Luar Biasa, Kecelakaan Kerja, Kehilangan Tangan Kanan, Mantan PMI Asal Ponorogo Tetap Bertanggung Jawab Menafkahi Keluarga

Prime Banner

PONOROGO – Mimpi memperbaiki taraf hidup menjadi sejahtera dengan mengumpulkan setumpuk modal dari negara penempatan, tentu menjadi impian bagi setiap pekerja migran Indonesia. Namun, seringkali mimpi tidak selalu sepadan dengan kenyataan. Mulai dari salah kelola, terkena PHK sepihak, hingga kecelakaan kerja, menjadi sederet catatan yang disebut menyebabkan gagalnya impian pekerja migran.

Seperti yang dialami oleh Slamet Riyadi (68) warga Desa Kunti Kecamataan Bungkal Kabupaten Ponorogo ini. Menjadi pekerja mmigran Indonesia (PMI) di Malaysia, justru menyisakan pengalaman kelam bagi Slamet Riyadi. Betapa tidak, karena kecelakaan kerja, dia justru kehilangan bagian tangan kanannya.

Slamet masih ingat betul bagaimana kecelakaan kerja yang menimpanya tahun 2004 silam lalu itu di Malaysia. Waktu itu, ia sedang mengerjakan proyek di lantai tiga. Tiba-tiba ia terjatuh dan sebuah balok beton penyangga lantai itu roboh menimpa tangan kanannya.

Saat itu juga, ia langsung dilarikan ke salah satu rumah sakit. Karena tulang tangan kanannya remuk, dokter mengambil tindakan amputasi. Langkah dokter itu terpaksa ia terima.

“Setelah kondisi saya sehat, saya memutuskan pulang ke Indonesia,” kata Slamet ditemui di arel persawahan di desanya di sela pekerjannya memanggul padi.

Memang, semenjak pulang ke kampung halamannya, Slamet memutuskan untuk kembali bekerja jadi buruh tani. Meskipun dengan kondisi terbatas dan tidak seperti buruh tani lainnya, ia tetap semangat demi menghidupi keluarganya.

Bila dilihat, saat bekerja, tumpukan padi diraihnya menggunakan tangan kiri. Kemudian, tumpukan padi diletakkan di pundak kirinya sembari tangan kirinya memegang erat tumpukan padi tersebut. Pelan-pelan, Slamet meletakan padi ke dekat mesin penggilingan.

“Yang penting sehat, tetap semangat bekerja,” tambah Slamet.

Menurutnya, keterbatasan hanya bekerja dengan satu tangan tidak lantas membuat Slamet Riyadi merasa rendah diri. Justru dari kekurangan itulah terus memompa semangat untuk bekerja.

“Apalagi saya tulang punggung keluarga. Saya menghidupi dua anak dan istri saya,” ungkapnya.

Slamet kembali bercerita, sepulang dari Malaysia, ia sempat putus asa lantaran tidak dapat bekerja kembali menjadi tukang bangunan. Namun keluarga dan teman-temannya terus memberikan motivasi. Belum lagi kedua anaknya yang membutuhkan biaya pendidikan.

Sejak itulah, Slamet memutuskan menjadi buruh tani menggarap sawah orang lain. Pekerjaan yang ia jalani seperti mencangkul, menanam padi dan mengurus sawah.

Bahkan dengan hasil jerih payahnya itu, ia mampu menyekolahkan anaknya hingga di bangku perguruan tinggi.

“Selagi saya masih bisa dan sehat. Anak saya harus sekolah setinggi-tingginya, agar nasibnya tidak seperti saya,” pungkasnya. [Sumber Jatim Now]

You may also like...