kepada Fairclough

Salah satu model analisis wacana kritis (AWK) ditawarkan oleh linguis Inggris, Norman Fairclough. Dibandingkan model lain, model analisis wacana yang dikembangkan Fairclough relatif mudah diterima karena dua alasan. Pertama, memiliki semangat progresif tinggi untuk mempersoalkan ketidakadilan dan memperbaiki keadaan. Kedua, sangat operasional sehingga bisa diterapkan pada berbagai medan wacana, bahkan oleh kebanyakan warga.

Analisis wacana kritis menjadi keterampilan yang penting karena bahasa merupakan peranti sosial yang selalu cemar oleh kepentingan. Setiap hal yang dinyatakan dengan bahasa selalu dilatari oleh cara berpikir yang bersifat ideologis. Adapun kepentingan ideologis sangat rentan menyimpan gagasan yang manipulatif dan tidak adil.

Slogan-slogan populis yang kini menyesaki percakapan publik, misalnya, juga tidak luput dari ideologi tertentu. Diskursus tentang “mobil nasional” yang dikemukakan menjelang pemilu, misalnya, tidak bisa dipisahkan dengan kepentingan petahana untuk berkuasa kembali. Begitu pula jargon “ketimpangan sosial” dan “kelesuan ekonomi” yang disuarakan oposisi, tidak bisa dipisahkan dengan kepentingan subjek untuk mendelegitimasi kinerja pemerintah.

Dari perspektif wacana kritis, jargon-jargon di atas (di)muncul(kan) dan dikelola untuk merekayasa pengetahuan, afeksi, dan perilaku publik agar berpikir dan bertindak sesuai keinginannya. Pernyataan sengaja dilahirkan agar melahirkan interpretasi tertentu, kemudian dijadikan instrumen mengontrol perilaku. Dalam wujud yang paling harfiah, perilaku yang ingin dikontrol adalah perilaku elektoral dalam pemilu nanti.

AWK bisa menjadi instrumen yang efisien untuk membongkar aneka kepentingan di balik penggunaan bahasa. Dengan metode yang dimilikinya, AWK dapat membimbing publik membongkar pernyataan yang awalnya tampaknya wajar dan benar ternyata mengandung gagasan yang diskriminatif. Setelah gagasan diskriminatif ditemukan, AWK menganjurkan publik mengambil tindakan demi terwujudnya perubahan sosial.

Dalam kaitannya dengan itu, Fairclough (2010) menempatkan analisis wacana pada tiga dimensi berbeda, yaitu dimensi teks, interpretasi, dan praksis sosial.

Pada dimensi teks wacana berkaitan dengan bagaimana subjek memilih bentuk tuturan tertentu agar sesuai dengan kepentingannya. Subjek bisa membuat pernyataan, jargon, klaim, tuduhan, olok-olok, stigma, humor, dan sebagainya agar gagasannya bisa tersampaikan dan diterima. Wacana pada dimensi intepretasi berkaitan dengan cara subjek mengendalikan makna pada benak publik. Adapun wacana pada dimensi praksis sosial berkaitan dengan tindakan konkret yang dilakukan agen dalam masyarakat.

Tiga dimensi di atas menunjukkan bahwa bentuk dan teks memiliki relasi dengan pemahaman publik serta tindakan tertentu yang dilakukan masyarakat. Tiga dimensi tersebut sekaligus mengafirmasi bahwa perilaku masyarakat bisa direkayasa dengan gagasan tertentu. Adapun gagasan bisa ditanamkan dalam benak publik melalui aktivitas berbahasa tertentu.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pernyataan-pernyataan yang membanjiri ruang publik belakangan ini merupakan tindakan terencana yang dilakukan subjek tertentu untuk merekayasa perilaku publik. Dalam hal ini publik diposisikan sebagai objek dependen yang dieksploitasi sisi kognitif dan perilakunya oleh subjek tertentu.

Jika kesadaran kritis publik rendah, posisinya semakin lemah dan mudah dikendalikan. Sebaliknya, jika kesadaran kritisnya baik, publik memiliki kesempatan menguji wacana yang dihadapinya sehingga memiliki alternatif sikap yang lebih beragam: menerima, mengabaikan, menolak, atau melawannya.

 

Menolak fanatis

Kemampuan AWK untuk membongkar ideologi bahasa juga bisa menghindarkan publik dari fanatisme terhadap tokoh atau aliran tertentu. Dengan AWK, publik bisa menganalisis bahwa sebaik apa pun tampilan publik seseorang ternyata bisa saja dibangun oleh motif tertentu yang picik. Dengan demikian, publik akan tahu bahwa tampilan panggung seseorang bisa sangat berbeda dengan tampilan sejatinya.

Di kalangan akar rumput, fanatisme muncul karena keyakinan bahwa kelompok atau tokoh tertentu memiliki kebaikan yang sempurna. Dalam keyakinan publik, tokoh yang didukungnya diidentifikasi sebagai pribadi cerdas, merakyat, tegas, bersih, religius, dan sebagainya. Padahal, keyakinan tersebut merupakan produk wacana yang sengaja dikonstruksi untuk kepentingan tertentu.

Dengan kejelian yang cukup, AWK memungkinkan warga mengetahui strategi berwacana dilakukan elite politik untuk menumbuhkan sikap fanatik. Pengetahuan itu bukan saja membuat warga waspada, tetapi juga menumbuhkan dorongan perlawanan terhadap praktik yang tidak adil. Ketika pembodohan dilawan, warga akan menemukan jalan menumbuhkan kewarasan. [Rahmat]

You may also like...