Indonesia Punya Sederet Polisi Gondrong yang Membuat Penjahat “Mobat Mabit”

Prime Banner

JAKARTA – Bercerita tentang pemberantasan kejahatan maupun pencegahan narkoba di Indonesia tak lepas dari peran anggota reserse Polri. Dengan karakter postur tubuh yang garang dan tak pandang bulu dalam melaksanakan tugasnya sebagai penegak hukum, membuat para pelaku tindak kriminal serta bandar kelas kakap narkoba.

Yang menjadi perhatian masyarakat adalah ada beberapa reserse yang memiliki gaya khas tersendiri untuk menangkap seorang penjahat. Untuk kepangkatannya pun beragam, mulai dari yang tingkat bintara bahkan ada yang perwira tinggi setingkat jenderal. Siapa saja mereka?

1.AKP Faizal Lisa

Semua penjahat di kota Semarang pasti mengenal kegarangan perwira satu ini. Dia adalah AKP Faizal Lisa. Polisi gondrong era tahun 1980 – 2001 ini disegani dan ditakuti pelaku kejahatan, baik penjahat luar daerah maupun lokal Semarangan.

Saat ini menjabat sebagai Kanit Intel Polsek Tugu Polrestabes Semarang. Karir kepolisian Faizal berawal saat dirinya masuk bintara pada tahun 1986, dari Polres Kendal dan memulai karier di Poltabes Semarang ditempatkan di unit Kriminal Umum (Krimum).

Kasus perampokan yang pernah ditumpasnya adalah kasus buntut lima dan Siangan (spesialis rumah kosong) sempat merajalela dengan pelaku utama Arnold Batak yang beranggotakan 27 orang.

2. Aiptu Heri Kusuma Jaya alias Heri Gondrong

Polisi Heri Gondrong begitu dikenal oleh masyarakat Sumatera Selatan, khususnya Palembang. Pria yang kerap disapa Katim Heri Gondrong ini pernah menyamar menjadi seorang ibu-ibu untuk menangkap pencopet di Pasar 16 Ilir Palembang.

Katim Opsnal Unit I Subdit III Jarantas Ditreskrimum Polda Sumsel ini dikenal garang ketika melakukan penertiban maupun operasi masyarakat (pekat) di kota Palembang. Katim Heri pun kerap dijadikan “ikon” tim Jatanras pun menjadi sosok yang paling menjadi perhatian.

Gayanya khas ketika melakukan interaksi, sosialisasi maupun penindakan terhadap pelaku kejahatan jalanan pun menjadi daya tarik tersendiri. Katim Heri menjelaskan, dalam menindak dan memperlakukan pelaku kejahatan, harus berdasar kepada persoalan hukum, yakni melihat terlebih dahulu tindak pidana yang dilakukan pelaku.

Pedoman pada Standar Operasional Prosedur (SOP) saat penangkapan pelaku kejahatan yang dimaksud Kapolda, kata Katim Heri, ada tiga unsur yakni yuridis, teknis dan etis.

3. Jacklyn Choppers, Anggota Satuan Jatanras Polda Metro Jaya

Anggota Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya ini sering menjadi sorotan warganet. Nama aslinya adalah Aiptu Jakaria. Penampilannya yang nyentrik dan mengenakan kaus berwarna hitam dengan desain berciri khas kaus seorang rocker, serta rambutnya panjang terurai menjadi ciri khas Jacklyn dalam menumpas kejahatan di Jakarta dan sekitarnya.

Selain itu, Jacklyn Choppers memang kerap bikin vlog atau video di akun Youtube pribadinya. Salah satu tujuannya sebenarnya adalah untuk dokumentasi pribadi dan dokumentasi unit dua Jatanras Polda Metro Jaya.

Jacklyn pun dikenal sosok polisi yang ditakuti preman bengis John Kei. Sebab sudah 2 kali dirinya menangkap preman yang ditakuti masyarakat tersebut.

