Martabak “Cak Ruslan” Surabaya yang Merantau di Semenanjung Malaka

Prime Banner

JOHOR BAHRU – Saat masih berada di kampung halaman sendiri, kawasan Kupang Panjaan Surabaya sampai dengan tahun 2006, perkembangan ekonomi Muhammad Ruslan terbilang berjalan ditempat. Upah dari bekerja menjadi petugas keamanan (satpam) di sebuah PPTKIS hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan saja. Terdesak oleh keadaan, Ruslan yang saat itu harus menanggung beban ekonomi orang tua berikut dua orang adiknya terpaksa harus memutar otak agar bisa mendapatkan penghasilan tambahan diluar upahnya dia sebagai satpam.

Beruntung, tempatnya bekerja membukakan akses bagi Ruslan untuk mendapatkan pekerjaan di Negeri Jiran, Malaysia menjadi buruh pabrik elektronika di kawasan Johor Bahru Malaysia tahun 2007.

Dua tahun Ruslan menjadi buruh pabrik, meskipun penghasilannya terbilang lumayan dan cukup untuk menopang kebutuhan keluarganya di rumah, Ruslan mulai berpikir untuk membuka usaha kuliner di sore hari memanfaatkan waktu luangnya.

Pengetahuan Ruslan tentang martabak Surabaya yang dia warisi dari lingkungan keluarga, menjadi inspirasi bagi Ruslan untuk mewujudkan keinginannya memiliki usaha kuliner sebagai sumber penghasilan tambahan.

Tahun 2011, Ruslan mengawali usahanya tanpa memiliki gerai seperti saat ini. Ruslan mengawali dengan membuat martabak di rumah kontrakannya kemudian dia pasarkan kepada teman-teman dan berkembang lagi dia titipkan di beberapa gerai penjaja makanan.

Melihat hasilnya semakin berkembang, setelah merasa siap dan memenuhi persyaratan baik permodalan maupun administratif di Malaysia untuk membuka usaha, tahun 2013, Ruslan usai menikahi seorang PMI asal Demak Jawa Tengah memberanikan diri meninggalkan pabrik tempatnya bekerja untuk membuka gerai martabak di tepiah jalan raya kawasan Stadion Pasir Gudang Johor Bahru Malaysia.

Dengan modal awal sebesar RM 4.000 saat itu, Ruslan bersama istrinya memulai menjalankan usaha Martabak Surabaya dengan brand Cak Ruslan. Dibantu dengan istrinya yang masih belum meninggalkan pabrik, Ruslan mulai merasakan cerahnya prospek usaha kuliner yang dia jalankan.

Setahun berjalan, Istri Ruslan menyusulnya untuk meninggalkan pabrik kemudian total membesarkan usaha mandiri milik mereka. Bahkan, tak hanya itu, tiga orang karyawan pada tahun 2015, direkrut oleh Ruslan, dimana seluruhnya merupakan PMI.

Kini, dengan memiliki dua gerai yang masing-masing berada di Kawasan Stadion Pasir Gudang dan Kawasan Lebuh raya, Johor Bahru Malaysia, setiap bulan Ruslan mampu mengantongi laba bersih rata-rata RM. 30 ribu dari kedua gerainya yang beroperasi mulai jam 17 hingga jam 23 waktu setempat.

Sejak tahun 2018, Ruslan memiliki enam orang karyawan untuk dua gerai, dimana masing-masing gerai dikendalikan oleh dirinya dan satu gerai lagi dikendalikan oleh istrinya saat beroperasi.

“Saya ingin buka cabang lagi, Johor Bahru kan luas. Nanti adik saya sedang saya persiapkan untuk itu” aku bapak dua anak kepada Koresponden Hari, Koresponden ApakabarOnline.com di Malaysia.

Ruslan merupakan satu dari sederet nama PMI di Semenanjung Malaka yang sukses memiliki usaha mandiri di perantauan. Berbekal modal awal RM 4.000 dengan keuntungan bersih rata-rata RM 6 ribu setiap bulan, kini dengan omset usaha sebesar RP 80 ribu, setiap bulan Ruslan memiliki laba bersih sebesar RM 30-an ribu. Lumayan bukan ? [Asa]

You may also like...