Masih Mendominasi Perceraian, Tahun Ini Ada 1.633 Janda di Ponorogo yang Didominasi PMI

Prime Banner

PONOROGO – Pengadialan Agama Ponorogo (PA) mencatat angka perceraian hingga September 2019 mencapai 1.633 kasus. Perceraian tersebut dilatar belakangi masalah ekonomi selain karena perselingkuhan.

Humas PA Ponorogo Misnan Maulana menyebutkan, PA Ponorogo mencatat hingga September 2019, terdapat 1.777 perkara pernikahan dengan 1.633 merupakan perceraian. Dari angka perceraian itu sebanyak 1.162 cerai gugat diajukan istri. Sedangkan sebanyak 471 perkara cerai talak diajukan suami.

“Cerai kebanyakan diajukan para pekerja migran yang awalnya terimpit masalah ekonomi. Kemudian merasa mampu menghidupi diri sendiri,” katanya.

Misnan menerangkan, kasus perceraian yang disebabkan perselingkuhan tertinggi kedua. Sebab kasus selingkuh juga dilakukan kedua pihak, baik suami maupun istri.

“Terlebih untuk pasangan suami istri, yang salah satunya bekerja di luar negeri menjadi pekerja migran,” terangnya, Kamis (10/10/2019).

Misnan menyebut pasangan suami istri yang mengajukan cerai dengan latar belakang pekerja migran mencapai 80 persen. Sedangkan 20 persen sisanya berprofesi sebagai PNS maupun umum. Namun untuk PNS dilatar belakangi perselingkuhan.

Diterangkan Misnan, gugatan cerai yang diajukan istri kepada suami tergolong tinggi. Bahkan setiap bulannya rata-rata bisa mencapau ratusan. “Untuk kasus talak suami terhadap istri sampai dengan bulan September 2019 ini hanya sepertiganya,” jelas Misnan.

Padahal banyak diantara para pekerja migran ini sudah mempunyai anak dan telah bertahun-tahun membangun rumah tangga.

Pihak PA mengimbau kepada calon pekerja migran untuk membangun komitmen rumah tangga untuk tidak bercerai. “Bila perlu melibatkan tokoh masyarakat seperti keluarga, lurah atau tokoh masyarakat untuk tidak bercerai meski masalah ekonomi sudah teratasi,” jelasnya. []

You may also like...

Leave a Reply