4. Aiptu Titok Ambar Pramono Satreskim Polres Brebes

Berbadan gempal dan berambut gondrong, membuat Aiptu Titok elalu mencuri perhatian. Di balik badan gemuknya, ternyata anggota Satreskrim Polres Brebes ini lincah saat menangkap seorang penjahat. Sudah tak terhitung kasus-kasus kriminal yang dia ungkap. Mulai dari pencurian, penganiayaan, perampokan, begal, hingga pembunuhan.

Anggota Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Resor (Polres) Brebes itu bernama Aiptu Titok Ambar Pramono.

Lantaran prestasi yang ditorehkannya mengungkap ratusan kasus kejahatan setiap tahunnya, pria kelahiran Prambanan, Yogyakarta, 40 tahun lalu itu, baru saja dipromosikan menjadi Kepala unit (Kanit) 1 Satreskrim Polres Brebes oleh Kapolres Brebes, AKBP Aris Supriyono.

Selama 19 tahun bertugas, Titok hampir selalu ikut turun ke lapangan memburu penjahat yang menjadi target sasarannya. Ia tak segan-segan menindak tegas hingga instruksi tembak di tempat sesuai SOP bila penjahat melawan petugas.Aiptu

5. Ibnul Gondrong Lubuklinggau

Di wilayah hukum Polsek Lubuklinggau Barat ada satu sosok ‘icon’ yang namanya viral dan cukup membuat para pelaku kejahatan ciut di wilayah itu kalau mendengarnya. Yakni sosok Aiptu Ibnul Suprianto alias Ibnul Gondrong. Saat ini dirinya menjabat Kanit Intel Polsek Lubuklinggau Barat.

Nama dan wajah Ibnul Gondrong yang acapkali tampil di medsos dan koran-koran menjadi momok tersendiri bagi para pelaku kejahatan untuk berpikir dua kali dalam melakukan aksi. “Bahkan ada pelaku yang menyerahkan diri karena takut ditangkap,” kata Ibnul.

Disamping melaksanakan tugas dengan penindakan, langkah dan inovasi yang dilakukan Ibnul Gondrong bersama Tim Gaspol, acapkali membuat video pendek berupa imbauan di medsos. Konten video itu berisi sejumlah tema mengenai hoaks, parkir, pungli, pemerasan dan suap.

 

6. Irjen Arman Depari

Untuk jenderal polisi satu ini pasti sudah tak asing di telinga masyarakat Indonesia. Dia adalah Irjen Arman Depari, polisi berambut gondrong yang membuat ciut nyali para bandar hingga pengedar narkoba.

Saat ini, Irjen Arman berdinas sebagai Deputi Bidang Pemberantasan BNN. Asal tahu saja, para pengedar barang haram yang ditangkap BNN itu, sampai tak berkutik setelah tangannya diborgol dan wajahnya disorot kamera awak media.

Sang Jenderal pernah menduduki posisi sebagai Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya hingga di Mabes Polri. Selain itu, ia juga sempat menjabat sebagai Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri.

Sebelum fokus di bidang pemberantasan narkoba, Irjen Arman Depari ternyata pernah juga menjadi Kadensus 88 Polda Sumatera Utara. Arman juga pernah turut membantu dan memberikan informasi hasil penyelidikan tim Ditserse Polda Metro Jaya dalam pengungkapan kasus terorisme.

Kala itu, kasus terorisme yang dimaksud yakni, yakni kasus bom Bali I, untuk menangkap Imam Samudra. Sebelum bertugas di BNN, Arman Depari sempat menjadi Kapolda Kepulauan Riau selama kurang lebih dua tahun. Barulah pada 2016, Jenderal garang ini menjadi Deputi Pemberantasan BNN.

Pria kelahiran Karo, Sumatera Utara, 1 Agustus 1962 ini, menghabiskan masa kecil dan remajanya hingga bangku SMA di Berastagi. Setelah lulus SMA, ia kemudian mencoba peruntungan masuk ke Akpol. Ia pun termasuk, lulusan Akpol tahun 1985. []

You may also like...

Leave a Reply