Jangan Diremehkan, Begini Keunggulan Pekerja Migran

Prime Banner

Mengadu nasib di negeri orang bukan barang baru di zaman modern. Di Tanah Air, istilah yang populer digunakan adalah tenaga kerja Indonesia. Namun, sesuai regulasi terbaru, istilah yang sebaiknya digunakan adalah pekerja migran Indonesia.

Tak dipungkiri, pekerja migran ini kerap kali dianggap rendahan dan tak punya kapasitas memadai. Tapi, tunggu dulu. Coba deh baca alasan di bawah ini kenapa kamu sebaiknya tak meremehkan pekerjaan mereka.

 

  1. Mereka mendapatkan pekerjaan berbayar

Mendapatkan pekerjaan berbayar adalah tujuan utama pekerja migran mengadu nasib di luar negeri. Sebelum berangkat, mereka pun menandatangani kontrak kerja yang telah dilegalisasi oleh pemerintah (melalui kedutaan besar) maupun perusahaan atau majikan.

Mereka akan mendapatkan gaji serta berbagai tunjangan sesuai kontrak yang disepakati.

 

  1. Penghasilan yang didapatkan lebih tinggi

Penghasilan yang lebih tinggi adalah salah satu daya tarik pencari kerja untuk mencari mata penghasilan di luar negeri.

Pekerjaan pelayan rumah tangga di Indonesia biasanya digaji sekitar kurang Rp2 juta per bulan, sedangkan di Taiwan atau Hong Kong mereka akan mendapatkan rerata Rp8 juta per bulan. Walau harus diakui biaya hidup di sana juga tinggi.

 

  1. Keterampilan dan pengalaman akan lebih kaya

Bekerja di luar negeri akan mengembangkan keterampilan dan pengalaman sang pekerja. Mereka beradaptasi dengan teknologi, adat istiadat maupun aturan yang berlaku di negara penempatan.

Ini adalah poin plus yang gak dimiliki oleh mereka yang bekerja di dalam negeri.

 

  1. Beban keuangan rumah tangga akan lebih ringan

Tak dipungkiri, pekerja migran Indonesia masih didominasi oleh sektor informal seperti perawat orang sakit maupun pelayan rumah tangga. Mereka berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Dengan bekerja di luar negeri, secara otomatis akan meringankan beban ekonomi rumah tangga mereka.

 

  1. Remitansi bermanfaat untuk jangka panjang

Inilah alasan kenapa pekerja migran disebut sebagai pahlawan devisa. Kiriman uang dari pekerja asing ke negara asalnya menjadi salah satu arus keuangan terbesar khususnya di negara-negara berkembang.

Dilansir dari laman BNP2TKI, remitansi pekerja migran pada tahun 2017 sampai bulan November mencapai Rp108 triliun. Coba tebak, jumlah tersebut setara berapa persen dari APBN RI?

Melalui penghasilan yang diterima pekerja migran, mereka berhasil menyekolahkan anak-anaknya, mengangkat derajat finansial keluarga, berinvestasi hingga berwirausaha. Keren kan?

 

  1. Risiko yang dihadapi juga tidak mudah

Bekerja di luar negeri pun kaya risiko. Pernah mendengar kasus kematian Adelina Lisou dari Nusa Tenggara Timur? Atau, yang terbaru Tuti Tursilawati, seorang pekerja yang dihukum pancung di Arab Saudi tanpa pemberitahuan?

Itu adalah secuil risiko bekerja ke luar negeri. Tapi, jangan khawatir sebab pemerintah Indonesia tak tinggal diam melihat kasus-kasus tersebut.

 

  1. Mereka juga kepalang rindu dengan keluarga

Menahan rindu kepada keluarga seakan menjadi rutinitas sampingan selain bekerja secara profesional. Mereka terpisah jarak ribuan kilometer untuk mengais rezeki di negeri orang.

Kalau kamu sekadar LDR-an dengan pacar seperti Jakarta-Surabaya, mereka sudah tahan dengan beratnya rindu kepada keluarga. Maaf nih, Dilan saja kalah.

 

  1. Mereka juga mampu bekerja secara profesional

Ada banyak tahapan sebelum seseorang berangkat bekerja ke luar negeri. Bagi pekerja sektor domestik, mereka mendapatkan pelatihan sesuai bidangnya demi memperoleh sertifikasi kompetensi dari pemerintah. Sedangkan, bagi pekerja di pabrik maupun perusahaan, mereka dilatih sesuai jenis jabatannya.

 

Khusus di negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan, umumnya mereka mensyaratkan pengalaman kerja dan atau pendidikan yang sesuai dengan jabatan yang dilamar.

Kalau sudah baca alasan di atas, yakin masih mau memandang sebelah mata pekerjaan mereka? [Defina Sukma]

You may also like...