October 27, 2020

Portal Berita Pekerja Migran Indonesia

Lembaga Internasional Soroti Sikap WNI yang Cenderung Salahkan WNA Dibelakang Parahnya Pandemi Corona

2 min read
Prime Banner

JAKARTA – Virus corona ternyata mendorong diskriminasi terhadap kelompok tertentu di Asia, termasuk migran dan warga asing. Hal ini diungkapkan oleh Federasi Internasional Komunitas Palang Merah dan Bulan Sabit Merah pada Selasa (15/09/2020).

Dilansir dari Reuters, badan kemanusiaan itu telah menyurvei 5 ribu orang di Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan Pakistan. Hasilnya, sekitar setengahnya menyalahkan kelompok tertentu yang menyebarkan virus corona. Banyak di antaranya menyebut orang China, imigran, dan warga negara asing.

“Hal ini meresahkan. Baik pekerja migran nasional maupun pekerja asing disalahkan atas penyebaran COVID-19 karena mereka cukup berisiko,” ujar Dr Viviane Fluck, salah satu peneliti utama sekaligus koordinator keterlibatan dan akuntabilitas Asia Pasifik dari badan tersebut.

Menurutnya, harus ada fokus lebih dalam memerangi rumor soal dinamika kekuasaan yang mendasar dan masalah ketimpangan struktural.

Lebih dari separuh warga Indonesia yang disurvei menyalahkan warga asing dan para pelanggar protokol kesehatan. Sementara itu, bagi warga Myanmar, kelompok yang paling banyak dianggap bertanggung jawab adalah orang-orang dari China dan orang asing lainnya.

Advertisement

Di Malaysia, dua pertiga partisipan menyalahkan ‘kelompok tertentu’. Mereka paling sering menyebut migran, turis asing, dan ‘orang asing ilegal’.

Otoritas Malaysia pun telah menangkap ratusan migran tak berdokumen dan para pengungsi pada bulan Mei. Tindakan keras mereka, menurut PBB, dapat menyebabkan kelompok terpinggirkan itu bersembunyi dan tak mencari pengobatan. Polisi saat itu berdalih operasi tersebut ditujukan untuk mencegah orang bepergian di tengah pembatasan pergerakan.

Sementara itu, di Pakistan, kebanyakan orang yang disurvei menyalahkan kontrol pemerintah yang tidak memadai di perbatasan China. Kemudian, mereka menyalah para peziarah yang kembali dari Iran dan orang-orang dari China.

Di keempat negara itu, pendidikan tinggi berdampak kecil pada responden yang menyalahkan kelompok tertentu. Lulusan universitas juga banyak mendiskriminasi, meski sedikit lebih kecil kemungkinannya. []