• Uncategorized

Meletus Setinggi 6 Ribu Meter, Warga Merapi Trauma Dengan Letusan 2010

Prime Banner

YOGYAKARTA – Gunung Merapi telah mengalami letusan freatik sebanyak delapan kali sejak 11 Mei 2018. Dari delapan itu, letusan freatik yang terjadi pada Kamis dinihari, 24 Mei 2018, paling tinggi asap letusannya.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mencatat asap letusan yang terjadi pukul 02.56 WIB tadi dinihari mencapai 6.000 meter. Akibatnya, lebih dari 10 wilayah di Kabupaten Magelang terkena hujan abu. “Memang asap letusan paling tinggi,” kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida di kantornya Kamis 24 Mei 2018.

Akibat letusan tersebut, Warga di sekitar Gunung Merapi masih trauma karena peristiwa letusan di sana. Letusan Merapi terjadi dua kali pada Kamis (24/5/2018) pukul 02.56 dan pukul 10.48 WIB.

Letusan itu membuat warga sekitar lereng Merapi di dusun Gondang, Pakem masih terus waspada dengan meningkatkan kesiapsiaganya. Mereka masih berada di dalam rumah masing-masing sembari menunggu informasi lebih lanjut dari pemerintah.

“Sementara ya masih di rumah, ngga tahu nanti kalau terjadi lagi,” ujar Kistyawati

http://apakabaronline.com/merapi-meletus-lagi-fase-magmatik-dimulai/

Hal Senada juga disampaikan oleh Wanto, perempuan yang sehari-harinya berjualan berbagai minuman di area Merapi. Dia mengatakan sampai detik ini belum nampak puncak merapi. Puncak masih tertutup asap tebal. Rumahnya berjarak sekitar 7 km dari puncak.

Dia was-was setiap mendengar letusan. Sebab ia masih mengingat erupsi merapi yang pernah pernah terjadi di tahun 2010.

“Mlayu-mlayu karena perlu evakuasi, jadi harus siap siaga,” ujarnya.

Wanto sempat menunjukan rumah yang pernah ditempati. Namun kini sudah rata dengan tanah. Hanya tersisa pondasi rumah.

Pondasi itulah yang menandai kisah kelam Gunung Merapi 2010. Kini ia merasa trauma ketika mendengar gemuruh Merapi.

“Saya trauma mas, 2010 sampai ke rumah saya, ini habis e mas. Itu pondasinya masih. Itu kan bekas rumah saya mas,” Terangnya dengan mata berkaca-kaca. (Somad).

Sementara itu, warga Umbulharjo, Cangkringan, Sleman sempat khawatir ketika letusan Gunung Merapi mengeluarkan awan fijar merah pada pukul 02.58 kemudian letusan kedua pada pukul 10.48 WIB.

Sriyono selaku Kepala bidang Pemerintahan Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman menyatakan saat ini warganya memang berada di rumah masing-masing serta melakukan aktivitas seperti biasa.

“Warga masih di rumah masing-masing mas sekarang, ” ujar Sriyono.

Ia mengatakan memang warga sempat keluar rumah lalu mengatur sepeda motornya mengarah ke jalan umum untuk persiapan evakuasi. Setelah dirasa kondisi kondusif warga kembali beraktifitas.

“Warga sempat keluar rumah lalu mengatur motornya mengarah jalan turun setelah kondusif beraktifitas seperti biasa” ungkapnya.

Ia menyarankan kepada warga masyarakat ketika terjadi letusan atau merada kurang nyaman berada di rumah warga diminta untuk dapat menggunakan balai desa sebagai tempat pengungsian.

“Malam hari ada warga yang tidak nyaman di rumah bisa ke dibalai desa” kata Sriyono. [Net]

You may also like...